Warga antre membeli barang kebutuhan pokok saat pasar murah serentak di Kampung Mulia, Banda Aceh, Aceh, Rabu (13/5). | AMPELSA/ANTARA FOTO

Tajuk

14 May 2020, 02:00 WIB

Saatnya Menindak Spekulan

Pola memainkan harga kala Ramadhan dan Lebaran sudah setiap tahun terjadi.

Menjelang masuk pekan keempat Ramadhan, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok masih menunjukkan tren tinggi. Hal ini tentu merepotkan. Apalagi, beberapa hari lagi masuk Lebaran yang biasanya kebutuhan terhadap bahan pokok meningkat.

Berdasarkan data harga pangan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per Rabu (13/5), sejumlah bahan pokok memperlihatkan indikator warna merah yang berarti mengalami kenaikan ketimbang hari sebelumnya. Di antaranya, telur ayam ras segar, cabai rawit hijau, minyak goreng kemasan bermerek. Berikutnya, bawang merah ukuran sedang, cabai rawit merah, gula pasir lokal, bawah putih ukuran sedang, minyak goreng curah, dan cabai merah keriting.

Kenaikan tertinggi terjadi pada cabai rawit merah dan cabai rawit hijau. Persentasenya masing-masing 4,14 persen menjadi Rp 36.500 per kilogram atau naik Rp 1.450 dan 3,52 persen menjadi Rp 30.850 per kilogram atau naik Rp 1.050.

Bawang merah ukuran sedang juga naik 0,96 persen atau Rp 500 menjadi Rp 52.500 per kilogram. Demikian pula, gula pasir lokal yang naik 0,85 persen menjadi Rp 17.700 per kilogram atau naik Rp 150. Tentu masih ada kemungkinan naik atau bahkan turun.

Masalahnya, harga beberapa bahan pangan ini belum memperlihatkan tanda melandai. Hal inilah yang menggelisahkan Presiden Joko Widodo hingga muncul anggapan spekulan memainkan ketidakstabilan harga pangan tersebut.

Menurut Presiden, harga bawang merah yang saat ini di pasaran Rp 52 ribu per kilogram semestinya bisa diturunkan hingga Rp 32 ribu. Harga gula pasir di pasaran bisa tembus Rp 17.500 per kilogram, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 12.500.

Presiden mempertanyakan penyebab harga komoditas tersebut belum juga turun signifikan. Presiden pun memerintahkan jajaran kementerian terkait untuk mengungkap penyebab masih tingginya harga gula pasir dan bawang merah.

Bukan tidak mungkin ada faktor rekayasa yang melambungkan harga. Sebab, kenaikan harga pangan karena rekayasa, justru bukan petani yang diuntungkan. Mafia-mafia panganlah yang menikmati rantai panjang distribusi.

Stok sejatinya tersedia cukup, demikian pula pasokan petani. Distribusi dari hulu ke hilir tidak ada masalah. Namun, konsumen mengaku kesulitan mendapatkan bahan pangan tertentu.

Kalaupun ada, harga yang dipatok pedagang sudah mahal. Sementara itu, tidak ada pilihan barang lain yang tersedia di pasaran. Bila demikian, mesti diusut tuntas letak faktor penyumbatan yang membuat harga bertahan tinggi.

 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2020 sudah memberi sinyal merah. BPS mencatat adanya deflasi bahan pangan 0,13 persen yang mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat pada periode itu.
NAMA TOKOH
 

"Saya ingin ini dilihat masalahnya di mana. Apakah masalah distribusi atau stoknya kurang atau ada yang sengaja permainkan harga untuk sebuah keuntungan yang besar," kata Presiden saat rapat terbatas melalui telekonferensi video membahas antisipasi kebutuhan pokok, dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/5).

Masih mahalnya sejumlah bahan pangan kala virus Covid-19 mengancam jelas membuat kondisi sosial ekonomi tertekan. Penularan virus korona yang sangat masif selain mengancam jiwa, juga membatasi pergerakan ekonomi warga.

Akibatnya, roda perekonomian melambat yang berujung pada penambahan jumlah rakyat miskin dan pelemahan daya beli. Pada saat bersamaan, harga kebutuhan pokok yang tak terjangkau bisa memunculkan kerawanan sosial.

Pembagian bantuan sosial yang saat ini sedang berjalan saja menimbulkan keresahan di beberapa wilayah. Apalagi, jika tak ada pembagian bantuan sosial karena keterbatasan anggaran.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2020 sudah memberi sinyal merah. BPS mencatat adanya deflasi bahan pangan 0,13 persen yang mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat pada periode itu.

Permintaan bahan pangan yang berkurang bisa bermakna daya beli masyarakat turun atau bahan pangan tak terjangkau karena harga yang mahal atau perpaduan keduanya. Bila daya beli yang turun, bisa didorong salah satunya dengan menambah bantuan sosial.

Namun, bila harga pangan mahal yang menjadi penyebab, instrumen pemerintah pusat, pemda, satgas pangan, dan penegak hukum yang mesti bertindak.

Pola memainkan harga kala Ramadhan dan Lebaran sudah setiap tahun terjadi. Pemerintah tak perlu lagi belajar mencari penyebabnya. Yang diperlukan kini adalah menindak tegas para mafia dan spekulan. 


×