Maestro lukis Indonesia, Srihadi Soedarsono. | ANTARA
26 May 2020, 09:30 WIB

Kisah Sang Maestro Lukis

Buku karya maestro lukis ini membedah hubungan spiritual manusia dengan alam semesta.

 

 

Sosok Srihadi Soedarsono telah menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Pria kelahiran Solo pada 4 Desember 1931 itu sering mengabadikan sejarah Indonesia dalam lukisannya. Maka, predikat sebagai maestro lukis Indonesia pun layak disandangnya. Berbagai lukisan telah ia buat hingga tahun ini.

Namun, seperti apakah perjalanan hidup dan apa inspirasi terbesarnya hingga mampu menyuguhkan karya yang begitu apik dan menyimpan makna yang mendalam? Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab lewat bukunya yang berjudul Srihadi Soedarsono Man x Universe.

Lewat buku yang ditulis oleh sang istri, Farida Srihadi, bersama budayawan Jean Couteau, pembaca diajak untuk menyelami kisah hidup dan karya sang maestro. Buku ini pun membedah hubungan spiritual manusia, berikut siklus hidupnya dengan alam semesta.

photo
Rangkaian lukisan besar tentang Jakarta karya pelukis Srihadi Soedarsono terpajang pada pameran bertajuk Menyingkap Ja(YA)karta, di Museum Seni Rupa dan Keramik, di Jakarta Kota, Kamis (24/8/2017) - (ANTARA FOTO)

Untuk menggali kisah dari sang maestro, Couteau melakukan teknik wawancara dan berupaya membuat sang pelukis berbicara, baik tentang riwayat hidupnya maupun tentang jiwa karyanya. Menggunakan teknik kilas balik antara Bali, Bandung, dan Solo, Srihadi mengungkap kepekaan Srihadi terhadap warna yang dipertajam oleh olahan 'roso' (rasa) dan upaya mencapai 'kesempurnaan'.

Kedua hal ini diwariskan oleh lingkungan tempat asalnya di Solo melalui bimbingan sistematis kakeknya. Couteau pun merinci kepekaan itu dalam empat bab yang sarat makna.

 
Srihadi mengungkap kepekaan terhadap warna yang dipertajam olahan 'roso'.
 
 

Pada bagian lain, ada juga cara Srihadi menyikapi warna serta bagaimana pendekatan modern ala ITB Bandung yang diterapkannya menjadi dasar perbedaan pendapat yang cukup tajam dengan pelukis generasi sebelumnya. "Harus melihat ke depan, bukan ke belakang," kata dia.

Dalam bab lain disajikan pula bahasan yang menarik tentang unsur mistisisme Jawa yang turut mendasari kreativitas Srihadi. Tak hanya itu, pengaruh dunia pewayangan turut memacu sisi kreatif pria yang telah memilih belajar ke Bandung, pusat modernisme Indonesia, dan kemudian ke Ohio State University di Amerika, salah satu pusat seni yang paling mutakhir di zaman itu.

Selain itu, hadir pembahasan tentang langkah pelukis yang memilih elemen-elemen representasi tertentu dan terbatas jumlahnya, seperti manusia, horizon, perahu, matahari, awan, hingga Borobudur yang dapat mengambil makna simbolis kosmis tak terhingga. Ini lantas didukung oleh aneka permainan bentuk-warna yang canggih. Semuanya diolah dan dikombinasi sedemikian rupa agar mampu menyiratkan ketakterhinggaan Tuhan dan betapa tak berartinya manusia.

Misalnya, semakin detail manusia, perahu atau pura sehingga hampir-hampir lenyap karena kecil, ini bermakna mewakili manusia yang tak berarti. Sedangkan, semakin banyak gradasi kecil nuansa-nuansa warna, maka bermakna kosmos yang tak terhingga.

photo
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Mensesneg Pratikno (kiri) meninggalkan ruangan usai meninjau Kantor Kementerian Sekretariat Negara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (23/3/2018). Presiden menyempatkan diri bersilaturahmi dengan pegawai di lingkungan Istana sekaligus melihat karya lukisan Affandi Koesoema, Antonio Maria Blanco, Hendra Gunawan, Srihadi Soedarsono, Sugito Slamet, Agus Siswanto, hingga Nasirun - (ANTARA FOTO)

 

Sang kakek

Bagaimana dengan tulisan karya sang istri? Naskah Farida menekankan bagaimana sikap Jawa Srihadi dibina dan dipupuk sedari kecil serta dikembangkan di dalam karyanya. Naskahnya merupakan sejenis perjalanan intuitif di seputar sejumlah topik yang masing-masing bermunculan kembali beberapa kali di sepanjang naskah.

Seperti riwayat hidup Srihadi yang terkait erat dengan kakeknya (eyang), terutama pada waktu Srihadi masih bocah. Sang eyang inilah yang merupakan figur yang mewariskan semangat nasionalis sertai nilai-nilai Jawa atau kejawen dasar untuk Srihadi.

Eyangnya meninggal di Makkah ketika Srihadi baru berumur enam tahun, tapi kenangannya menyertai pelukis hingga kini di usia yang sudah uzur. Dikisahkan pula pengalaman Srihadi sebagai pemuda dan ilustrator perang pada waktu revolusi meskipun dia baru berumur 15 tahun ketika itu. Untuk jasa itu, dia dianugerahkan Bintang Gerilya (1958).

photo
Pelukis senior Indonesia, Srihadi Soedarsono (80 tahun) kelahiran Solo, Jawa Tengah, didampingi istrinya Faerida Srihadi, memegang buku tentang dirinya yang berjudul Srihadi dan Seni Rupa Indonesia, di Art:1 New Museum, Jakarta, Sabtu (23/6/2018) - (ANTARA)

 

Pemaparan yang tak kalah menarik adalah nilai-nilai Jawa yang dipegang Srihadi yang presentasinya disemai sepanjang naskah. Farida menjelaskan bagaimana nilai-nilai Jawa itu diturunkan, yaitu melalui ajaran kakeknya, lewat tontonan wayang, serta melalui latihan khas perilaku sepanjang hayat.

Nilai-nilai Jawa dipaparkan secara acak, pada umumnya dengan disertai oleh kajian tersendiri. Beberapa contohnya adalah mamahu-hayuning buwono (memperjuangkan kemajuan dunia), tanggap ing sasmito (memahami tanda), manunggaling kawulo Gusti (mendekat dengan Tuhan), laku prihatin (melatih batin), dan sebagainya.

Akhirnya, lewat bukunya ini, kita pun memahami bahwa sosok Srihadi tak sekadar maestro simbolis Indonesia. Srihadi Soedarsono termasuk salah seorang maestro simbolis-koloris kelas dunia.

 


×