Pedagang kulit ketupat menata dagangannya di Jalan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (21/5/). Menurut pedagang menjelang perayaan Lebaran Idul Fitri 1441 H penjualan kulit ketupat menurun hingga 50 persen dari tahun sebelumnya akibat Pembatasan Sosial | ASPRILLA DWI ADHA/ANTARA FOTO
23 May 2020, 13:06 WIB

Lebaran Penuh Pengorbanan

Pemimpin negara berterimakasih atas pengorbanan umat Islam selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Oleh Febrian Fachri, Sapto Andika Candra, Umar Mukhtar

Siang itu, Kaswarni (78) tahun terlihat duduk sendirian di sebuah bangku di depan teras rumahnya. Rumah Nenek Kas, biasanya ia dipanggil, berada di Jorong Koto Tuo, Nagari Sulit Air, Kecamatan X Koto Diateh, Kabupaten Solok di Sumatra Barat.

Gamang perasaan Nenek Kas pada momen Ramadhan dan menjelang Idul Fitri yang jatuh pada Ahad (24/5). Biasanya sekitar sepekan sebelum Idul Fitri, rumahnya sudah ramai dan riuh kedatangan satu persatu anak-anak dan cucu-cucunya dari rantau.

"Sekarang rasanya agak beda. Karena korona ini, anak-anak dan cucu-cucu emak tidak bisa pulang kampung untuk lebaran. Sedih rasanya sekarang rumah ini sepi di momen mau lebaran," kata Nenek Kas kepada Republika di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Terkait

Saat Republika mampir, rumah Nenek Kas terlihat rapi. Ia menuturkan baru saja merapikan isi rumah termasuk mengelap foto-foto keluarga. Nenek Kas menyebut beberapa hari belakangan, ia jadinya sering membuka lagi album-album foto keluarga menengok potret  anak-anak dan cucunya untuk melepas rindu. 

 
Saya pesan kepada anak-anak tetap jaga diri. Tidak apa-apa tidak pulang kampung lebaran kali ini. Emak dalam keadaan baik. Kalian anak-anak dan cucu Emak tetap bertaqwa kepada Allah, jangan dirikan shalat supaya Allah bisa lepaskan kita semua dari corona ini.
Kawarni (78 tahun), warga Sulit Air, Solok
 

Nenek Kas memiliki tujuh anak. Enam di antaranya  merantau di Jakarta, satu lagi di Malaysia. Mayoritas anak-anaknya di Jakarta menurut Nenek Kas bekerja sebagai pedagang di Pasar Tanah Abang. 

Sekarang karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan Pemprov DKI Jakarta, Pasar Tanah Abang tutup dan anak-anak Nenek Kas juga terdampak secara ekonomi. 

Sebelum ada PSBB, anak-anak nenek Kas berencana pulang mudik lengkap beserta cucu. Tapi harapan keluarga Kaswarni pupus karena arus transportasi dan pergerakan orang antar daerah sekarang sangat sulit karena pemerintah sedang berupaya menahan penularan virus corona.

Nenek Kas mengatakan berupaya mencoba ikhlas dan bersyukur. Karena sampai sekarang semua anak dan cucunya masih aman dari covid-19. Nenek Kas ikhlas berlebaran kesepian di kampung halaman asalkan semua anak dan cucunya dalam keadaan baik dan sehat di rantau.

"Saya pesan kepada anak-anak tetap jaga diri. Tidak apa-apa tidak pulang kampung lebaran kali ini. Emak dalam keadaan baik. Kalian anak-anak dan cucu Emak tetap bertaqwa kepada Allah, jangan dirikan shalat supaya Allah bisa lepaskan kita semua dari corona ini," ucap Nenek Kas.

photo
Warga asal Gorontalo merayakan tradisi khas kampung halamannya yakni tradisi Tumbilotohe atau malam pasang lampu di rumahnya di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (20/5). Warga perantau terpaksa merayakan tradisi khas kampung halaman mereka di perantauan akibat adanya larangan mudik guna mencegah penyebaran Covid-19 - (Mohamad Hamzah/ANTARA FOTO)

Wali Nagari Sulit Air Alex Suryani mengatakan suasana di nagarinya pada momen Ramadhan dan Idul Fitri kali ini memang sangat jauh berbeda. Sulit Air yang berada 22 kilo meter dari Danau Singkarak kini tidak terlihat mobil-mobil mewah para perantau yang pulang kampung. Biasanya setiap Idul Fitri menurut Alex dua pekan sebelum Idul Fitri, jalanan Sulit Air sudah ramai dengan hiruk pikuk dan suasana ceria para perantau yang melepas rindu dengan keluarga di kampung.

"Sekarang para perantau tidak banyak yang pulang kampung. 85 persen warga Sulit Air ini ada di rantau. Hanya 15 persen yang ada di kampung halaman," ucap Alex. Meski  tidak pulang kampung, menurut Alex sumbangsih para perantau untuk kampung halaman tetap mengalir. Bagaimanapun, momen lebaran kali ini menurut Alex tetap  tidak biasa bagi warga Sulit Air tanpa melihat kehadiran para perantan pulang kampung.

Tak pulang kampung baru satu saja pengorbanan umat Islam pada masa-masa Ramadhan dan Idul Fitri 1441 Hijriyah ini. Rutinitas ibadah juga ditahan dilakukan di kediaman masong-masing. Tak terkecuali untuk Shalat Idul Fitri Nanti. )."Saat mendengarkan suara adzan, batin saya menangis. Rindu ingin shalat berjamaah di masjid. Namun saat seperti ini tidak mungkin saya lakukan demi menghindari penyebaran wabah Covid-19," kata Bupati Siak Alfedri dengan suara terbata-bata dan terisak mengimbau warga agar menjalankan rutinitas ibadah hanya di rumah saja, Jumat (22/5).

 
Saat mendengarkan suara adzan, batin saya menangis. Rindu ingin shalat berjamaah di masjid. Namun saat seperti ini tidak mungkin saya lakukan demi menghindari penyebaran wabah Covid-19.
Alfredi, Bupati Siak
 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengamini bagaimana Lebaran tahun ini dirayakan dengan cara yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat dituntut pengorbanannya untuk tidak mudik dan menjalankan silaturahim seperti biasa.

Kendati begitu, Jokowi mengingatkan bahwa pengorbanan untuk tidak mudik dan bersilaturahim secara tatap muka dilakukan demi keselamatan bersama. Terutama, keselamatan dan kesehatan keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Semuanya dilakukan demi mencegah penularan Covid-19. 

"Keselamatan handai taulan dan sanak saudara tentu lebih penting dan harus menjadi prioritas kita semua. Saya yakin, kita bersama-sama Bangsa Indonesia mampu melewati ujian berat ini," kata dalam sambutan Idul Fitrinya, Sabtu (23/5). Pada Lebaran tahun ini, presiden juga meniadakan gelar griya house seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini juga diikuti oleh seluruh menteri dan pejabat negara yang juga tidak mengadakan open house

Pengorbanan selama masa Ramadhan dan menjelang Idul Fitri bukan khas Muslim Tanah Air saja pada masa pandemi ini. Seluruh umat Islam di wilayah terdampak ikut menahan diri. "Rencananya kami akan sholat Idul Fitri di rumah sesuai dengan himbauan pemerintah. Semoga suami bisa siapkan khutbah juga," ujar Nila, seorang warga Melbourne kepada ABC.

Wanita asal Sulawesi yang menikah dengan warga Australia Peter Lilly (Muaz) dan telah dikaruniai tiga orang anak ini selalu antusias menunggu lebaran karena sekaligus menjadi momen untuk mudik ke Indonesia. "Tahun kemarin kami pulang ke Kendari," katanya. 

Dengan adanya pembatasan Covid-19, keluarga ini sedih perayaan lebaran kali ini menjadi berbeda dan hanya dilakukan bersama keluarga masing-masing di dalam rumah. "Biasanya kita merayakannya di ruang terbuka dan bertemu sanak saudara dan kolega," kata Nila.

Meski demikian, ia melihat sisi positif pembatasan Covid-19 karena Ramadan dan lebaran kali ini justru memperkuat ikatan antara anggota keluarganya. "Suami saya mengatakan semenjak menjadi imam salat tarawih setiap malam secara rohaniah merasa lebih baik. Alhamdulillah," ujar Nila.

Terkait hal itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengucapkan terima kasih kepada seluruh Muslim di negaranya karena telah berkorban selama Ramadhan 1441 Hijriah akibat pandemi wabah Covid-19. 

photo
Pemilik mitra SpringreensMuhammad Jihad mendistribusikan makanan untuk berbuka puasa di Atlanta, Georgia, AS, Selasa (19/5). - (EPA-EFE/ERIK S. LESSER)

"Muslim Australia, seperti semua orang Australia, telah melakukan pengorbanan besar dalam beberapa waktu terakhir. Anda rela melakukan ini dan lebih banyak melindungi satu sama lain, menunjukkan keimanan melalui pengorbanan," kata Morrison dilansir dari laman SBS News, Jumat (22/5).

Morrison juga menyadari, perayaan Idul Fitri kali ini tentu menjadi sangat berbeda. Meski demikian inti hari kemenangan bagi umat Muslim itu tetap sama. "Pesan Idul Fitri dan memang pesan saya kepada Anda belum berubah, itu salah satu harapan," katanya.

 
Muslim Australia, seperti semua orang Australia, telah melakukan pengorbanan besar dalam beberapa waktu terakhir. Anda rela melakukan ini dan lebih banyak melindungi satu sama lain.
Scott Morrison, Perdana Menteri Australia
 

Menurut Morrison, seluruh pemeluk agama di Australia telah bersatu dan mengikuti saran ahli kesehatan sehingga negaranya bisa menang melawan virus yang mengerikan itu. 

Lebih lanjut, Morrison juga berterima kasih kepada para pemimpin Muslim karena telah memberi contoh yang baik dalam memimpin komunitas Muslimnya. "Anda sudah sangat membantu. Dan saya tahu itu akan terus dilakukan. Anda membuat perbedaan," katanya.

Morrison berharap Hari Raya Idul Fitri kali ini memberikan semangat kepada mereka yang merayakannya supaya bisa menghadapi masa-masa sulit di masa yang akan datang. "Saya ucapkan terima kasih yang mendalam kepada semua Muslim atas kontribusinya untuk Australia setiap hari," ucapnya.


×