Pedagang menata kain tekstil dagangannya di Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Kamis (16/4/2020). Sekretaris Jendras Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) secara keseluruhan ke global turun sebesar 30-40 per | FAUZAN/ANTARA FOTO

Ekonomi

28 Apr 2020, 00:44 WIB

Asosiasi Tekstil Minta Perketat Impor

Dengan adanya wabah Covid-19, industri tekstil dalam negeri diharapkan bisa lebih mandiri.

JAKARTA -- Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) berharap pemerintah bisa melindungi pasar domestik dengan memperketat produk impor masuk ke Indonesia. Menurut API, proteksi pasar diperlukan agar ketika wabah Covid-19 berakhir industri tekstil dan produk tekstil (TPT) lokal dapat bangkit kembali. 

"Saat ini, garmen Bangladesh, India, dan Vietnam rata-rata di-cancel. Jadi, ketika nanti kondisi normal, garmen mereka bisa masuk Indonesia kalau Indonesia tidak lakukan proteksi," ujar Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Senin (27/4).

Jemmy mengatakan, asosiasi sudah menyampaikan hal tersebut kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Beberapa industri yang selama ini berorientasi ekspor pun bisa menjual produknya ke pasar dalam negeri.

"Kalau pasar lokal tidak diproteksi, TPT bisa sulit bangkit. Sementara, cashflow hampir habis dan tetap wajib bayar gaji karyawan dan lainnya," tutur Jemmy. 

Saat ini tingkat permintaan dalam negeri anjlok seiring dengan penutupan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tak hanya itu, kegiatan ekspor juga terganggu akibat Covid-19. 

Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan beberapa anggota API terpaksa menutup usahanya. API mencatat, pada pekan kedua bulan ini, sudah 80 persen tenaga kerja sektor TPT dirumahkan.

 
Kami melakukan pendataan setiap pekan, saat ini utilisasi di bawah 20 persen menuju lima persen. Angka tersebut sudah mencapai titik nadir karena menuju nol persen.
KARTIWA SASTRAATMAJA, Ketua Umum API Jemmy
 

Arus kas industri TPT juga terganggu. Dia menjelaskan, pembayaran dari kegiatan ekspor maupun penjualan domestik tidak mengalir. 

"Dari department store misalnya, harusnya dibayar Maret tapi diundur jadi April. Sekarang April juga tidak kunjung dibayar, ditunda lagi sampai Mei," katanya.

Menurut Jemmy, supaya industri TPT bisa terjaga dan bangkit lagi, API mengusulkan sejumlah relaksasi kepada pemerintah. Beberapa di antaranya terkait pembebasan biaya listrik. Jemmy mengatakan, apabila kondisi sudah normal, industri TPT bisa kembali membayar tagihan listrik. 

photo
Pedagang menata kain tekstil dagangannya di Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Kamis (16/4/2020). Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) secara keseluruhan ke global turun sebesar 30-40 persen akibat wabah Covid-19 - (FAUZAN/ANTARA FOTO)

Wakil Ketua Umum API Chandra Setiawan menambahkan, penerapan proteksi antidumping dibolehkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Selama ini, kata dia, banyak aturan di dalam negeri yang lebih mengutamakan impor. 

"Kita sudah punya kawasan berikat, pusat logistik berikat, jadi importasi kita banyak difasilitasi. Hanya saja, kebijakan penggunaan produk dalam negeri belum ada," kata dia. 

Chandra mengungkapkan, biaya sewa penjualan pakaian jadi di mal lebih murah bagi merek luar negeri dibandingkan untuk produk dalam negeri. "Biaya sewa untuk merek dalam negeri harga lebih mahal. Jadi, banyak ketidaksinkronan," ujarnya. 

Ia menyampaikan, sebelum wabah korona masuk ke Indonesia, utilisasi industri tekstil sudah rendah. Sebab, kata dia, banyak yang melakukan pelanggaran impor tekstil. Menurut dia, apabila impor bahan baku terus dipermudah, industri TPT akan terus tertekan.

"Maka, saat sekarang ada korona, kita harap industri dalam negeri bisa mandiri karena bahan baku tekstil dalam negeri memerlukan proses panjang," tutur Chandra. 

Sebelumnya, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) juga meminta pemerintah dapat memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk memperbaiki ketersediaan bahan baku industri fashion Muslim dari dalam negeri. Direktur Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah KNEKS Afdhal Aliasar mengatakan, saat ini industri fashion Muslim telah mendapatkan dampak negatif dari pandemi. Meski begitu, Afdhal meyakini, industri fashion Muslim bisa segera bangkit sehingga perlu ada kepastian ketersediaan bahan baku.

"Pemerintah juga perlu memperhatikan secara lebih serius perihal dukungan basic untuk industri. Tujuannya, agar material-material yang biasanya impor bisa diproduksi di dalam negeri kita sendiri," ujar Afdhal.

Afdhal menyampaikan, KNEKS terus melakukan pemantauan terhadap pelaku industri di Tanah Air. Dia mengatakan, beberapa pelaku usaha yang tadinya sudah bersiap melakukan penjualan besar pada Ramadhan tahun ini terpaksa harus menyimpan stoknya kembali. Meski permintaan produk busana menurun, permintaan produk masker dan alat pelindung diri (APD) justru meningkat dan memberikan peluang bagi industri.


×