Gubernur Khofifah menghadiri peresmian pesantren tangguh di Pesantren Darul Ulum Gersempal Omben- Sampang, Rabu (10/6). Penyiapan pesantren tangguh untuk menghadapi era new normal di tengah pandemi covid-19 jelang kembalinya para santri ke pondokan. | Dok Pemprov Jatim
18 Jun 2020, 18:19 WIB

Santri, Thalabul Ilmi, dan Pandemi

Pandemi tak menghalangi santri untuk kembali ke pesantren.

 

ERDY NASRUL

Wartawan Republika

 

Terkait

Setelah menjalani liburan Ramadhan dan Syawal, para santri di seluruh Indonesia akan kembali ke pesantren. Berdasarkan catatan Kementerian Agama, jumlah mereka pada 2019 mencapai 4.290.626 orang. Semuanya tersebar di 28.194 pondok pesantren. Sebanyak 21 persen dari angka tersebut berada di Jawa Timur.

Kini, sebagian mereka mulai pergi, meninggalkan kampung halaman menuju asrama untuk kembali thalabul ilmi (menimba ilmu). Untuk menjalankan pendidikan dan pengajaran, pesantren pun sudah mempersiapkan diri. Ruang kelas dan asrama sudah menanti kedatangan para santri. Masjid dan berbagai perlengkapan di dalamnya sudah disiapkan untuk mengaji. Para ustadz dan kiai pun sudah lama menanti. 

Namun kesiapan tersebut dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang masih mewabah. Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 per Rabu (17/6) angka positif Covid-19 mencapai 41.431 setelah ada penambahan sebanyak 1.031 orang. Kemudian untuk pasien sembuh menjadi 16.243 setelah ada penambahan sebanyak 540 orang. Sedangkan kasus meninggal menjadi 2.276 dengan penambahan 45. Angka tersebut akan terus berubah setiap hari.

Untuk menyikapi pergerakan santri ke pesantren, pemerintah menyiapkan program dan imbauan terkait kesehatan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur misalkan, membuat program pesantren tangguh. Sejumlah pemerintah daerah menyelenggarakan rapid test untuk memastikan santri bebas Covid-19. Pesantren pun ikut mempersiapkan sejumlah fasilitas: penyanitasi tangan di berbagai area. Santri nanti diarahkan untuk tetap menjaga jarak saat bertatap muka. Pola hidup bersih dan sehat, sebagaimana diarahkan pemerintah daerah, juga dimaksimalkan untuk kebaikan bersama. Semua itu dijalankan agar santri terhindar dari paparan covid-19. 

Meski sudah ada langkah antisipasi, sebagian pihak, seperti wali santri, mengkhawatirkan kehidupan anaknya jika kembali ke pesantren. Bahkan ada yang bertanya, mengapa pesantren tidak menerapkan belajar di rumah seperti sekolah umum atau madrasah? Mengapa tidak menerapkan long distant learning? Bukankah teknologi sudah semakin canggih, memudahkan komunikasi dan jarak sudah tak lagi menjadi kendala? Tulisan ini akan mencoba menjawab persoalan tersebut dengan memaparkah kekhasan pesantren seperti diuraikan berikut ini.

 

Pembelajaran dan kekhasan

Tradisi keilmuan pesantren selama ini direalisasikan dengan beberapa hal. Pertama adalah pengajaran beragam ilmu pengetahuan agama, mulai dari akidah, syariat, akhlak, sastra, dan tata bahasa Arab.

Ilmu akidah menjadi benih yang ditanam di hati. Kemudian tumbuh menjadi iman kepada Allah, malaikat, kitab, nabi-rasul, hari kiamat, dan ketentuan Allah (qadha dan qadar. Syariat merupakan ketaatan untuk menjalankan ketentuan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Pertama adalah yang vertikal, sebagaimana diatur dalam rukun Islam. Kemudian horizontal, berupa hal-hal dinamis yang kaidah hukumnya diatur dalam fatwa, ijtihad, dan qiyas.

Akhlak merupakan perangai mulia yang dikerjakan dan diajarkan para nabi dan orang saleh terdahulu untuk ditiru para peserta didik dan orang-orang masa kini. Perangai tersebut berupa laku dan kata. Perilaku mulia dicontohkan Rasulullah berupa jujur (sidiq), menyampaikan kebenaran (tabligh), dipercaya atau amanah, dan cerdas (fathanah). Tujuan akhir dari akhlak, sebagaimana diterangkan Ibnu Maskawayh dalam Tahdzibul Akhlaq adalah kebahagiaan (sa’adah).

Sastra (adab) dan tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf) diajarkan agar santri menguasai bahasa Alquran dan dapat lebih luas membedah khazanah keilmuan Islam. Mereka nantinya dapat memahami turos keislaman yang kaya ilmu dan didakwahkan kepada masyarakat luas. Selain itu, mereka juga mempelajari ilmu alam seperti fisika, biologi, geografi, dan kimia. Ada pula pesantren yang mengajarkan aljabar, logika (mantiq), dan juga falsafah.

Tradisi keilmuan ini dipahami dalam bingkai pandangan hidup Islam (Islamic worldview) yang bermuara pada tauhid. Dalam hal ini, ilmu. Tak ada ilmu yang berdiri sendiri. Tak ada yang terpisah dari Ilahi. Tak ada dikotomi sakral dan profan di pesantren.

Kaum santri meyakini perkataan Imam Syafii dalam syair yang ditulis az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim, bahwa ilmu adalah cahaya Allah (al-ilmu nur): manifestasi kebesaran Ilahi melalui fenomena alam yang memperkuat keimanan.  

Dalam pertemuan dengan sejumlah mahasiswa jurusan civic-hukum IKIP Yogyakarta, seorang (dari tiga) pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor KH Imam Zarkasyi (1910-1985) menegaskan ilmu-ilmu umum yang diajarkan di sekolah adalah ilmu agama. “Pengetahuan umum dan agama itu satu dan tidak terpisahkan. Berhitung umpamanya, jangan dikira itu bukan agama, begitu juga ilmu bumi,” kata Pak Zar menjawab pertanyaan mahasiswa yang antusias mengetahui dinamika pesantren di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) pada 29 Maret 1981, empat tahun sebelum akhir hidupnya.

Gagasan Pak Zar tersebut seirama dengan teori islamisasi ilmu pengetahuan Syed Naquib al-Attas (Prolegomena to The Metaphysic of Islam), Alparslan Acikgence (Scientific Thought in Islam/Islamic Science towards Definition), Ismail Raj’i Alfaruqi (Tawheed Its Implication for Thought and Life/1921-1986), dan Seyyed Hossein Nasr (Science and Civilization in Islam/Knowledge and The Sacred).

Kedua, ini merupakan kekhasan pesantren. Ilmu tak sekadar diajarkan dan selesai di dalam kelas, tapi juga dipraktikkan dalam keseharian. Alasannya sederhana, ilmu tersebut harus bermanfaat, seperti pohon yang berbuah dan memberi manfaat kepada orang banyak.

Dalam hal ini, pesantren merupakan bukti nyata pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani yang tertulis di al-Futuhat al-Madaniyah bab (keempat) hal-hal fardhu dalam iman poin ke-27, “Ilmu adalah dasar segala amal perbuatan.” Bahkan saking mulianya menuntut ilmu, kegiatan ini disebut Syekh Nawawi lebih utama daripada shalat sunnah.

Kiai dan para guru di pesantren menjadi teladan mengamalkan ilmu. Mereka tak sekadar mengajarkan cahaya Allah di kelas, tapi juga mengamalkannya dalam perangai mulia: laku dan kata. Ketika dipraktikkan, santri menyaksikan langsung dan ikut melaksanakannya dan membiasakan hal itu dalam keseharian.

Selain mengajarkan teori shalat, kiai mendirikan ‘tiang agama’ (imaduddin) dalam keseharian. Dia memimpin shalat berjamaah yang dilihat langsung oleh para santri. Ketika mengajarkan jujur, kiai dan para guru berkata apa adanya kepada para santri, sehingga anak didik meneladani mereka.

Ketika mengajarkan arti ukhuwah (persaudaraan), kiai tak sekadar mengutip ayat innamal mu’minuna ikhwah (Al-Hujurat ayat 10), tapi juga mempraktikkannya dalam keseharian. Santri pun, meski jauh dari keluarga dan saudara kandung, menganggap teman-temannya sebagai saudara sendiri. Sebab dengan mereka, para santri saling bertukar pikiran, saling membantu saat menemukan kesulitan, bekerja sama membersihkan kamar mandi, asrama, masjid, membangun panggung, dan banyak lagi. Hal ini membuat rasa persaudaraan mereka mengakar hingga usia lanjut.

Saat menyampaikan teori iman, kiai dan guru tidak menyekutukan Allah. Mereka mendzikir dan mengamalkan la ilaha illallah secara lisan serta perbuatan, mentadabburkan Alquran, menjelaskan dan mengambil ibrah dari kehidupan para nabi dan rasul, dan seterusnya. Ini dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947) saat mendirikan Pesantren Tebuireng. Dia konsisten dengan la ilaha illallah sehingga tak takut menghadapi budaya maksiyat masyarakat di sekitar lingkungan Tebuireng. Bahkan dia dan bersama para ulama lainnya menggelorakan resolusi jihad melawan sekutu yang menginjakkan kaki di Surabaya pada 1945. Masih banyak lagi keteladanan ulama yang menjadi hikmah bagi santri dan masyarakat negeri ini.

Karena itulah, pendidikan di pesantren lebih tertanam di hati setiap santri. Ilmu yang mereka dapatkan tak hanya terlihat dalam soal-soal ujian, tidak sekadar tersimpan dalam buku catatan, tapi mewujud dalam perilaku sehari-hari. Dinamika kehidupan di pondok memberikan pengaruh besar kepada kepribadian santri, lingkungan, dan bangsa ini. Sehingga apa yang mereka dapatkan selama belajar di pondok selalu teringat sampai akhir hidup. Teladan dan pola kehidupan di pesantren menjadi acuan untuk membuat pola kehidupan ideal di masyarakat. Menjadi ibrah untuk mendakwahkan rahmatan lil ‘alamin kepada khalayak.

Ketiga, Pendidikan pesantren tak bisa hanya dijalankan melalui Zoom atau Google Meet seperti yang dijalankan siswa sekolah atau madrasah sepanjang pembatasan social berskala besar (PSBB) dijalankan. Pendidikan pesantren bukan semata-mata teori an sich yang selesai di kelas atau pada saat pengajian berlangsung. Dia bukan proses work from home (WFH) yang selesai dengan konferensi video.

Teknologi memang tercipta untuk kemudahan dan kecepatan, tapi pendidikan pesantren tak bisa dilangsungkan dengan sekadar mudah dan cepat. Santri harus datang, menyaksikan, dan terlibat langsung dalam dinamika keseharian pesantren sehingga mengalami dan memahami segala ilmu baik secara teori maupun praktik. Tetap harus melalui proses olah rasa (riyadhah bathiniyah), yaitu dzikir, menjaga prilaku, dan selalu merasa diawasi Allah meski dalam kesendirian. Dengan menjalankan itu, santri menutup ruang untuk bermaksiat. Hati bersih dari dosa dan siap menerima cahaya Allah.

Kehadiran kiai dan guru, ibadah, kebersamaan, nilai kehidupan di dalam pesantren, dipahami, disaksikan dan dialami langsung para santri. Kemudian dimantapkan oleh Allah sehingga ilmu-ilmu itu meresap dalam jiwa. Santri menjadi terbiasa dengan banyak kebaikan. Kemudian mereka sebarluaskan di keluarga dan lingkungan tempat mereka mengaktualisasikan diri. Karena itulah, meski di tengah pandemi Covid-19, santri harus kembali ke pesantren untuk menjalankan itu semua.

 
Tak sekadar membaca buku, mendengar penjelasan ustadz, dan menulis materi pelajaran, tapi menyaksikan langsung bagaimana ilmu tersebut direalisasikan. Kemudian mereka membiasakannya dalam kehidupan.
 
 

 

photo
Santriwati melewati bilik penyemprotan disinfektan sebelum dipulangkan ke daerah asal di Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (31/3/2020). Ponpes terbesar se-Jawa Timur tersebut memulangkan sedikitnya 22 ribu santri untuk menangkal penyebaran COVID-19 - (ANTARA FOTO)

Pandemi tak menghalangi niat tulus mereka untuk thalabul ilmi. Santri-santri dari berbagai pesantren kembali ke asrama dan menjalankan tradisi keilmuan dengan sepenuh hati. Ini dilakukan untuk melepas rindu mengaji bersama guru dan kiai juga untuk menggapai ridha Ilahi.

Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, beberapa waktu lalu mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anaknya mengurangi aktivitas di luar rumah sehingga selalu dalam kondisi sehat. Kemudian mendampingi mereka kembali ke pesantren dengan menumpangi kendaraan pribadi. 

Ketika sudah masuk asrama, para guru dan kiai akan membersamai santri-santri. Mereka belajar dan berdoa untuk diri sendiri dan bangsa ini sehingga terbebas dari pandemi.

 
Kita yang ada di luar pesantren akan lebih baik bila mendoakan mereka. Semoga bersama kiai, guru, dan teman dari berbagai suku dan bangsa, para santri khusyu dalam doa, menyerap banyak ilmu di sana, dan kelak menjadi insan bermanfaat bagi bangsa dan dunia.
 
 


×