Hikmah | Republika
03 Jun 2020, 10:51 WIB

Tiga Ciri Takwa

Hasil akhir dari puasa adalah takwa.

OLEH ABDILLAH

Ramadhan sudah berlalu. Kita sudah berpisah dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah. Tak ada jaminan bagi kita untuk bisa bertemu kembali dengan Ramadhan yang suci. Bisa jadi Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir. Oleh sebab itu, kita harus tetap menjaga nilai-nilai puasa ada pada diri kita.

Hasil akhir dari puasa, sebagaimana firman Allah SWT adalah takwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah: 183).

Takwa adalah capaian tertinggi dari puasa. Takwa juga adalah standar tertinggi tingkat kemuliaan manusia. Semakin tinggi tingkat ketakwaannya, semakin tinggi pula derajat kemuliaannya di sisi Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: “… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13).

Terkait

Ketakwaan harus tetap ada pada diri kita. Adapun takwa dalam Alquran memiliki tiga ciri: “… (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134).

Ciri pertama dari orang bertakwa selalu menafkahkan hartanya baik di waktu luang maupun sempit. Memberi saat kita punya itu baik, tapi berbagi saat kita juga kekurangan itu hal yang luar biasa. Orang bertakwa tidak takut hartanya berkurang hanya karena memberi kepada orang lain. “Sedekah hakikatnya tidak mengurangi harta.” (HR Muslim). 

Kedua, ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Ia  tidak melampiaskannya meskipun sanggup melakukannya. Secara naluri, manusia tentunya akan marah ketika dihina, difitnah, dan dirampas haknya. Namun, orang bertakwa akan mampu menahan diri untuk tidak melawannya.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.” (HR Bukhari).

Kejahatan tidak seharusnya dibalas dengan kejahatan. Perbuatan tidak menyenangkan dari orang lain harusnya dibalas dengan kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fusshilat: 34).

Ketiga, tanda orang bertakwa adalah yang memaafkan kesalahan manusia. Orang bertakwa tidak hanya mampu menahan amarahnya tapi juga mampu memaafkan semua orang yang berbuat salah kepadanya. Memaafkan adalah sesuatu yang sulit karena berhubungan dengan ego dan harga diri. Tapi orang bertakwa akan mampu melenyapkan egonya. “Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan.”(HR Muslim).


×