Ilustrasi daging kurban sapi dan kambing yang disembelih pada tahun lalu. | ANTARA FOTO
24 Jun 2020, 12:27 WIB

Tiga Hal Terkait Ibadah Kurban di Tengah Pandemi

Olahan abon, seperti yang direncanakan IZI dan Solopeduli menjadi program ibadah kurban di tengah pandemi covid-19.

 

Pandemi Covid-19 telah membatasi gerak semua orang, termasuk umat Islam. Pada Ramadhan dan Syawal, Muslim terpaksa harus membatasi ibadah. Yang biasanya dilaksanakan secara berjamaah seperti di masjid, menjadi kelompok kecil di rumah. Hal sama juga akan terjadi pada hari raya kurban yang jatuh pada akhir Juli tahun ini.

Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Nanung Danar Dono menjelaskan, ada tiga hal yang harus diperhatikan umat Islam terkait penyelenggaraan ibadah kurban di masa pandemi Covid-19. Tujuannya agar mempersempit ruang penyebaran virus tersebut, sehingga meminimalisasi munculnya cluster baru.

Pertama yang paling aman adalah tidak menggelar penyembelihan hewan kurban di masjid. Daging hewan kurban disalurkan ke berbagai pelosok desa yang lebih membutuhkan. "Namun, tentu ini akan membuat banyak pihak kecewa karena nikmatnya ibadah kurban itu ketika beramai-ramai hadir di masjid untuk menyembelih sapi dan kambing, lalu membagikan daging itu ke masyarakat," ujar Nanung.

Terkait

Kedua, penyembelihan dilangsungkan di rumah pemotongan hewan (RPH) resmi. Usai penyembelihan, daging dan tulang dipotong di sekitar masjid dengan menerapkan protokol Covid-19. Namun, ini agak sulit diterapkan karena kemampuan RPH tentu sangat terbatas. Kalau penyembelihan hewan kurban dipusatkan di RPH maka tidak akan sanggup karena keterbatasan sarana dan SDM.

Ketiga, semua kegiatan mulai penyembelihan, pemotongan daging dan tulang sampai pengemasan dilaksanakan di area masjid. Meski begitu, ia mengingatkan, ini berisiko tinggi karena kesadaran warga menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 masih rendah. Ada saja warga yang tidak mengenakan masker, menjaga jarak aman dan mencuci tangan dengan sabun.

"Maka, takmir harus membuat aturan khusus. Misal, jumlah panitia kurban dibatasi, jumlah hewan kurban dibatasi, anak-anak, lansia dan warga yang sakit tidak boleh hadir di masjid," kata pengurus Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia wilayah Yogyakarta tersebut.

Semua yang hadir tidak merokok selama kegiatan berlangsung. Kemudian, acara seperti makan siang atau masak-masak di lokasi penyembelihan setelah proses pemotongan oleh panitia kurban disarankan ditiadakan saja.

Pihaknya menyadari, ada yang kecewa karena tidak bisa menikmati ibadah kurban seperti biasanya. Namun, semua harus ikhlas dengan kondisi pandemi ini mengingat yang terkena imbas adalah semua orang di seluruh dunia.

"Ikhlaskan ibadah kurban kita tahun ini tidak bisa maksimal. Masih ada tahun depan yang insya Allah akan jauh lebih baik. Lebih baik bahagia karena diri terjaga, daripada terinfeksi karena tidak berhati-hati," ujar Nanung.

 

Daging olahan

photo
Ilustrasi olahan abon yang berasal dari daging kurban untuk didistribusikan kepada masyarakat. - (Aloysius Jarot Nugroho)

Alternatif lain penyembelihan hewan kurban dihadirkan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI). Di tengah pandemi Covid-19 dan tingginya antusias masyarakat untuk tetap beribadah kurban, lembaga amil zakat nasional tersebut mempersiapkan produk olahan kurban yang nantinya akan didistribusikan kepada penerima manfaat yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia. Mereka adalah masyarakat yang berada di daerah tertinggal dan membutuhkan motivasi dan dukungan materi agar tetap menjaga keimanan, keberlangsungan hidup, kesejahteraan, dan setia kepada NKRI.

IZI memilih produk olahan kurban berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia bernomor 37 tahun 2019, tentang Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban dalam Bentuk Olahan. Sebab hal tersebut lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Ketua Qurban Inisiatif Zakat Indonesia tahun 2020 Muhammad Ardhani memastikan, daging olahan tadi akan didistribusikan secara merata hingga ke wilayah terdalam Indonesia.

 

 

Tim kami akan terjun ke wilayah pedalaman untuk menyampaikan amanah dan empati masyarakat di Tanah Air.

 

MUHAMMAD ARDHANI, Ketua Qurban Inisiatif Zakat Indonesia tahun 2020
 

 

Produk berbentuk abon yang dikemas dalam kaleng menjadi pilihan utama. Alasannya lebih tahan lama dan praktis. Hal ini sebagaimana hasil survei yang dilakukan Tim Qurban IZI tahun 2020 yang melibatkan sampel melalui para mustahik binaan mereka. Ardhani merangkum secara keseluruhan bahwa produk olahan abon adalah pilihan yang tidak akan mereka sia-siakan.

“Dalam pandangan mustahik kami, lidah orang Indonesia terbiasa dengan cita rasa abon. Produk ini sangat pas untuk kami angkat agar kemanfaatannya dapat dirasakan langsung oleh para penerima manfaat kita yang tengah menghadapi dampak akibat wabah Covid-19,” terangnya.

General Manager IZI bidang Edukasi dan Kemitraan Zakat itu juga menjelaskan banyaknya manfaat yang dihasilkan dari produk abon ini. Di antaranya adalah nilai gizi yang terkandung dari abon dapat meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Di samping itu, abon memiliki tingkat keawetan hingga 6 (enam) bulan lamanya.

Proses pembuatan Abon IZI dikerjakan oleh mitra mereka yang berada di kota Makassar. Ia merinci alur produksi Abon IZI yang dinilainya aman, sesuai protokol pencegahan penularan virus corona.

“Pemotongan akan dilakukan secara bersih sesuai syariat dan protokol kesehatan yang berlaku mulai dari hari raya idul adha hingga hari tasyrik. Kemudian bagian terbaik dari sapi, yaitu dagingnya, akan diproses menjadi abon selama 2 pekan. Terakhir, pendistribusian dilakukan maksimal selama 30 hari ke depan karena akan menjangkau daerah terpencil dan 16 kantor cabang kami,” jelasnya lagi.

Dengan demikian, Ardhani menjamin higienitas Abon IZI ini mulai dari proses pemotongan hingga menjadi produk akhir, “di mana pengolahannya terpusat di beberapa tempat yang dijamin kebersihannya serta profesional, sekaligus minimnya interaksi menjadikan social distancing dapat terlaksana,” tutupnya.

 

Abon sebagai inovasi Solopeduli

Setiap tahun, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Solopeduli membuka layanan kurban pada Hari Raya Idul Adha bagi donatur yang ingin berkurban dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Bedanya, tahun ini Solopeduli berinovasi dengan membuat olahan hewan kurban sapi menjadi abon.

Inovasi tersebut muncul untuk memudahkan dalam pengadaan dan penyembelihan hewan kurban serta memudahkan dalam penyaluran dengan menerapkan jaga jarak di masa pandemi Covid-19.

Direktur Utama Solopeduli, Sidik Anshori, mengatakan, tahun ini Solopeduli menargetkan bisa mendapatkan 3.450 sohibul kurban. Angka tersebut diharapkan bisa terpenuhi untuk disalurkan ke wilayah pelosok dan minus ekonomi terutama di wilayah Jawa Tengah.

Dia memaparkan, tahun ini Solopeduli mengoptimalkan kurban sapi menjadi olahan abon. Sedang sisa olahan abon akan tetap didistribusikan untuk masyarakat yang membutuhkan atau kaum dhuafa. Sedangkan untuk kulit hewan kurban akan dijual dan hasil dari penjualan akan dibelikan daging untuk kembali disalurkan untuk masyarakat yang membutuhkan.

"Budaya orang Indonesia masih suka berkerumun, maka Abonisasi atau pengolahan hewan kurban sapi untuk diolah menjadi abon merupakan ikhtiar yang paling tepat untuk menghindari kerumunan. Karena kalau di masyarakat satu hewan biasa ditangani delapan orang, tetapi kalau melalui lembaga seperti Solopeduli, satu hewan bisa ditangani hanya dua orang," jelas Sidik Anshori seperti tertulis dalam siaran pers yang diterima Republika, Senin (22/6).

Nantinya, pnyembelihan hewan kurban dilakukan pada Hari Raya Idhul Adha sampai hari Tasyrik ketiga. Sedangkan penyaluran abon atau dagingnya bisa dilakukan di hari Tasyrik dan setelah hari Tasyrik. "Abon ini masa kedaluwarsanya lebih lama, sampai satu tahun, jadi lebih awet. Bahkan abon dari program ini kalaupun ada sisa bisa disalurkan saat terjadi bencana, karena Indonesia sering sekali mengalami bencana," imbuh Sidik.

Menurutnya, masa pandemi bukanlah alasan untuk berpangku tangan tanpa memberikan maslahat bagi masyarakat. Selama tiga tahun ini, tren berkurban melalui Solopeduli mengalami kenaikan. Karenanya, di masa pandemi ini Solopeduli mengoptimalkan peran dengan mengajak sebanyak mungkin donatur agar bisa berkurban.

"Kalau setiap satu kepala keluarga berkurban satu ekor kambing atau seper tujuh sapi akan menjadi kekuatan untuk ketahanan pangan. Sehingga masa pandemi Covid-19 bukanlah masa yang susah karena daging kambing dan juga abon sapi ini akan disebarkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, dan juga kami salurkan ke dapur-dapur umum penanganan pandemi," papar Sidik.

Meski demikian, Solopeduli tetap menerima donatur yang ingin berkurban dengan penyaluran berupa daging kurban baik berupa sapi maupun kambing. Donatur bebas menentukan akan berkurban dengan penyaluran berupa daging kurban baik sapi maupun kambing/domba dan bisa juga berupa hewan yang akan diolah berupa abon. Tim sudah dibagi untuk memudahkan program kurban Solopeduli. "Donatur yang berkurban melalui Solopeduli akan mendapatkan sertifikat dan mendapatkan abon sebanyak 10 bungkus," pungkasnya.


×