Pengunjung berada di kawasan Taman Wisata Alam Kawah Putih, Kabupaten Bandung, Senin (22/6). Meski telah dibuka untuk wisatawan dengan menerapkan protokol kesehatan, kawasan wisata tersebut sepi pengunjung. | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
23 Jun 2020, 02:00 WIB

88 Wisatawan di Puncak Reaktif Covid-19

Belum waktunya masyarakat beraktivitas ke daerah wisata.

 

BANDUNG – Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat (Jabar) melakukan pengetesan terhadap 1.551 wisatawan di kawasan wisata Puncak, Cianjur. Hasilnya, sebanyak 88 wisatawan dinyatakan reaktif Covid-19. 

Pengetesan masif tersebut dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Sabtu (20/6) dan Ahad (21/6), di beberapa lokasi. Tes dilakukan di empat titik, yakni rest area Segar Alam Kabupaten Cianjur, area Masjid Atta’awun, Argowisata Gunung Mas, dan Simpang Gadog Ciawi.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) mengatakan, wisatawan yang reaktif tersebut mayoritas berasal dari Jakarta. “Saya imbau masyarakat yang ke kawasan Puncak, untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata dia di Bandung, Senin (22/6).

Terkait

Lokasi wisata memang menjadi salah satu tempat yang paling diincar masyarakat sejak pemerintah menggaungkan narasi new normal. Kepenatan karena beberapa bulan hanya di rumah sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi alasannya.

 
Belum waktunya masyarakat beraktivitas ke daerah wisata.
 
 

Emil mengatakan, kepada 88 wisatawan yang reaktif Covid-19 akan di-follow up dengan tes swab. “Dalam pekan ini juga kami harap sudah bisa digunakan. Alat yang baru ini membanggakan karena canggih mengetes antigen jadi hasilnya benar-benar positif,” ujar dia.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jabar Berli Hamdani mengatakan, 88 orang yang reaktif atau 5,67 persen dari total rapid test merupakan angka yang cukup tinggi. “Dengan makna bahwa sebetulnya belum waktunya masyarakat beraktivitas ke daerah wisata,” ujar Berli kepada Republika.

Berli mengatakan, masyarakat belum waktunya beraktivitas ke daerah wisata selain karena merupakan area terbuka publik, juga potensi pengunjung berkerumunan juga sangat tinggi. “Apalagi, kalau dilihat sepintas hanya sebagian pengunjung menggunakan masker. Jadi risiko penularan masih tinggi banget,” ujar dia.

Menurut Wakil Ketua Divisi Pelacakan Kontak Pengujian dan Manajemen Laboratorium Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar, Siska Gerfianti, tes masif digelar sebagai deteksi dini, mengingat keinginan masyarakat luar Jabar berwisata di Puncak sulit dibendung. Mereka yang reaktif langsung menjalani tes swab dengan metode PCR.

photo
Suasana kepadatan kendaraan di jalur wisata Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (20/6). Tingginya volume kendaraan wisatawan menuju kawasan wisata Puncak Bogor menyebabkan terjadinya kemacetan di kawasan tersebut. - (Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO)

Menteri Kesehatan (KMK) secara resmi telah mengesahkan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) yang disusun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama kementerian terkait. Protokol kesehatan sektor parekraf disahkan melalui KMK Nomor HK.01.08/Menkes/382/2020.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengapresiasi disahkannya protokol kesehatan tersebut. Kemenparekraf juga telah menyiapkan panduan teknis baik dalam bentuk video ataupun handbook yang mengacu kepada standar global. 

“Hal ini sangat penting karena pariwisata adalah bisnis yang sangat bergantung pada kepercayaan wisatawan domestik maupun internasional. Gaining trust atau confidence adalah kunci dalam percepatan pemulihan, jadi harus sangat diperhatikan dan diimplementasikan,” kata dia.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf Kurleni Ukar mengatakan, protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif disusun berlandaskan pada tiga isu utama, yakni kebersihan, kesehatan, dan keamanan. Protokol dapat digunakan sebagai acuan bagi seluruh pihak, yakni kementerian dan lembaga, pemda, serta masyarakat. Termasuk asosiasi, pengelola, pemilik, pekerja, dan pengunjung pada tempat dan fasilitas umum.

Namun, keputusan terkait pembukaan kembali usaha pariwisata tentu harus disesuaikan dengan tingkat risiko wilayah penyebaran Covid-19 dan kemampuan daerah dalam mengendalikan penyebaran Covid-19.


×