Sejumlah siswa Taman Kanak-Kanak mengikuti manasik haji di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (15/2). | ANTARA FOTO

Kisah Dalam Negeri

03 Jun 2020, 01:45 WIB

'Lemas Rasanya, Tapi Sudah Ikhlas'

Dengan penundaan, daftar tunggu jamaah haji akan terus bertambah.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA, LILIS SRI ANDAYANI

 

Sejak beberapa hari belakangan, hati Sutrismiyati gundah gulana. Pasalnya, kepastian keberangkatan hajinya ke Tanah Suci tak kunjung tiba. Sebaliknya, desas-desus soal penundaan yang bermunculan. 

Selasa (2/6) pagi, perempuan berusia 50 tahun asal Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, itu sudah bersiap di depan televisi menanti pengumuman Menteri Agama Fachrul Razi. Ketika yang dikhawatirkannya menjadi nyata, Sutrismiyati lemas.

Sebagian gaji selama menjadi pegawai negeri sipil di Gunungkidul yang ia sisihkan belum bisa mengantarkannya ke Tanah Suci tahun ini. "Awalnya, saya deg-degan (lihat konferensi pers), sekarang lemas. Tapi enggak apa-apa, mau bagaimana lagi. Saya menerima keputusan yang diambil Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Arab Saudi dengan ikhlas dan saya percaya ini keputusan yang terbaik," kata Sutrismiyati kepada Republika pada Selasa (2/6). 

Sutrismiyati menuturkan, semua persiapan untuk berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini sudah lengkap. Ia juga sudah mengikuti pemberian materi dan pelaksanaan manasik haji di tingkat kabupaten. 

“Tinggal kita itu menunggu pengumuman saja, semua sudah beres. Tapi, mau bagaimana lagi. Demi kebaikan kita bersama, terutama kesehatan dengan adanya virus korona, ya manut saja dengan keputusan pemerintah," katanya. 

Sutrismiyati tak mempersoalkan tentang Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang sudah ia lunasi sebesar Rp 36 juta. "Seandainya tahun depan ada kenaikan (biaya), kita tinggal nambah gitu. Kalau aturannya seperti itu nggak apa-apa. Ini kan sudah jelas keputusannya," kata dia.

Tentu, bukan Sutrismiyati sendiri yang batal naik haji tahun ini. Di kabupaten Indramayu, misalnya, sebanyak 1.773 calon jamaah haji (calhaj) batal berangkat tahun ini.  ‘’Mereka semua telah melunasi (biaya haji tahun ini),’’ kata Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Indramayu, Munir Huda, kepada Republika, Selasa (2/6).

Munir mengatakan, para calhaj yang telah melunasi biaya haji pada tahun ini secara otomatis akan diberangkatkan tahun depan. Dia berharap, para calhaj bisa memahami kondisi yang terjadi saat ini. Selain melunasi biaya haji, ribuan calhaj asal Kabupaten Indramayu sebelumnya juga telah melakukan persiapan lainnya. 

Di antaranya, mengikuti kegiatan bimbingan pramanasik haji pada 9 Maret 2020. Kegiatan bimbingan pramanasik tersebut digelar di Masjid Roduatul Jannah Islamic Center Indramayu. 

Keputusan pemerintah melalui Kemenag membatalkan keberangkatan jamaah haji juga menimbulkan kekecewaan di kalangan biro perjalanan haji dan umrah. ‘’Ya sedih dan kecewa, (dan itu) wajar karena jamaah sudah menunggu lama,’’ ujar Direktur PT Salam Sejahtera Wisata Ustaz Dede Muharam kepada Republika, Selasa (2/6).

Meski demikian, Dede menyatakan, akan mengikuti keputusan pemerintah tersebut. Dia mengaku, bisa memakluminya karena saat ini masih berlangsung pandemi Covid-19.

Dede menyebutkan, ada total sekitar 65 calhaj plus yang akan berangkat melalui biro perjalanannya pada tahun ini. Dia pun akan segera menginformasikan keputusan pemerintah itu kepada mereka.

Penundaan tahun ini juga berdampak pada semakin panjangnya waktu tunggu keberangkatan calhaj. Kepala Kantor Kemenag Sragen Hanif Hanani mengatakan, sebanyak 1.131 jamaah calon haji asal Sragen batal berangkat tahun ini.

Dengan penundaan tersebut, daftar tunggu jamaah haji akan terus bertambah. "Daftar tunggu sekarang di Sragen antara 24-25 tahun. Sementara, calon yang masuk daftar tunggu Sragen itu dalam satu tahun atau jumlah pendaftar mencapai 3.000 sampai 4.000 orang," kata Hanif, Selasa (2/6). Artinya, lanjut dia, bertambahnya waktu antrean dikalikan jumlah yang mendaftar haji. Sementara, calhaj yang batal berangkat tahun ini otomatis akan berangkat tahun berikutnya.

photo
Nasabah menggunakan tablet mengakses informasi pelunasan Biaya Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH), di Bandung, Jawa Barat, Kamis (26/3). - (ANTARA)

Di Kota Solo, berdasarkan informasi dari Kantor Kemenag Kota Solo, selama 2019 tercatat sekitar 1.200 jamaah yang mendaftarkan diri sebagai calhaj. Mereka harus menunggu sekitar 25 tahun untuk keberangkatan haji. 

Ada 510 calon jamaah asal Solo yang dijadwalkan berangkat tahun ini. "Jamaah yang dijadwalkan berangkat tahun ini sudah menunggu hingga 10 tahun. Ketika ada penundaan, mereka harus menunggu satu tahun lagi," ujar Kepala Kantor Kemenag Solo, Mustain Ahmad. Mustain menyatakan, para jamaah mungkin merasa kecewa, tetapi di sisi lain merasa lega karena sudah mendapat kepastian. 

 Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jatim Ahmad Zayadi mengungkapkan, per Selasa (2/6), jumlah pendaftar haji di Jawa Timur sebanyak 950.151 orang dengan masa tunggu 28 tahun. Setelah keluarnya Keputusan Menteri Agama RI No 494 Tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jamaah Haji pada Penyelengaraan Ibadah Haji pada 1441 H atau 2020 M maka otomatis masa tunggu haji bertambah satu tahun.

“Masa tunggu haji di Jawa Timur saat ini 28 tahun. Daftar haji hari ini berangkat 1469 H/2048 M. Itu dalam kondisi normal, jika tahun ini tidak ada haji, maka waiting list bisa nambah satu tahun,” kata Zayadi dikonformasi Senin, (2/6). 

Ulama dan penulis senior Sumatra Barat Buya Masoed Abidin meminta jamaah calon haji Indonesia bersabar dan ikhlas menerima keputusan pemerintah. "Ini sudah kondisi yang ditetapkan oleh Allah SWT kepada kita. Jadi, kita harus tetap bersabar dengan segala ketentuan dan ridha Allah. Bersyukur kita pemerintah masih memikirkan apa yang terbaik buat kita semua," kata Buya Masoed kepada Republika, Selasa (2/6). "Hadis Nabi mengatakan, innamal a'malu Binniyat. Niat itu mendahului segala hal. Niat berhaji yang sudah dilafazkan itu sudah dicatat oleh Allah," Buya Masoed melanjutkan. 


×