Pelaku bisnis berjalan di latar depan papan elektronik indeks saham Nikkei 225 pada Jumat (24/4) lalu, di Tokyo, Jepang. | AP/Eugene Hoshiko
28 Apr 2020, 21:04 WIB

Menerka Arah Pertumbuhan Asia

Pertumbuhan ekonomi Asia menuju zero growth, bahkan resesi.

OLEH AGUNG P VAZZA

 

 

Perekonomian Asia masih sakit. Seluruh penentu kebijakan di negara-negara di kawasan masih berupaya keras menghentikan penyebaran dan pandemi Covid-19. Bersamaan dengan itu, disibukkan pula dengan antisipasi dan mitigasi imbas pandemi terhadap perekonomian.

Terkait

Pandemi memang melumpuhkan hampir seluruh sektor perekonomian, baik jasa maupun perdagangan ekspor impor. Pasokan dan permintaan di kawasan terhantam secara bersamaan menyebabkan perekonomian limbung. Pandemi bahkan disebut-sebut menyeret perekonomian Asia ke arah krisis dan resesi.

Krisis kali ini pun tidak seperti krisis-krisis sebelumnya. Lebih parah dari krisis finansial Asia dan global atau krisis lainnya beberapa puluh tahun lalu. Dampak pandemi virus terhadap perekonomian kawasan sangat luas dan sulit diperkirakan.

"Saat ini memang dipenuhi ketidakpastian sekaligus menjadi tantangan sangat berat bagi perekonomian global, tidak terkecuali Asia," ungkap Changyong Rhee, direktur Asia Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF), dilansir Reuters, pekan lalu.

Segenap penentu kebijakan perlu benar-benar menopang rumah tangga dan dunia usaha yang terpukul keras akibat larangan perjalanan, social distancing, dan tindakan-tindakan lain guna menghentikan pandemi.

Bagi dunia usaha, "Sekarang ini jelas bukan business as usual. Pemangku kebijakan di kawasan harus menggunakan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki," tambahnya. Dampak pandemi terhadap perekonomian kawasan memang tidak main-main, lebih parah dibanding krisis-krisis sebelumnya. Kawasan Asia Pasifik, saat krisis finansial global masih mampu tumbuh 4,7 persen, dan tumbuh di kisaran 1,3 persen selama krisis finansial Asia.

photo
Penurunan PDB Asia sepanjang sejarah - (Teraju, REPUBLIKA)

Secara keseluruhan, perekonomian global diprediksi bakal terkontraksi sampai tiga persen tahun ini. Angka ini lebih parah dari kontraksi selama krisis keuangan global, 2008-2009, sekaligus penurunan paling tajam sejak "Great Depression" di era 1930-an.

Sedangkan Asia, jelas Changyong, IMF memproyeksikan perekonomian Asia tahun ini tidak mengalami pertumbuhan sama sekali, alias zero growth, di titik nol persen. Ditambahkannya, dalam proyeksi terbaru IMF terhadap Asia Pasifik, posisi tersebut merupakan posisi terendah sekaligus pertama kali terjadi dalam kurun 60 tahun terakhir.

Pemerintahan di semua negara Asia tentu saja sudah mengambil sejumlah langkah untuk memitigasi, dengan tetap mengutamakan dukungan langsung pada sektor kesehatan. Langkah itu diperkuat pula dengan paket-paket stimulus demi menopang sektor-sektor perekonomian yang terimbas, termasuk usaha kecil dan menengah. Bank-bank sentral di kawasan sudah pula mengeluarkan amunisinya berupa pemangkasan suku bunga, memperkuat likuditas, sampai quantitative easing.

photo
Karyawan membersihkan lantai di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin sore ditutup positif dengan menguat 17 poin atau 0,38 persen ke level 4 - (PUSPA PERWITASARI/ANTARA FOTO)

Pemulihan

Langkah-langkah itu saja belum cukup kuat untuk menahan kemerosotan pertumbuhan ekonomi Asia menuju zero growth, dan bahkan resesi. Begitupun, menurut Changyong, IMF memperkirakan kinerja perekonomian Asia masih lebih baik ketimbang kontraksi ekonomi di kawasan lain. Sejumlah perekonomian negara maju di kawasan memang diperkirakan terperosok dalam krisis dan resesi yang cukup dalam.

IMF memperkirakan negara-negara dimaksud tak lain Singapura, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Hong Kong. Singapura, misalnya. Produk domestik bruto (PDB) riil negara ini diperkirakan IMF tahun ini sampai menyentuh angka minus 3,5 persen. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, dilansir The Strait Times, bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan PDB sepanjang tahun ini sampai kisaran minus empat persen.

Ketika negara-negara maju di Barat dan sebagian Asia ditengarai menuju resesi, Cina, perekonomian dunia terbesar kedua, justru disebut IMF mampu menghindari resesi. Meskipun tahun ini hanya mencatat pertumbuhan 1,2 persen, angka terendah dalam empat dekade terakhir, tapi negara awal pandemi virus ini masih mengalami pertumbuhan positif. Bahkan pertumbuhannya kembali meroket pada 2021 menuju kisaran 9,2 persen.

Sejumlah negara-negara berkembang Asia diproyeksikan menjadi satu-satunya kawasan yang mampu mencatat pertumbuhan positif selama 2020, meski rata-rata pertumbuhan di perkirakan lima persen lebih rendah dibanding dekade sebelumnya. India, perekonomian terbesar ketiga Asia, juga diproyeksikan mencatat pertumbuhan positif tahun ini, di kisaran 1,9 persen. Tahun berikutnya, perekonomian India pun diprediksi mengalami lompatan ke posisi 7,4 persen.

photo
Perbandingan PDB Real Negara Maju vs Berkembang - (Teraju, REPUBLIKA)

Perekonomian Indonesia, diproyeksikan IMF, juga tetap berada di area positif. Meski hanya mengalami pertumbuhan sedikit di atas nol persen, tapi belum sampai mengalami pertumbuhan negatif. Pada 2021, pereko nomian negara terbesar Asia Tenggara ini bahkan melesat sampai ke kisaran 8,2 persen. Filipina tak jauh berbeda dengan Indonesia. Sedangkan Malaysia dan Thailand, tahun ini diperkirakan mencatat pertumbuhan negatif. Vietnam, seperti diproyeksikan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam Asian Development Outlook 2020, menjadi perekonomian dengan pertumbuhan tertinggi. Setelah mencapai tujuh persen pada 2019, merosot ke posisi 4,3 selama tahun ini, dan kembali tumbuh ke posisi 6,8 persen pada 2021.

Bicara pemulihan perekonomian Asia boleh jadi tetap sulit diperkirakan. Hanya saja, Cina tetap diproyeksikan menjadi pengatrol utama pemulihan ekonomi di kawasan. Begitupun, muncul pula pandangan yang menyebutkan pemulihan kekuatan perekonomian Cina juga sangat bergantung pada pemulihan di kawasan lain dunia. Langkah-langkah Cina memulihkan perekonomian dengan masifnya stimulus, bisa saja kurang berdampak positif selama kawasan lain dunia masih belum menentu.

Arah pertumbuhan ekonomi Asia selama beberapa tahun ke depan, termasuk seberapa cepat pemulihan terjadi, mungkin memang sulit diterka. Pemulihan bisa saja terjadi dengan cepat seiring pulihnya kegiataan ekonomi dan sosial publik. Bukan tak mungkin pula pemulihan terjadi secara gradual. Apapun, semua prediksi memunculkan sebuah konsensus; pemulihan perekonomian bakal sangat bergantung pada berapa lama pandemi virus bisa dihentikan. Harapan jelas ada. Namun, bagi Asia, sepertinya sulit membayangkan mampu memulihkan perekonomian sendiri, tanpa pemulihan global.


×