Tiang-tiang penyangga bagian dalam Masjid Kauman Semarang | Dok Republika/Rahmawaty La

Arsitektur

21 Jun 2020, 22:14 WIB

Masjid Kauman yang Lebih Tua dari Kota Semarang

Kisah pembangunan Masjid Kauman tak lepas dari legenda Kota Semarang.

OLEH HASANUL RIZQA

Masjid Kauman Semarang atau Masjid Agung Semarang berlokasi di Jalan Alun-Alun Barat Nomor 11, Kota Semarang, Jawa Tengah. Meskipun namanya kauman, rumah ibadah itu kini berada tidak persis di Kelurahan Kauman, melainkan Bangunharjo, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Fungsinya tak sekadar sentra peribadahan kaum Muslimin, melainkan juga situs bersejarah.

Nilai historis itu tergurat pada inskripsi batu marmer tembok. Prasasti itu terletak di bagian dalam gerbang masuk Masjid Kauman Semarang. Bunyinya, "Pemut kala penjenengane Kanjeng Tuwan Nikolas Harting hedelir gopennar sarta Direktur hing Tanah Jawi genni pun Kangjeng Kyahi Dipati Suradimanggala hayasa sahega dadosse masjid puniki kala Hijrat 1170" ('tanda peringatan ketika Tuan Nicoolass Hartingh, gubernur serta direktur Tanah Jawa pada saat Kiai Adipati Suramanggala membangun masjid ini hingga tuntas pada 1170 Hijriah').

Tahun yang tercantum pada artefak itu bertepatan dengan 1749 M. Adapun sosok Nicoolass Hartingh merupakan salah seorang inisiator Perjanjian Giyanti tahun 1755. Kesepakatan itu memecah wilayah Kesultanan Mataram menjadi dua, yakni Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta.

Bagaimanapun, kapan Masjid Kauman Semarang berdiri belum diketahui secara pasti. Ada yang menyebut, masjid itu didirikan sejak abad ke-16 M atau era Kesultanan Demak. Kisah pembangunannya tak lepas dari legenda Semarang.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by susilo bu (@fotosilo) on

Alkisah, seorang pengelana Arab menetap di Demak. Namanya, Maulana Ibnu Abdussalam alias Made Pandan. Suatu ketika, ia diperintahkan Sunan Kalijaga untuk menggantikan posisi Syekh Siti Jenar. Sebab, ahli suluk manunggaling kawula Gusti itu sudah dianggap sesat oleh wali songo.

Made Pandan menyanggupi instruksi Sunan Kalijaga. Bersama anaknya, ia lantas meninggalkan Demak untuk ke suatu tempat bernama Pulau Tirangan. Di sana, ia dan putranya membabat hutan dan mendirikan sebuah masjid kecil dan padepokan sebagai pusat syiar Islam. Lama kelamaan, kawasan itu menarik perhatian masyarakat. Apalagi, lahan bekas hutan itu ternyata sangat subur.

Ada satu pohon asam arang tumbuh di sana. Sejak saat itu, lokasi ini disebut orang-orang sebagai Semarang. Adapun kompleks pondok yang didirikan Made Pandan kemudian menjadi cikal-bakal Masjid Kauman. Lokasi Masjid Kauman Semarang yang sekarang berbeda dari masa dahulu. Mulanya, masjid itu terletak di kawasan Mugas (kini wilayah Kecamatan Semarang Selatan).

Made Pandan semakin dikenal sebagai mubaligh. Ia dijuluki Ki Ageng Pandan Arang. Reputasinya sampai menarik perhatian Sultan Hadiwijaya. Penguasa dari Pajang itu lantas memasukkan Semarang sebagai bagian dari wilayah kerajaannya.

Setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga, sang sultan mengangkat Ki Pandan Arang sebagai bupati Semarang yang pertama. Upacara pelantikannya bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal tahun 954 H atau 2 Mei 1547 M. Belakangan, tarikh itu dianggap secara adat dan politis sebagai Hari Jadi Kota Semarang.

Sejarah membuktikan, Masjid Kauman Semarang terus bertahan melewati banyak masa. Mulai dari era Demak, Mataram, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka. Di zaman Presiden Sukarno, Semarang berkembang menjadi kotapraja sehingga Masjid Kauman Semarang menjadi tanggung jawab bupati Semarang lantaran termasuk wilayahnya.