Anak-anak pengungsi Rohingya beristirahat di penampungan sementara di Desa Punteut village, Aceh Utara, Jumat (26/6). | EPA/HOTLI SIMANJUNTAK
08 Jul 2020, 05:28 WIB

Memanusiakan Pengungsi Rohingya 

Para pengungsi Rohingya harus diberikan pendampingan dari sisi kesehatan.

OLEH FERGI NADIRA, ZAHROTUL OKTAVIANI 

Para pengungsi Rohingya yang diselamatkan warga Aceh di Laut Aceh Utara dikabarkan bakal dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Pasalnya, tempat yang kini mereka tinggali sementara, yakni di bekas Kantor Imigrasi Kota Lhokseumawe, sudah sejak lama tak digunakan sehingga semua fasilitas di sana tidak ada yang berfungsi. 

"Mereka bakal dipindahkan ke gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Desa Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh," ujar Direktur Yayasan Geutanyoe yang berbasis di Aceh, Rima Shah Putra, kepada Republika, Senin (29/6). 

Rima menambahkan, para pengungsi Rohingya terdiri atas 1 bayi, 17 anak perempuan, 10 anak lelaki, 53 perempuan, dan 18 lelaki.  Menurut pantauannya, Dinas Kesehatan (Dinkes) kota telah melakukan pemeriksaan kesehatan kepada seluruh pengungsi. 

Terkini

Diberitakan sebelumnya, para pengungsi Rohingya sempat hanya tidur beralaskan tikar di bekas Kantor Imigrasi Lhoseumawe. Pada Ahad (28/6) sore, kasur-kasur kapuk khas Palembang dan bantal didatangkan Yayasan Geutanyoe. 

photo
Pengungsi Rohingya beristirahat di penampungan sementara di Desa Punteut village, Aceh Utara, Jumat (26/6).  - (EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)

Kapal yang membawa para pengungsi Rohingya didapati nelayan terombang-ambing sekitar empat mil laut dari pesisir Pantai Lancok, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, pada Kamis (25/6). Warga dan nelayan setempat yang melihat para pengungsi di atas kapal kemudian jatuh iba dan mendesak kapal itu ditarik ke darat. Mereka menyaksikan banyak anak-anak dan perempuan di kapal yang kondisinya juga sudah rusak tersebut. 

Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kota Lhokseumawe dan juru bicara Satgas pengungsi Rohingya di Aceh, Marzuki, ketika dikonfirmasi Republika mengatakan, pengungsi Rohingya bakal dipindahkan ke BLK Desa Mee Kandang dalam waktu tiga hari ke depan. Menurut dia, tempat yang kini ditempati para pengungsi masih kurang layak ditempati para pengungsi.

"Tempat yang baru, mulai disiapkan sejak tadi pagi dan telah capai 70 persen," ujar Marzuki, kemarin. Dia menjelaskan, pihaknya bersama beberapa organisasi kemanusiaan telah melakukan kegiatan kebersihan lingkungan gedung BLK agar layak ditinggali para pengungsi.

Petugas juga telah membersihkan bagian dalam gedung dan tengah dilakukan penyambungan jaringan listrik, pembangunan sanitasi, air bersih, serta mandi, cuci, dan kakus (MCK). "Targetnya tiga hari dari sekarang para pengungsi siap dipindahkan," kata dia.

Marzuki mengatakan, penanganan para pengungsi Rohingya di Aceh akan ditanggung oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe dan sejumlah organisasi kemanusiaan. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Badan PBB untuk Pengungsi atau UNHCR terkait waktu tinggal di lokasi pengungsian.

"Waktu mereka menempati gedung BLK belum bisa dipastikan karena sekarang kita fokus penanganan warga etnis Rohingya  untuk ditempatkan ke tempat yang representatif dulu," ujar Marzuki.

photo
Seorang pengungsi Rohingya menunjukkan kartu UNHCR di penampungan sementara Desa Punteut, Aceh Utara. - (EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)

Pelaksana tugas (plt) juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Teuku Faizasyah mengatakan, Badan PBB untuk Urusan Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) telah melaporkan perkembangan penanganan pengungsi Rohingya di Kota Lhokseumawe, Aceh, kepada Kemenlu RI. "Pemda dan melibatkan organisasi kemasyarakatan, termasuk UNHCR, telah memberikan bantuan kemanusiaan," ujar Faiza kepada Republika, Senin (29/6).

Dia mengatakan, pemerintah juga masih terus mendalami dugaan penyelundupan dan perdagangan manusia terkait kedatangan 99 pengungsi Rohingya. Ia menegaskan, penyelundupan manusia adalah kejahatan yang harus dihentikan dan memerlukan kerja sama kawasan dan internasional.

Perjalanan laut yang mengancam jiwa tersebut dipastikan akan terus terjadi sepanjang akar masalah tidak diselesaikan. Bagi Indonesia, upaya menciptakan kondisi kondusif di Rakhine State penting untuk terus dilakukan agar etnis Rohingya dapat kembali secara sukarela, aman, dan bermartabat di rumah mereka. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah organisasi massa Islam mengapresiasi kepedulian warga Aceh yang telah menyelamatkan para pengungsi Rohingya. Langkah itu dinilai sebagai cerminan dari ajaran Islam yang mengajarkan seluruh umatnya untuk saling tolong-menolong terhadap sesama Muslim. 

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan mengajak masyarakat Indonesia bergotong royong memenuhi kebutuhan para pengungsi Rohingya. "Kita berharap betul kebutuhan sehari-hari para pengungsi ini bisa dipenuhi. Apalagi, sekarang dalam kondisi Covid-19," kata Amirsyah kepada Republika, Ahad (28/6). 

Ia mengatakan, pendampingan dan bantuan dari masyarakat serta lembaga kemanusiaan sangat dibutuhkan agar para pengungsi Rohingya melanjutkan hidupnya. Dia pun menyarankan pemerintah untuk ikut memberikan bantuan.

"Kalau usulan saya agak mendasar dan sudah pernah diutarakan. Indonesia punya banyak pulau yang tidak berpenghuni. Alangkah baiknya jika ini dimanfaatkan untuk pengungsi," ujar dia.

Amirsyah mengakui, tak mudah bagi pemerintah untuk menyediakan pulau khusus bagi para pengungsi Rohingya. Sebab, dibutuhkan kebijakan dan koordinasi dari berbagai pemangku kepentingan agar bisa terlaksana dengan baik.

Seruan serupa disampaikan PP Muhammadiyah. Ketua Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah, KH Muhyiddin Junaidi, menyarankan agar Pemerintah Indonesia menyiapkan satu pulau khusus untuk menampung para pengungsi Rohingya. Dia menyebut Pulau Galang di Batam, Riau, bisa menjadi salah satu opsi.

photo
Pengungsi Rohingya mengantri makanan di penampungan sementara di Desa Punteut village, Aceh Utara, Jumat (26/6).  - (EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)

Muhyiddin menambahkan, jika hal tersebut bisa dilakukan, akan menjadi bentuk keterlibatan Indonesia secara langsung dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi Rohingya. Tentunya, kata dia, pulau khusus itu tidak dijadikan sebagai tempat tinggal permanen, tetapi hanya penampungan sementara. 

"Karena atas nama kemanusiaan, kita tidak boleh menutup mata karena ada masalah yang menimpa umat Islam. Mereka tertindas di kampung halamannya," kata Wakil Ketua Umum MUI ini. 

Muhyiddin menyadari, Pemerintah Indonesia sudah berbuat banyak untuk membantu Rohingya. Namun, menurut dia, harus ada lebih banyak langkah agar persoalan terkait Rohingya ini dapat menemukan solusi. Pemerintah juga telah mendukung proses yang sedang berlangsung di dunia internasional terhadap pemimpin Myanmar yang dinilai terlibat genosida.

"Karena, kasus ini adalah kasus kemanusiaan yang sedang dalam sidang gugatan pembantaian Rohingya di Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda. Untuk umat Islam, dan bangsa Indonesia, harus membantu sepenuhnya," tutur dia.

Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis) Ustaz Jeje Zaenudin mengaku terharu dengan tindakan yang diambil warga Aceh bagi para pengungsi Rohingya. Pada dasarnya, kata dia, pertolongan harus dapat dilakukan dengan melihat dari segi aspek kemanusiaan daripada aspek suku bangsa ataupun agama. "Ketika mereka terancam wajib ditolong terlebih dahulu, tidak dilihat dari kebangsaan dan agama mereka," ucap Ustaz Jeje.

Dia meyakini, pemerintah memiliki komitmen untuk membantu pengungsi Rohingya. Apalagi, Indonesia menganut politik luar negeri bebas dan aktif. "Indonesia berperan aktif dalam perdamaian dunia, membebaskan setiap bangsa yang terjajah. Jadi, negara dapat menolong terlebih dahulu," kata Ustaz Jeje.

Bantuan filantropi

Lembaga filantropi terus menyalurkan bantuan kepada para pengungsi Rohingya. Perhatian dan bantuan cepat tanggap salah satunya diberikan Dompet Dhuafa. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh, Nuril Annissa Niswanto, menyatakan, fokus pendampingan dan bantuan diberikan untuk kesehatan dan pangan.

"Kondisi mereka saat ini sudah stabil. Dari pihak berwenang juga sudah melakukan rapid test untuk Covid-19 dan hasilnya sementara non-reactive," ujar Nuril kepada Republika, Senin (29/6).

Para pengungsi ini disebut berada di lautan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya diselamatkan warga Aceh. Oleh karena itu, sangat wajar jika ada beberapa pengungsi yang kondisinya menurun. Namun, semua pengungsi disebut sudah mendapatkan penanganan dan dalam pengawasan.

Dompet Dhuafa Aceh menurunkan tim untuk berjaga di lokasi sembari bekerja sama dengan relawan lainnya. Dia mengatakan, Dompet Dhuafa membagikan makanan berupa nasi bungkus pada pagi dan siang hari serta makanan ringan berupa bubur kacang hijau.

photo
Pengungsi Rohingya makan siang di penampungan sementara di Desa Punteut village, Aceh Utara, Jumat (26/6).  - (EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)

Selain itu, para pengungsi juga diberikan pendampingan dari sisi kesehatan. Kondisi mereka diawasi dan diperhatikan dengan sebaik mungkin. "Kemarin malam sempat ada yang demam, kita periksa. Di sana ada tim yang profesinya perawat dan relawan berprofesi sebagai dokter," katanya.

Dalam kondisi di tengah pandemi Covid-19, pemantauan dan pengawasan kesehatan menjadi sangat penting. Apa pun temuan yang didapat, akan dilaporkan ke dinas kesehatan setempat. Kolaborasi antara Dompet Dhuafa, pemerintah setempat, dan lembaga kemanusiaan lainnya terus dilakukan. Dinas kesehatan akan menyediakan tenaga kesehatan, sementara Dompet Dhuafa akan menyuplai obat-obatan yang diperlukan.

Kepala Cabang ACT Lhokseumawe Thariq Farline mengatakan, pihaknya memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak tersebut yang bertujuan agar mereka lebih terhibur dan tidak merasa tertekan.

Sehari setelah diselamatkan, ACT melihat anak-anak pengungsi Rohingya tidak memiliki aktivitas. Apalagi, kondisi mental mereka pasti akan terganggu karena berada di atas laut dalam jangka waktu yang lama. 

Bekerja sama dengan tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) setempat, ACT mulai menjalankan pendampingan psikososial sejak Ahad (28/6). Beberapa kegiatan yang dibuat adalah belajar mengaji, permainan ringan, serta belajar menghitung.

"Kegiatan-kegiatan ringan kita buat, tujuannya untuk membuat mereka rileks, santai, nyaman. Kita ingin mereka merasakan bagaimana kehidupan anak-anak pada umumnya, tanpa tekanan atau stres," kata Thariq. 


×