Petugas Posyandu memberikan vitamin A pada balita di Posyandu Bougenvile, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (25/2/2020). Pandemi Covid-19 dikhawatirkan memperbanyak angka gizi buruk. | ARI BOWO SUCIPTO/ANTARA FOTO

Nusantara

10 Jun 2020, 08:50 WIB

Angka Gizi Buruk Berpotensi Naik

Pandemi Covid-19 dikhawatirkan memperbanyak angka gizi buruk di Serang.

 

SERANG -- Angka anak dengan gizi buruk di Kota Serang, Banten, dikhawatirkan terus meningkat selama pandemi Covid-19. Padahal, jumlah kasus gizi buruk di ibu kota Banten tersebut mengalami peningkatan hingga 100 persen pada 2019.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Lenny Suryani, mengatakan, angka gizi buruk saat ini belum bisa dipastikan jumlahnya. Pasalnya, kegiatan penimbangan bayi di posyandu telah dihentikan sejak Mei lalu.

Menurut dia, sebenarnya penimbangan bayi sangat penting untuk memantau kesehatan gizi buruk. Namun, karena penyebaran virus korona di Kota Serang terus meningkat, sehingga aktivitas berkumpul dihentikan untuk sementara waktu.

Lenny mengatakan, indikasi pandemi Covid-19 meningkatkan jumlah gizi buruk bisa terlihat dengan banyaknya pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), yang memengaruhi perekonomian rumah tangga. "Kalau perekonomian menurun maka daya beli juga menurun dan dikhawatirkan mempengaruhi kemampuan untuk membeli makanan bergizi," kata Lenny di Kota Serang, Selasa (9/6).

Dia memaparkan, data terakhir gizi buruk pada Januari-Februari 2020, ditemukan 125 kasus. Sementara pada Maret-April lalu, tercatat ada 83 kasus gizi buru. "Datanya ini belum angka final karena datanya terhenti karena penimbangan dihentikan," ucap Lenny.

Menurut Lenny, kekhawatiran meningkatnya gizi buruk juga terkait kemungkinan anak-anak terkena virus korona. Hal itu karena anak-anak dengan gizi buruk memiliki daya tahan tubuh yang tidak baik. Dengan imunitas lebih rendah, kata dia, potensi terinfeksi Covid-19 menjadi sangat besar.

"Karena mayoritas masyarakat yang terkena gizi buruk ini kebanyakan tidak pergi atau bekerja di daerah berisiko atau aktivitas hanya di tempatnya saja jadi risikonya lebih rendah," ungkapnya.

photo
Pekerja pariwisata yang dirumahkan membuat kue pesanan konsumen saat mengembangkan industri rumah tangga dalam menyiasati krisis ekonomi di Tabanan, Bali, Senin (11/5/2020). Pengangguran baru dan karyawan yang kena PHK dampak dari pandemi Covid-19 dikhawatirkan meningkatkan angka gizi buruk - (Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO)

Hingga kini, kata dia, kecamatan terbanyak kasus gizi buruk berasal dari Kasemen. Meski layanan posyandu dihentikan, kata dia, program pemberian makanan tambahan (PMT) tetap berjalan. Langkah intervensi itu dilakukan petugas dengan melakukan kunjungan ke setiap rumah mereka yang membutuhkan. "Bagi ibu hamil juga tetap kita berikan tablet tambah darahnya di puskesmas," ujar Lenny.

Wali Kota Serang Syafrudin juga menyatakan kekhawatirannya tentang naiknya angka gizi buruk di wilayahnya. Menurunnya kemampuan ekonomi maysarakat, kata dia, ditambah kemiskinan yang bertambah dapat menjadi alasan kasus gizi buruk berpotensi melonjak.

"Kekhawatiran kita karena korona ini, bisa berdampak ke gizi buruk dan masalah kesehatan lainnya," ujar Syafrudin.

Dia menuturkan, kebijakan bantuan sembako melalui jaring pengaman sosial (JPS) selama ini lebih sekadar membantu meringankan beban masyarakat. Sementara tuntutan kebutuhan masyarakat yang terdampak Covid-19, lebih besar daripada bantuan yang disalurkan Pemkot serang.

"Stimulus JPS kalau menghilangkan beban semuanya tidak. Untuk itu, new normal ini sangat baik jadi kegiatan masyarakat bisa tetap berlangsung, tapi protokol kesehatan juga tetap berjalan," ujar Syafrudin.


×