KH M Syarwani Abdan | DOK Wikipedia
19 Sep 2020, 06:30 WIB

KH Muhammad Syarwani Abdan, Tuan Guru Bangil

Tuan Guru Bangil banyak mencetak alim ulama.

OLEH MUHYIDDIN

Kalimantan Selatan menjadi tanah kelahiran banyak alim ulama Nusantara. Di antara mereka adalah KH Muhammad Syarwani Abdan. Bagaimanapun, mubaligh kelahiran Martapura itu terkenal dengan sebutan Tuan Guru Bangil. Sebab, dai yang warak dan zuhud itu berdakwah serta mendirikan suatu lembaga pendidikan Islam di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Kiprahnya dalam dunia dakwah tidak hanya di Tanah Air, tapi juga luar negeri. Ia tercatat pernah mengajar di Masjid al-Haram, Makkah al-Mukarramah. Hal ini membuktikan besarnya reputasi sang pendiri Pondok Pesantren Datuk Kalampayan itu. Tak sedikit muridnya yang akhirnya menjadi ulama-ulama masyhur sehingga meneruskan perjuangannya dalam rangka menegakkan kalimat tauhid.

Muhammad Syarwani Abdan lahir di Kampung Melayu, Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1915 M. Ia lahir dari pasangan H Abdan dan Hj Halimatus Sa'diyah. Dalam dirinya, masih mengalir darah para ulama besar, di antaranya, sang mufti Kesultanan Banjar Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary (1710-1812).

Terkini

Syarwani kecil dididik di lingkungan yang religius. Tokoh agama di kampung halamannya pada masa itu adalah pamannya sendiri, Syekh Kasyful Anwar al-Banjary. Syarwani pun mulai belajar agama di Pondok Pesantren Darussalam, yakni pesantren tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan. Waktu itu, lembaga tersebut dipimpin Syekh Kasyful.

Selain itu, Syarwani juga mengaji ke banyak ulama Martapura lainnya. Misalnya, Tuan Guru Ismail Ibrahim Khatib dan Tuan Guru Muhammad Thaha. Pada usia yang sangat muda ia merantau ke Pulau Jawa.

 
Kedalaman ilmu dan kepekaan mata batin Kiai Syarwani membuat para alim itu terpukau.
 
 

Di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Syarwani muda meneruskan rihlah keilmuannya kepada banyak ulama besar. Sebut saja, KH Muhdhar di Gondang, KH Abu Hasan di bilangan Wetan Alun, KH Bajuri, serta KH Ahmad Jufri.

Dalam masa itu, ia mulai di kenal luas sebagai murid yang cerdas. Daya tangkapnya luar biasa. Ia pun haus akan ilmu pengetahuan agama. Tak mengherankan bila ia diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci. Saat usianya 16 tahun, Syarwani berangkat ke Makkah dengan didampingi Syekh Kasyful dan sepupunya, Syekh Anang M Sya'rani Arif.

Syarwani memiliki tekad yang kuat untuk menuntut ilmu. Hal inilah yang menyebabkan Syekh Kasyful memilih pemuda tersebut untuk dididik menjadi seorang ulama besar. Begitu tiba di Makkah, Syarwani juga tak menyia-nyiakan waktu. Dengan penuh disiplin, ia belajar pada banyak ulama setempat.

Guru-guru Syarwani di Makkah cukup banyak. Di antaranya, Sayyid Muhammad Amin Qutbi, Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Umar Hamdan, dan Syekh Muhammad Al 'Arabi. Selain itu, ia pun menuntut ilmu kepada Sayyid Hasan Masyath, Syekh Abdullah Al Bukhari, Syekh Syafi'i, dan Syekh Syaifullah Dagesthani. Ia pun belajar pada sejumlah alim ulama asal Nusantara di sana, semisal, Syekh Sulaiman Ambon, Syekh Ahyad Bogor, dan Syekh Ali Al Banjary.

Seiring waktu, Muhammad Syarwani Abdan pun menjadi seorang alim yang dihormati. Bahkan, ia telah dipercaya untuk mengajar selama beberapa tahun di Masjid al-Haram. Nama sosok asal Kalimantan Selatan ini pun semakin dikenal kalangan ulama pada saat itu.

Sekitar 10 tahun ia berada di Kota Makkah. Kiai Syarwani beserta paman dan sepupunya kemudian pulang ke Martapura pada 1939 M. Di kampung halamannya itu, ia langsung mengamalkan ilmunya dengan mengajar di Pondok Pesantren Darussalam dan Madrasah Sullamul Ulum Dalam Pagar. Selain itu, Kiai Syarwani juga membuka majelis dan pengajian umum di rumahnya.

Sebagai ulama yang pernah mengajar di Masjid al-Haram, Kiai Syarwani diminta para ulama di Martapura untuk menjadi qadhi, yakni seorang hakim yang membuat keputusan berdasarkan syariat Islam. Namun, ia menolak permintaan itu secara halus. Sebab, dirinya merasa lebih senang berkhidmat kepada umat, tanpa terikat dengan suatu status formal.

Pada 1943 M, Kiai Syarwani pergi ke Bangil. Selama di kota santri itu, ia mengisi waktu dengan menuntut ilmu kepada seorang ulama asal Mesir, yakni Syekh Muhammad Mursyidi. Setahun kemudian, ia kembali ke Martapura untuk melanjutkan majelis taklim yang dibinanya.

Mendirikan pesantren

Pada 1950, KH Syarwani dengan mantap memutuskan untuk hijrah ke Bangil, Jawa Timur. Ketika bermukim di sana, sosok yang akhirnya akrab disapa Guru Bangil itu tidak langsung menggelar majelis untuk umum. Mula-mula, ia hanya mengajar kepada orang-orang terdekat.

Sebab, ia terlebih dahulu berbaur dengan lingkungan sekitar, layaknya masyarakat biasa. Dalam berpakaian pun, ia tidak mengenakan busana khas yang menunjukkan dirinya seorang ulama besar. Guru Bangil tetap berpenampilan sederhana.

Seperti dijelaskan dalam buku 3 Permata Ulama dari Tanah Banjar, Kiai Syarwani sesudah beberapa tahun di Bangil lantas mendirikan Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Lembaga ini dibangun pada 1970. Nama pesantren tersebut diambil dari julukan datuk Kiai Syarwani, yakni Syekh Muhammad Aryad al-Banjary.

Sejak saat itu, para penuntut ilmu dari berbagai daerah mulai banyak berdatangan. Santri-santri Guru Bangil tidak hanya berasal dari Jawa, tapi juga luar Jawa, termasuk Kalimantan Selatan. Malahan, jumlah santri asal Banjar cukup banyak. Alhasil, masyarakat Bangil menyebut pesantren itu sebagai Pondok Banjar. Pesantren ini dikelola langsung oleh Guru Bangil. Ia mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk mendidik santri-santrinya. Bahkan, ia menanggung kebutuhan makan mereka agar lebih fokus dalam belajar ilmu-ilmu agama.

Ketokohannya juga mencakup daerah Jawa Timur, khususnya Bangil. Ia sering kali menjadi rujukan para kiai dalam menyelesaikan permasalahan keagamaan. Seperti diceritakan KH Syaifuddin Zuhri, suatu ketika, sejumlah kiai menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Selama di sana, rombongan kiai tersebut bermaksud menemui Sayyid Amin Qutbi untuk menanyakan permasalahan pelik dalam urusan agama.

Ketika sampai di kediaman Sayyid Amin, rombongan kiai tersebut kemudian mengutarakan masalahnya. Namun, Sayyid Amin justru menyarankan agar persoalan itu dibawa kepada seorang muridnya yang ada di Bangil, yakni Kiai Syarwani Abdan. Sayyid Amin juga menitipkan sebuah surat untuk Kiai Syarwani.

Singkat cerita, setelah pulang dari Tanah Suci, rombongan kiai itu lantas mengatur waktu untuk menemui KH Syarwani. Sesampainya di rumah yang bersangkutan, mereka melihat Kiai Syarwani sedang membaca sebuah kitab. Begitu melihat mereka, sang tuan rumah menyambutnya dengan ramah.

Tidak lama kemudian, Kiai Syarwani langsung meminta surat yang mereka bawa untuk dibuka. Padahal, tidak ada pembicaraan sebelumnya tentang adanya surat itu. Para kiai itu sudah menduga, ulama yang ditunjuk Sayyid Amin bukanlah sosok sembarangan.

Setelah surat itu dibacakan, Kiai Syarwani menyerahkan kitab yang sedang dibacanya tadi kepada rombongan kiai tersebut. Sebab, dalam kitab itulah mereka dapat menemukan jawaban dari permasalahan pelik yang mereka telah tanyakan ke Sayyid Amin.

Kedalaman ilmu dan kepekaan mata batin Kiai Syarwani membuat para alim itu terpukau. Mereka kemudian meminta sang kiai untuk mengajari mereka. Namun, permintaan itu tidak langsung diamini. Sebab, Kiai Syarwani terlebih dulu menanyakan kepada Kiai Hamid, seorang ulama karismatik di Pasuruan. Setelah Kiai Hamid mengisyaratkan persetujuan, barulah Kiai Syarwani menggelar majelis untuk para kiai tersebut.

Seperti dikutip dari buku Manaqib Tuan Guru Bangil, KH Idham Chalid menuturkan, sosok Kiai Syarwani adalah seorang ulama yang memiliki kedalaman ilmu. Ulama asal Martapura itu juga konsisten menyebarkan paham Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja).

"Seorang di antara alim ulama yang betul-betul repsetentatif, baik ilmu maupun amal dan perjuangannya, dalam mengajar, menyebarkan dan membela kebenaran paham dan amaliah mazhab Ahlussunnah wal jamaah," kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, seperti dikutip dalam buku tersebut.

Produktif berkarya

Selain membangun pesantren, Kiai Syarwani juga gemar menuliskan pemikirannya. Salah satu karya tulis Guru Bangil yang populer adalah Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah. Terjemahan bahasa Indonesia buku itu berjudul Simpanan Berharga.

Kitab karangan Guru Bangil ini mendapat sambutan hangat dari para ulama dan kalangan pesantren. Buku tersebut diterbitkan pertama kali pada 1967. Hingga kini, kitab yang sama telah dicetak ulang berkali-kali.

Selain menulis kitab itu, Guru Bangil juga banyak menulis kitab yang hanya diketahui oleh keluarganya. Karya Guru Bangil lainnya yang dapat diketahui adalah Risalah Shalat, Risalah Puasa, dan Terjemah Syair Burdah.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Guru Bangil sangat hati-hati dalam menggunakan dalil. Sebagai contoh, ia selalu memastikan terlebih dulu keshahihan suatu hadis yang akan disampaikannya. Selain menguasai ilmu hadis, ia juga pakar dalam bidang fikih.

Kealiman Guru Bangil diakui Tuan Guru H Anang Sya'rani Arif. Ketika ada orang yang bertanya masalah fikih kepada Tuan Guru Anang, maka orang itu dimintanya untuk terlebih dahulu menghadap Guru Bangil.

Dalam kesehariannya, Guru Bangil dikenal sebagai seorang ulama yang sangat zuhud. Konon, ia pernah ditawari hadiah berupa mobil dan rumah mewah. Akan tetapi, semua tawaran itu ditolak olehnya.

Guru Bangil wafat dalam usia 74 tahun pada 11 September 1989 M. Jenazahnya dikebumikan di kompleks permakaman keluarga habib bermarga al-Haddad. Lokasi itu tak jauh dari pondok pesantren yang dibinanya di Bangil, Jawa Timur.

photo
Kita Simpanan Berharga karya KH Syarwani Abdan - (Toko NU Online)

Mencetak Banyak Alim Ulama

Sepanjang hayatnya, KH Muhammad Syarwani Abdan berkiprah dalam penyebaran ilmu-ilmu agama. Sosok yang biasa disapa Tuan Guru Bangil itu merasa terpanggil untuk selalu menyiarkan dakwah Islam di manapun berada. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Tanah Suci, ia pun kembali ke Tanah Air.

Di Bangil, Jawa Timur, ia lantas mendirikan pondok pesantren bernama Datuk Kalampayan pada 1970. Nama itu sengaja dipilihnya untuk mengambil berkah dari datuknya sendiri, yakni Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang berjulukan demikian.

Dari tahun ke tahun, jumlah santrinya kian banyak. Ada yang berasal dari Bangil dan sekitarnya, ada pula yang dari daerah-daerah lain di Jawa. Bagaimanapun, tak sedikit pula yang datang dari Kalimantan Selatan. Bahkan, pondok pesantren itu sendiri sering disebut sebagai Pondok Banjar oleh masyarakat setempat.

Dari hasil didikan Tuan Guru Bangil, banyak murid yang akhirnya menjadi alim ulama terkemuka. Di antaranya adalah Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani al-Banjari (Abah Guru Sekumpul), KH Abdurrahim, KH Abdul Mu'thi, dan KH Khairan. Selain itu, nama-nama lain juga muncul dari pendidikan di Pesantren Datuk Kalampayan. Misalnya, KH Prof Dr Ahmad Syarwani Zuhri (pimpinan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Balikpapan); KH Muhammad Syukri Unus (pimpinan MT Sabilal Anwar al-Mubarak Martapura), serta KH Zaini Tarsyid (pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Martapura) yang juga menantunya.

Berikutnya adalah KH Ibrahim bin KH Muhammad Aini (Guru Ayan) Rantau; KH Ahmad Bakrie (pengasuh Pesantren al-Mursyidul Amin Gambut); KH Syafii Luqman (Tulung Agung); dan KH Abrar Dahlan (Sampit, Kalimantan Tengah); serta KH Safwan Zuhri (Kutai Kertanegara).

Dalam membangun pesantren, KH Muhammad Syarwani Abdan tidak ingin memberatkan beban santri-santrinya. Ia berprinsip, mengajarkan agama tidak untuk dibayar. Maka, tidak berlebihan jika ia dipandang sebagai seorang pendidik sejati.

Tuan Guru Bangil sangat berdedikasi untuk membina santri-santrinya. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus pesantren. Saat kondisinya tidak sehat, ia bahkan tetap memaksankan diri untuk mengajar santri-santrinya meskipun itu dilakukannya sambil berbaring.

Semasa hidupnya, Kiai Syarwani dikenal sebagai ulama yang sangat berhati-hati dalam menanamkan ilmu agama kepada santri-santrinya tersebut. Dalam kitabnya yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah, ia berpesan kepada umat Islam untuk tidak meremehkan urusan agama.

Melalui karya tersebut, nasihatnya kepada generasi muda Muslimin agar serius dalam menuntut ilmu-ilmu agama. Jika ada suatu perkara agama yang tidak diketahui, mereka hendaknya bertanya langsung kepada seorang alim yang betul-betul mengetahui tentang urusan agama.

"Dan selanjutnya penulis mengharapkan jangan sampai ada atau menimbulkan hina-menghina sehingga membawa akibat yang tidak diinginkan," tulis Kiai Syarwani di bagian penutup kitab tersebut.

Di dalam karyanya ini, Kiai Syarwani juga mengungkapkan pendapat-pendapatnya tentang hukum talqin, tahlil, dan tawassul. Menurutnya, amalan-amalan tersebut diperbolehkan asalkan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Metodenya pun mesti sesuai dengan yang dicontohkan para ulama. Sebab, pada dasar-dasarnya semua amalan itu berdiri di atas dalil agama yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sumber: Rekaman Suara Asli Guru Bangil


×