Berlari (ilustrasi) | unsplash
22 Jun 2020, 11:55 WIB

Ayo, Mulai Berlari

Jangan sampai olahraga lari malah menjadi beban tersendiri.

Jika diamati, belakangan ini makin marak saja orang yang menyukai olahraga lari. Bila dibandingkan dengan olahraga lain, berlari terbilang minim fasilitas. Cukup mengenakan kostum olahraga nyaman dan sepatu yang sesuai, Anda pun siap berlari. Terbukti, sebelum pandemi Covid 19 merebak, nyaris tiap pekan ada saja ajang lari yang diselenggarakan.

Rupanya, meledaknya olahraga lari di Jakarta sejak 2012 lalu membuat Tarsono, salah satu pelatih lari dari Gantarvelocity, ingin mencoba untuk menjadi pelatih. Mantan atlet itu ikut belajar dan mencoba melatih bersama dengan pelatih Agung Mulyawan. 

“Waktu itu saya melihat ajakan untuk menjadi pelatih lari ini adalah sebuah tantangan. Karena dulu pola pikir olahraga lari itu pasti soal prestasi. Waktu itu belum ada pikiran, belum terbuka wawasan saya bahwa olahraga itu tak hanya untuk prestasi saja, tapi juga untuk kreasi dan hobi,” ungkap Tarsono saat dihubungi Republika belum lama ini.

Laki-laki yang juga lulusan jurusan olahraga di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini sempat aktif di klub atletik UNJ Rawamangun. Pelatih Agung adalah temannya semasa mejadi atlet dulu. Saat melatih para pelari hobi, dia menanamkan tujuan untuk menjadi lebih sehat bagi para pelari. Sehingga, jika dia menemukan pelari yang terlalu ambisius dalam mencapai target, dia kerap mengingatkannya ke tujuan awal.

Terkait

Bagi dia, jika pelari terlalu ambisius, maka risiko cedera akan menjadi lebih tinggi. Dia menekankan, jangan sampai olahraga lari malah menjadi beban tersendiri dan membuat tubuh menjadi cedera.

Sebagai pelatih lari, dia juga sering menyarankan kepada para pelari untuk tes kesehatan dan fisioterapi dengan dokter. Hal itu untuk memastikan tubuhnya memang siap untuk melakukan tujuan tertentu, seperti ikut maraton atau perlombaan tertentu. “Medical history itu penting karena kebutuhan setiap orang  dan adaptasi setiap tubuh itu berbeda-beda,” tutur dia. 

Menjadi pelatih lari, kata dia, merupakan profesi yang memiliki prospek tinggi. Sebab, menurut Tarsono, olahraga lari akan jauh lebih meledak di tahun-tahun mendatang. Apalagi komunitas-komunitas lari saat ini memiliki semangat kuat untuk membesarkan komunitasnya masing-masing. Komunitas satu sama lain juga saling menyemangati untuk memperbesar komunitasnya masing-masing. “Sehingga jauh lebih besar peluangnya,” ungkap dia.

Hal itu berarti tantangan bagi para pelatih pun akan jauh lebih besar. Secara khusus, dia meminta para pelatih baru untuk tak hanya memperbanyak pengalaman. Melainkan juga memperbanyak ilmu pengetahuan. Mereka harus memahami bahwa melatih pelari hobi tak sama dengan melatih pelari atlet. “Kalau atlet itu mereka belajar olahraga sejak dia kecil. Kalau pelari hobi, baru sekarang berlatih larinya. Jadi perlakuannya pun berbeda,” kata Tarsono. 

Cara menyampaikan materi dan cara melatihnya pun berbeda. Para atlet biasanya memiliki motivasi besar sehingga ketika didorong langsung bersemangat. Berbeda dengan pelari hobi yang dinamikanya pun lebih banyak. “Pengalaman itu mungkin guru yang terbaik. Tapi kalau pengalamanitu tidak diimbangi dengan pengetahuan yang tidak di-update, bisa jadi bumerang. Maka pengalaman dan pengetahuan harus diasah, sehingga bisa menjadi unggulan. Jangan mengandalkan satu sisi saja,” ujar dia.

Harus serius

Pelatih lari Agung Mulyawan punya kisah tersendiri saat melatih para pelari. Saat melatih, dia selalu menanamkan keseriusan dan usaha yang optimal kepada para pelari untuk mencapai targetnya. Hanya, ada perbedaan cara mengajar pelari hobi dan pelari atlet. Bagi pelari hobi, karena pekerjaan utamanya bukan pelari, maka jangan sampai berlari memberikan beban pekerjaan baru baginya. Prioritas utamanya adalah pekerjaan utama pelari itu sendiri. 

Karena itulah beban berlatih pun harus disesuaikan. Pelari harus merasakan sendiri kapasitas tubuhnya. "Kalau memang kelelahan jangan terlalu dipaksakan," ungkap dia. Artinya, para pelatih juga harus memahami kondisi pelari itu sendiri. Pelatih juga harus mengetahui tujuan dan alasan masing-masing pelari mau berlari. 

Sebab, sepanjang pengalaman dia melatih pelari hobi, dia menemukan beragam alasan mengapa mereka berlatih. Misalnya ada yang ingin belajar lari yang benar agar terhindar dari cedera. Lalu, ada pula yang ingin finish di perlombaan lari tertentu. Ada juga yang ingin memperbaiki catatan waktunya. 

"Ada yang berlatih lari untuk charity (amal). Ada juga berlari yang penting gerak. Bahkan ada yang cuma ingin dapat teman curhat karena dengan pelatih kita bisa curhat," jelas dia. 

Nah, untuk mereka yang berminat menjadi pelatih seperti dia, Agung menyarankan agar belajar lebih dalam dan masuk ke universitas yang memiliki jurusan sport science.  Kemudian, tekuni olahraga yang diminati. Misalnya, jika minat terhadap cabang olahraga lari, maka tekuni lari. "Lalu yakin dan senang menjalani profesi lari, meskipun kurang diapresiasi. Nanti orang akan melihat kualitas kita. Nantinya juga upah itu akan mengikuti keberhasilan kita," tutur dia.

Kalau memang kelelahan jangan terlalu dipaksakan.
AGUNG MULYAWAN, Pelatih Lari 


×