Mobil yang membawa Presiden Joko Widodo melewati jalan berlumpur saat meninjau lokasi rencana ibu kota baru di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (17/12/2019). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww | ANTARA

Nasional

25 Apr 2020, 01:45 WIB

Pembebasan Lahan di Ibu Kota Baru Ditunda

Ada delapan kepala keluarga yang menguasai lahan 36 hektare.

PENAJAM -– Pembebasan lahan lokasi proyek pembangunan bendungan di wilayah Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, ditunda. Pembangunan bendungan tersebut direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sebagai persiapan pemindahan ibu kota negara Indonesia.

Kepala Bagian Pembangunan Sekretariat Kabupaten Penajam Paser Utara, Nicko Herlambang, mengatakan, Badan Pertanahan Nasional (BPN) pusat menginstruksikan seluruh kegiatan lapangan ditunda selama pandemi Covid-19. Penundaan kegiatan lapangan tersebut berdampak pada pembebasan lahan lokasi proyek pembangunan Bendungan Sepaku-Semoi yang memasuki tahapan sosialisasi, yang juga ditangguhkan.

Anggaran pembebasan lahan proyek pembangunan Bendungan Sepaku-Semoi di wilayah Kecamatan Sepaku itu telah disiapkan lebih kurang Rp 80 miliar. Anggaran pembebasan lahan utama untuk tubuh bendungan seluas 36 hektare tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN 2020.

Hasil identifikasi diketahui ada delapan kepala keluarga yang menguasai lahan 36 hektare itu. Namun, lantaran ada instruksi BPN pusat, tahapannya sementara ditunda.

“Kami sudah rapat telekoferensi dengan BPN Kabupaten Penajam Paser Utara dan BPN Provinsi Kalimantan Timur, memang ada kendala tidak bisa kumpulkan warga lakukan sosialisasi pembebasan lahan saat wabah korona,” kata Nicko Herlambang saat ditemui di Penajam, Jumat (24/4).

Luas lokasi pembangunan Bendungan Sepaku-Semoi tersebut mencapai sekira 378 hektare. Terdiri atas 36 hektare untuk tubuh bendungan dan luas genangan sekitar 342 hektare. “Daya tampung Bendungan Sepaku-Semoi yang akan dibangun itu sekitar 11,6 juta meter kubik dengan debit 2.400 liter per detik,” ujar Nicko Herlambang.

Bendungan Sepaku-Semoi yang berlokasi di Desa Tengin Baru, Argomulyo, dan Desa Sukomulyo di wilayah Kecamatan Sepaku tersebut untuk mencukupi kebutuhan air besih bagi masyarakat di ibu kota negara Indonesia yang baru.

photo
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor (kanan) saat meninjau lokasi rencana ibu kota baru di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (17/12/2019). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww - (ANTARA)

Risiko tsunami

Para ilmuwan telah mengindentifikasi potensi risiko tsunami di daerah dekat dengan Ibu Kota Indonesia pada masa depan, yaitu sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanaegara, Kalimantan Timur. Dalam sebuah penelitian, bukti dari beberapa tanah longsor kuno terjadi di bawah air di Selat Makassar, yang terletak antara pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Dilansir BBC, jika yang terbesar terulang kembali, ini akan menghasilkan tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, yang letaknya cukup dekat dengan calon Ibu Kota. Namun, tim ilmuwan tetap menekankan agar semua pihak tidak bereaksi berlebihan terhadap prediksi ini.

“Kami masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menilai situasi dengan tepat. Ini adalah sesuatu yang mungkin harus dipersiapkan oleh Pemerintah Indonesia, tentang daftar risiko di suatu tempat, bahkan jika hanya berbicara tentang peristiwa ‘frekuensi rendah, dampak tinggi’,” ujar Uisdean Nicholson dari Heriot-Watt University, Inggris.

Tim peneliti yang berada di Inggris dan Indonesia telah menggunakan data seismik untuk menyelidiki sedimen dan strukturnya di dasar laut Makassar. Survei ini mengungkapkan 19 zona berbeda di sepanjang selat tempat lumpur dan pasir jatuh ke lereng yang lebih dalam.

Tim juga berencana untuk mengunjungi daerah pesisir Kalimantan untuk mencari bukti fisik dari tsunami purba dan untuk memodelkan jenis gelombang yang bisa mengenai garis pantai. Sementara itu, Ben Sapiie, dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, penelitian ini memperkaya pengetahuan masyarakat geologi dan geofisika Indonesia tentang bahaya sedimentasi dan tanah longsor di Selat Makassar. “Masa depan penelitian ilmu bumi menggunakan terintegrasi, multi-ilmiah pendekatan dengan kolaborator internasional,” kata Sapiie. 

Sumber : Antara


×