Petugas memeriksa kesehatan calon penumpang sebelum pemberangkatan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/5/2020). Sebanyak 1486 penumpang berizin dengan 23 penerbangan diterbangkan dari Bandara Soekarno Hatta dengan dokumen sy | FAUZAN/ANTARA FOTO
27 May 2020, 01:21 WIB

Protokol Membingungkan di Bandara

Perjalanan luar negeri jadi salah satu penambahan faktor penularan Covid-19.

Oleh RIZKY SURYARANDIKA, RAHAYU SUBEKTI, DADANG KURNIA

Meka Saima Perdani, seorang mahasiswi doktoral Universitas Indonesia (UI) tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Senin (18/5) sore. Ia saat itu kembali dari urusan studi di Jepang.

Turun dari pesawat, Mekka ingat diarahkan mengisi surat pengantar karantina sebelum digiring untuk pengecekan suhu, saturasi dan nadi. Meka juga menempuh rapid test yang berujung non reaktif (negatif).

Proses ini, menurutnya, dilakukan tanpa edukasi yang memadai. "Kami tidak dijelaskan mengapa harus karantina meski hasil uji Covid-19 menunjukkan negatif," kata Meka dalam tulisannya yang dikonfirmasi Republika pada Jumat (22/5).

Terkini

Usai rapid test, Meka menuju bagian Imigrasi untuk stempel kedatangan di Indonesia. Saat itu, ia mengklaim paspornya ditahan oleh petugas Imigrasi sebagai jaminan agar Meka tak melarikan diri. Sayangnya, pihak Imigrasi sempat berbohong dengan menyatakan Paspor akan dibagikan di luar bandara.

Meka dan pendatang dari luar negeri lainnya kemudian keluar bandara tanpa pengawalan ketat menuju bus. Bus ini akan mengantar mereka ke Wisma Atlet C2 Pademangan. "Banyak penumpang tidak mengetahui akan informasi ini, mereka kaget, heran dan tidak sedikit yang menangis," ungkap Meka.

photo
Tenaga Medis beraktivitas di Wisma Atlet Kemayoran yang difungsikan sebagai rumah sakit darurat di Jakarta, Selasa (14/4). - (Republika/Putra M. Akbar)

Setibanya di Wisma Atlet pada Senin malam, Meka memantau tak ada arahan dan pengawasan untuk menjalani tiap tahapan. Bahkan tanda tahapan berupa poster dan banner tak disediakan. Meka menuding haknya atas perolehan informasi terabaikan disana. Ia heran karena kecanggihan teknologi tak bisa dimanfaatkan dalam memberi informasi jelas.

"Kami mengikuti prosedur yang informasinya tidak pernah kami dapatkan. Tidak ada protokol yang jelas," sebut Meka. Meka mengamati prosedur physical distancing juga sering terabaikan disana. Pertama, berjajar pedagang di pagar luar Wisma Atlet. Kedua, penghuni Wisma Atlet bebas mengopi, makan dan bergerombol.

"Penggunaan lift tidak terkontrol, berdesakan, adu bahu dan kadang adu mulut. Akhirnya, physical distancing pun gagal diterapkan.

Menurutnya, para penghuni perlu melewati tes swab jika ingin angkat kaki dari Wisma Atlet. Dari ribuan sampel, petugas mengumumkan hasil yang sudah keluar lewat pengeras suara. Suaranya tak sampai ke kamar penghuni.

Sehingga penghuni harus aktif keluar kamar mencari informasi. Bahkan sempat terjadi kerumunan massa yang menanyakan hasil swabnya di depan posko kesehatan. "Jika informasi hasil swab dapat diakses oleh warga dengan sistem online maka mungkin akan mengurangi keramaian. Kita bukan hidup di era purba yang memakai sistem kuno," tegas Meka.

Hasil swab Meka keluar kemarin. Meka diizinkan pulang karena hasilnya menunjukkan negatif covid-19.

Gugu tugas

Kendala protokol dan kordinasi itu agaknya disadari peemrintah. Pada Kamis (21/5), dibentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Soekarno-Hatta dibentuk. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menunjuk Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) Muhammad Awaluddin menjadi ketua pengarah untuk memperkuat sinergitas di masa pembatasan penerbangan dan Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi menjadi ketua pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Soekarno-Hatta.

photo
Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) memeriksa sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, Jumat (22/5/2020). - (FENY SELLY/ANTARA FOTO)

"Bandara Soekarno-Hatta memiliki peran sangat vital di tengah pandemi ini, salah satunya guna mempercepat penanganan Covid-19 Oleh karena itu, operasional Soekarno-Hatta saat ini didukung oleh adanya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Soekarno-Hatta,” kata Awaluddin, Kamis (21/5). 

Hal tersebut menurutnya sesuai dengan Instruksi Menteri Perhubungan Nomor 19 Tahun 2016 yang menyatakan harus adanya penanggung jawab tunggal dalam operasional kebandarudaraan. Single accountable dalam hal tersebut yakni Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta.

Awaluddin memastikan gugus tugas tersebut juga selalu berkoordinasi dengan Satgas Udara dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional. Selain itu juga memiliki tugas memastikan operasional Bandara Soekarno-Hatta selalu sesui regulasi.

Dia menegaskan akan menetapkan berbagai prosedur yang salah satunya adalah penanganan keberangkatan dan kedatangan penumpang pesawat. “Fokus saat ini memang adalah menjalankan ketentuan SE Nomor 4 Tahun 2020 terkait dengan keberangkatan penumpang domestik dan SE Menteri Kesehatan Nomor 313 Tahun 2020 terkait kedatangan penumpang internasional,” ujar Awaluddin.

Sebanyak 239 personel Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Soekarno-Hatta dikerahkan khusus mengawal berjalannya prosedur keberangkatan penumpang rute domestik dan kedatangan penumpang internasional. Personel tersebut terdiri dari Aviation Security dan Medical Service Assistant dari PT Angkasa Pura II, KKP-Kemenkes, dan TNI/Polri.

Dengan penambahan personel, menurutnya prosedur dijalankan semakin ketat. Awaluddin memastikan seluruh personel berupaya menjalankan tugas sebaik-baiknya dan jika terjadi kekurangan akan dievaluasi.

photo
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) berada di dalam pesawat Air India AI-1312 bersiap untuk terbang ke Jakarta dari Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji, Mumbai, India, Jumat (22/5). - (KJRI Mumbai/ANTARA FOTO)

Penularan Covid-19 di bandara memang jadi salah satu kekhawatiran selepas pelonggaran pembatasan transportasi beberapa waktu lalu. Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi menyatakan, faktor penumpang udara menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus di Jawa Timur. Pada Kamis (21/5), tercatat lonjakan 451 kasus di Jatim dan menyumbang rekor penularan harian secara nasional.

Menurut Joni, tambahan paling banyak adalah dari pasien dalam pengawasan serta klaster-klaster yang sudah ada sebelumnya, seperti pabrik rokok, pasar dan lainnya. "Beberapa faktor adanya kasus baru juga mempengaruhi, salah satunya mobilitas penumpang udara yang tinggi setiap harinya," kata dia.

Kemudian pada 15 Mei lalu, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) beserta PT Angkasa Pura II (Persero) mendeteksi 131 reaktif Covid-19 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kepala KKP Kelas I Soekarno-Hatta Anas Ma’ruf menuturkan, peristiwa ini terjadi di penerbangan internasional. “Penerbangan itu membawa pulang sekitar 203 WNI yang bekerja sebagai anak buah kapal ke Tanah Air," kata dia Senin (18/5).

Penumpang itu merupakan penumpang penerbangan khusus repatriasi atau pemulangan WNI dari Barbados. Penerbangan ini dilayani menggunakan maskapai Wamos Air.


×