Warga Kampung Toleransi mengikuti Parade Bandung Rumah Bersama di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (15/2/2020). Ada titik temu pandangan agama-agama tentang kemanusiaan. | ANTARA FOTO

Khazanah

09 Jun 2020, 10:42 WIB

Bangun Sinergi Lintas Agama dalam Kemanusiaan

Ada titik temu pandangan agama-agama tentang kemanusiaan.

JAKARTA -- Ketua Kehormatan Presidium Inter Religious Center (IRC) Indonesia, Prof Din Syamsuddin, menegaskan, semua agama harus bekerja sama dalam kemanusiaan. Menurut dia, ada titik temu pandangan agama-agama tentang kemanusiaan.

Din menyampaikan, begitu banyak nilai hikmah dan kebijaksanaan yang telah didengarkan dalam percakapan virtual para tokoh lintas agama bertema "Tata Hidup Baru (The New Normal Life): Perspektif Agama-agama" yang diselenggarakan IRC Indonesia, Senin (8/6).

"Saya mengamati dan menyimak perspektif berbagai agama tentang masalah yang kita hadapi, khususnya Covid-19 (pandemi virus korona) dan bagaimana solusinya mengisi the new normal," kata Din di akhir percakapan virtual para tokoh lintas agama tersebut.

Ia menjelaskan, ada titik temu pandangan agama-agama tentang kemanusiaan. Pada titik inilah semuanya harus bekerja sama. Menurut dia, perbedaan yang ada di antara agama-agama tidak banyak, perbedaan itu lebih banyak pada aspek keyakinan dan sedikit perbedaan pada aspek ritual.

photo
Sejumlah peserta mengirab bendera Merah Putih saat mengikuti Kirab Kebangsaan Merah Putih di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (24/1/2020). Kirab kebangsaan yang diikuti ribuan warga lintas agama, organisasi masyarakat, instansi pemerintah, dan TNI-Polri itu untuk meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kerangka NKRI. Ada titik temu pandangan agama-agama tentang kemanusiaan - (AJI STYAWAN/ANTARA FOTO)

Namun, pada dimensi kemasyarakatan dan kemanusiaan, agama-agama bertemu dengan istilah-istilah yang berbeda. Inilah yang harus dikembangkan bersama-sama untuk menjadi dasar dialog sekaligus kerja sama antarumat beragama, lintas agama, dan lintas iman.

Mengenai new normal, Din mengatakan, ada yang menerjemahkannya sebagai kebiasaan baru, realitas baru, dan tatanan baru. Ia menilai, semua pandangan tokoh agama tentang new normal baik dan positif.

"Kita bergembira semua komunitas keagamaan di Indonesia telah berbuat nyata dalam menanggulangi Covid-19 ini, memang belum ada yang dapat kita lanjut sebagai sebuah kolaborasi dalam penanganan-penanganan, tetapi lembaga-lembaga yang ada, termasuk filantropi keagamaan itu telah berbuat dan bekerja sama atas dasar kemanusiaan," ujarnya.

photo
Ketua Kehormatan Presidium Inter Religious Council Indonesia Din Syamsuddin menyampaikan sambutan pada acara lokakarya, dialog dan peluncuran Prakarsa Lintas Agama Untuk Hutan Tropis Indonesia di Gedung Manggala Winabakti, Jakarta, Kamis (30/1/2020). Ada titik temu pandangan agama-agama tentang kemanusiaan. - (Republika/Thoudy Badai)

Pada forum yang sama, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud mengatakan, upaya mengatasi permasalahan yang timbul akibat pandemi Covid-19 harus dengan gotong royong. Ia pun menyampaikan dua rekomendasi. Pertama, rekomendasi untuk pemangku kebijakan. Kedua, rekomendasi untuk masyarakat dan pimpinan agama.

Untuk pemangku kebijakan, jika mulai menerapkan new normal dengan membuka mal-mal maka masjid, gereja, dan pura juga harus dibuka.

"Tinggal protokolnya yang harus dipikirkan bersama-sama kepada daerah yang akan membuka new normal," kata KH Marsudi, Senin (8/6).

Terkait rekomendasi kedua, ia mengingatkan, kejadian di Amerika Serikat (AS) pemicunya adalah masalah rasial. Tapi, faktanya ada kejadian penjarahan. Artinya, problem Covid-19 ini secara kemanusiaan sudah sampai perut. Ketika suatu masalah sudah sampai perut, tidak bisa diatasi sendiri-sendiri.

Ia berharap, organisasi seperti Muhammadiyah dan yang lainnya bisa menyatu untuk mengantisipasi berbagai masalah agar tidak sampai ke perut.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti juga menyatakan, Covid-19 adalah realitas yang harus dihadapi bersama karena ini adalah masalah bersama. 


×