Petugas dari Balai Pemeliharaan Situs Manusia Purba Sangiran, Sragen, Jawa Tengah melakukan aktivitas saat ekskavasi fragmen fosil tulang pinggul gajah di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (19/2/2020). Menurut petugas | ANTARA FOTO

Kisah Dalam Negeri

28 May 2020, 02:00 WIB

Agar Situs Manusia Purba Menarik Lagi

Revitalisasi situs dan cagar budaya harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

OLEH INAS WIDYANURATIKAH

Semua tahu, Sangiran merupakan situs bersejarah dan fenomenal. Lokasi ini bagian penting dari penelitian dunia tentang manusia purba. Di situs Sangiran ini, arkeolog asal Jerman, Von Koenigswald menemukan fosil rahang bawah Pithecanthropus Erectus. Manusia purba ini merupakan salah satu spesies dalam taxon Homo Erectus.

Situs Sangiran adalah salah satu situs warisan dunia Unesco yang ada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Museum Sangiran dan situs arkeologinya menjadi objek wisata sekaligus objek penelitian dunia tentang kehidupan prasejarah yang tak pernah habis. Sebab, situs Sangiran dianggap yang paling lengkap di Asia, bahkan di dunia.

Sudah pasti cagar budaya ini harus dilestarikan. Namun, apakah melestarikannya cukup dengan menjaga aspek kebendaanya saja atau justru dampak sosial hingga ekonomi terhadap masyarakat sekitar yang menjadi titik pentingnya.

Arkeolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Daud Aris Tanudirja mengatakan, pelestarian cagar budaya sangat perlu memikirkan masyarakat di sekitarnya. Di dalam pelestarian, masyarakat juga harus diberdayakan dan mendapatkan manfaat dari proses revitalisasi sebuah cagar budaya.

Di dalam kajian warisan budaya internasional, kata Daud, revitalisasi adalah proses pemaknaan baru. Pemaknaan baru ini artinya warisan budaya tidak hanya dilihat sebagai bendanya saja namun juga dampaknya terhadap lingkungan. Saat ini ada kesadaran baru bahwa nilai-nilai dari warisan budaya itu harus dikembangkan supaya bermanfaat pada masyarakat.

photo
Pengunjung mengamati benda koleksi Museum Purba Sangiran di Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (8/11/2018). Kementerian pariwisata menargetkan pengahasilan devisa dari sektor pariwisata hingga akhir 2018 sebesar 17 milliar dolar AS dan diprediksi akan naik di pada tahun 2019 sebesar 20 milliar dolar AS sehingga diharapkan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia - (ANTARA FOTO)

“Keberhasilan pelestarian warisan dunia kalau menurut Unesco adalah menjadikan warisan dunia sebagai sumber daya pembangunan berkelanjutan,” kata Daud, dalam sebuah diskusi daring ‘Revitalisasi Nilai Situs Manusia Purba Sangiran’, Rabu (27/5).

Daud mengatakan, sebuah revitalisasi pada cagar budaya harus memberikan manfaat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, revitalisasi juga harus mempertahankan budaya lokal. “Kalau kita merevitalisasi, tapi masyarakat tidak merasakan, itu sebetulnya percuma,” kata Daud.

Kasi Pengembangan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Septina Wardhani, mengatakan, beberapa langkah untuk mengikutsertakan masyarakat sudah dilakukan. Dia mencontohkan, perempuan di sekitar situs memiliki kerajinan tenun. Menurutnya, potensi ini bisa dikembangkan ke depannya untuk memajukan cagar budaya sekaligus menguntungkan masyarakat.

photo
Siswa mengamati fosil kepala kerbau purba pada pameran purbakala Situs Sangiran di Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (25/2/2020). Pameran kepurbakalaan rutin digelar Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran di berbagai daerah di Indonesia, setiap tahunnya, dengan tujuan menyebarluaskan nilai penting situs purbakala di nusantara kepada masyarakat - (Destyan Sujarwoko/ANTARA FOTO)

Selain BPSMP Sangiran, menurut Septina, pemerintah Sragen juga telah berupaya mengikutsertakan masyarakat. Pemerintah Sragen juga mencoba untuk merevitaliasi nilai situs Sangiran melalui media batik. “Media kain yang menggambarkan tentang evolusi manusia purba dan gading-gading yang ditemukan di Sangiran,” kata Septina.

Dia menambahkan, suasana di sekitar situs Sangiran juga sangat menarik untuk dinikmati. Di Sangiran, masih banyak ditemukan rumah kayu sederhana dan suasana masyarakat desa yang bercocok tanam di sawah. “Suasananya alami dan itu tidak dibuat-buat,” kata dia. 


×