Didin Hafidudin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

16 May 2020, 02:00 WIB

Mengundang Rahmat dan Pertolongan Allah SWT

Beberapa perilaku utama yang dikemas bersama doa yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT.

 

Oleh PROF KH DIDIN HAFIDHUDIN 

Kita bersyukur kepada Allah SWT, hari ini kita sudah memasuki hari ke 23 dari bulan suci Ramadlan 1441 H yang penuh dengan kemuliaan, keagungan, dan keberkahan. Hari-hari yang biasanya kaum Muslimin berbondong-bondong melakukan kegiatan iktikaf 'Asyrul Awakhir (sepuluh hari terakhir) di masjid-masjid. Tetapi, untuk tahun ini, karena situasi tidak memungkinkan akibat pandemi Covid-19, kita manfaatkan beribadah di rumah dengan keluarga, seperti shalat Tahajud, tadarus Quran, berzikir dan berdoa, terutama dengan banyak membaca doa yang masyhur, Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah segala dosa dan kesalahan kami.

Doa yang sungguh-sungguh, yang disertai dengan kerja dan ikhtiar yang maksimal, harus menjadi gaya hidup sekaligus kebutuhan orang-orang yang beriman. Dalam menggapai suatu cita-cita dan keinginan, atau menghadapi suatu keadaan, seperti menghadapi musibah pandemi Covid-19 ini, maka perpaduan antara doa dan kerja keras inilah yang akan mengundang rahmat dan pertolongan-Nya. 

 
Beberapa perilaku utama yang dikemas bersama doa yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT.
 
 

Sebagaimana firman-Nya dalam QS at-Taubah [9] ayat 71: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Para perintis dan para pejuang kemerdekaan RI telah memberikan contoh bagaimana memadukan dua hal tersebut, seperti termaktub pada mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 alenia ketiga: “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

Beberapa perilaku utama yang dikemas bersama doa yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT, antara lain sebagai berikut.

Pertama, memiliki keimanan dan keyakinan yang kuat, yang tecermin dari perilaku kesehariannya, seperti jujur, disiplin, memiliki etos kerja dan etos mencari ilmu yang tinggi, penyayang dan pemaaf kepada sesama serta bersedia dan berusaha mengaplikasikan ajaran Islam dalam berbagai bidang kehidupan, seperti kegiatan ekonomi syariah dengan tiga pilarnya (sektor riil, sektor moneter, serta sektor ziswaf. Perhatikan QS al-Baqarah [2] ayat 275-279).

Kedua, memiliki kesadaran yang kuat untuk saling bersinergi dengan sesama kaum Muslimin, saling tolong-menolong (taa'wun) saling mengisi kekurangan dan kelemahan, saling menguatkan dalam barisan yang rapi. Selalu berusaha membangun ukhuwah Islamiyah dan berusaha melakukan islah apabila terjadi kekisruhan. Firman-Nya dalam QS al-Anfaal (8) ayat 46 dan QS al-Hujurat (49) ayat 10.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8]: 46).

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurat [49]: 10).

 
Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. 
HR Tirmidzi
 

Ketiga, ikut aktif dalam kegiatan amar makruf nahyi munkar dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan lisan, tulisan, dan amal nyata. Terlibat aktif dalam institusi pendidikan, institusi kesehatan, institusi keuangan, dan lain-lain sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing.

Keempat, menegakkan shalat dengan penuh kesungguhan, keikhlasan, dan kekhusyukan. Shalat juga dijadikan sarana untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT. Firman-Nya dalam QS al-Baqarah (2) ayat 45 dan 46: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (45) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (46).”

Kelima, bersedia untuk selalu berzakat dan berinfak dari sebagian rezeki yang Allah berikan kepadanya. Berzakat dan berinfak serta semangat berbagi kepada mereka yang membutuhkan, apalagi pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini, menjadi sebuah keniscayaan. Itu semua akan mengundang kedekatan dengan-Nya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil (bodoh) tapi ia pemurah, itu lebih dicintai oleh Allah daripada ahli ibadah tapi ia bakhil.” (HR Tirmidzi).

Keenam, memiliki kepatuhan dan ketundukan kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya, karena diyakini akan membawa pada kesuksesan. Firman-Nya dalam QS an-Nuur (24) ayat 51 dan 52: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (51). Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan (52).”

Semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah SWT yang selalu bertakwa kepada-Nya sehingga selalu dilindungi-Nya dalam berbagai musibah dan marabahaya. Amien.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab


×