Warga antre dengan menjaga jarak untuk membeli sembako murah saat peluncuran Lumbung Pangan Jawa Timur di JX International, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (21/4/2020). Lumbung Pangan Jawa Timur tersebut menjual kebutuhan sembako dengan harga murah yang bisa | Moch Asim/ANTARA FOTO

Jawa Tengah

28 Apr 2020, 02:00 WIB

Bertahan dengan Lumbung Kelurahan di Kota Semarang

Lumbung Kelurahan ini dikoordinasi kelurahan dan diproyeksikan bisa membantu sedikitnya 200 ribu kepala keluarga.

Oleh BOWO PRIBADI

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menggalakkan program Lumbung Kelurahan untuk mendukung pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) non-PSSB di wilayah Kota Semarang. Lumbung Kelurahan ini berbasis semangat gotong royong warga. Yakni, mereka yang mampu secara ekonomi membantu tetangganya yang kurang mampu. 

Lumbung Kelurahan ini dikoordinasi kelurahan dan diproyeksikan bisa membantu sedikitnya 200 ribu kepala keluarga (KK) yang membutuhkan. “Terutama kepala keluarga yang ikut terdampak secara ekonomi, akibat wabah Covid-19 dan belum tersentuh bantuan dari pemerintah,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Semarang, Senin (27/4).

Wali Kota menjelaskan, dalam program Lumbung Kelurahan ini, secara detil merupakan sebuah kegiatan yang basisnya merupakan budaya gotong royong yang pernah dimiliki bangsa ini sejak dahulu. Jadi, dalam satu lingkup kelurahan yang juga diturunkan hingga ke tingkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW). Diharapkan kepala keluarga (KK) yang mampu bisa berperan dalam mencukupi kebutuhan KK lain tetangganya yang membutuhkan.

“Boleh satu atau bahkan lebih dari dua KK yang penting prinsipnya ikhlas, yang kemudian akan difasilitasi oleh pemerintah kelurahan, melalui perangkat RT maupun RW masing- masing” ujarnya. Sehingga, kata dia, harapannya masyarakat yang kemudian tidak menerima paket sembako atau masyarakat yang benar-benar membutuhkan pertolongan akan bisa dipenuhi oleh KK yang mampu. Sehingga, model gotong royong ini akan lebih tepat sasaran.

“Program ini telah dikalkulasi akan bisa mengantisipasi hampir 200 ribu KK yang dalam kurun waktu ini juga sangat membutuhkan bantuan, selama pelaksanaan PKM non-PSBB di wilayah Kota Semarang,” katanya. 

Upaya ini, lanjut orang nomor satu di Kota Semarang tersebut, diharapkan juga akan mampu menunjang upaya menekan dampak wabah Covid-19 di Kota Semarang. Namun, program ini hanya bisa dilaksanakan dengan kebersamaan seluruh masyarakat Kota Semarang. Termasuk, butuh satu langkah yang kemudian dipahami seluruh warga Kota Semarang bahwa ini pada untuk melindungi seluruh warga Kota Semarang. Terutama terkait dengan persebaran Covid-19.

Tujuannya, bisa memutus mata rantai dan penyebaran Covid-19 di Kota Semarang. Meskipun, sebelumnya Pemkot Semarang tetap mengalokasikan bantuan kebutuhan hidup kepada warganya. Bantuan yang telah dimulai pada bulan April sebanyak 118 ribu paket sembako tersebut, bakal ditambah kuotanya pada Mei nanti menjadi 170 ribu paket sembako karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Selain bantuan ini, periode berikutnya juga ada 94 ribu bantuan tunai dari Kementerian Sosial sekaligus 34 ribu bantuan dari Kementerian Sosial yang selama ini diterima oleh masyarakat, seperti PKH serta bantuan dari Presiden Joko Widodo yang mengalokasikan sebesar 10 ribu bagi warga Kota Semarang. “Sehingga seluruh bantuan ini akan menjangkau 300 ribu KK atau separuh lebih KK warga Kota Semarang yang mencapai 531 ribu KK,” kata Hendrar Prihadi.

Sebelumnya, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengakui, mewabahnya Covid-19 telah membangkitkan masyarakat untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila. "Sebuah virus kecil yang tidak terlihat telah menggerakkan masyarakat Indonesia untuk bergotong royong membantu sesama. Ini membuktikan bahwa Pancasila itu memang berasal dari bumi Indonesia," kata Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP Rima Agristina.

Menurut dia, membantu tidak hanya dalam bentuk materi. Namun, juga optimisme, semangat, dan pada kondisi pandemi ini muncul kreativitas untuk tetap produktif. "Para ibu juga dapat berbagi resep tradisional, mencari pengganti makanan pokok yang tetap bergizi dan sehat sebagai bentuk dari ketahanan pangan," ujar Rima. 


×