Dirut PT Hutama Karya (Persero) Bintang Perbowo (ketiga kiri) mendampingi Presiden dan sejumlah menteri. | SIGID KURNIAWAN/ANTARA FOTO

Ekonomi

23 Apr 2020, 00:22 WIB

Di Tengah Pandemi Korona, Hutama Karya Tetap Garap Proyek

Hutama Karya menerapkan standar kesehatan yang kesehatan untuk mencegah Korona.

 

JAKARTA -- PT Hutama Karya (HK) memastikan terus melanjutkan berbagai proyek konstruksi di tengah meluasnya penyebaran Covid-19. Salah satu proyek yang tetap digarap adalah pembangunan //integrated building// atau gedung penghubung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

"Kendati saat ini di wilayah Jakarta dan Tangerang berstatus pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Hutama Karya melalui Divisi Gedung memastikan proyek ini terus berjalan,” kata Executive Vice President (EVP) Divisi Gedung Hutama Karya Purnomo dalam keterangan tertulis yang diterima Republika di Jakarta, Rabu (22/4).

Purnomo mengatakan, progres konstruksi proyek gedung senilai Rp 691 miliar tersebut telah mencapai 43,47 persen hingga Rabu (22/4). Hutama Karya, kata Purnomo, menargetkan proyek ini dapat selesai pada akhir tahun ini. 

Purnomo menilai, dalam kondisi saat ini, Hutama Karya terus berkoordinasi dengan PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II selaku pemilik proyek untuk memastikan aturan PSBB diterapkan di lingkungan proyek, baik dari sisi para karyawan, vendor, pekerja dan seluruh bagian terkait, serta penerapan protokol kesehatan yang ketat. 

 

 

Penerapan prosedur dan protokol kesehatan yang telah dilakukan, antara lain, penyemprotan disinfektan di area kantor proyek, mes karyawan, dan barak pekerja secara rutin, pengecekan suhu tubuh setiap pagi, dan setelah bekerja atau saat berganti shift, penyediaan hand sanitizer, penyediaan tempat cuci tangan di setiap sudut area proyek, hingga pemberian vitamin kepada para pekerja. 

 

 
 

Proyek pembangunan gedung penghubung Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah dimulai sejak 25 Februari 2019 lalu. Setelah rampung, nantinya gedung bertingkat dua di sisi selatan dan bertingkat tiga di sisi utara dengan total luas bangunan 60 ribu meter persegi ini akan mewadahi berbagai moda transportasi, yaitu Stasiun Kereta Bandara, sky train bandara, kendaraan pribadi (mobil dan motor), taksi, bus, shuttle bus, dan moda angkutan antarkota (travel). 

Pembangunan gedung terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu gedung sayap utara, gedung sayap selatan, dan jembatan penghubung. Gedung memiliki tempat parkir kendaraan sebagai fasilitas penunjang, yaitu sebanyak 155 kendaraan di gedung sayap utara dan 30 kendaraan di gedung sayap selatan. 

Pelaksanaan di lapangan yang harus dikerjakan meliputi struktur, arsitektur, landscape, dan mechanical electrical electronic plumbing (MEEP). Progres fisik pekerjaan saat ini di lapangan sudah dalam tahap pekerjaan struktur dan mulai masuk pekerjaan arsitektur dan MEEP.

 

Teknologi BIM

photo
Salah satu proyek Hutama Karya adalah Tol Pekanbaru-Dumai Seksi 1 di Kota Pekanbaru (FB Anggoro/ANTARA FOTO)

Project Manager Proyek Pembangunan Integrated Building Jusuf Sitorus mengatakan, proyek ini menjadi salah satu pilot project dalam penggunaan teknologi building information modelling (BIM) sebagai salah satu standar dalam pelaksanaannya. 

Jusuf mengatakan, penggunaan metode BIM pada proyek ini dapat menyimulasikan seluruh pekerjaan dan membantu memberikan informasi ketidaksesuaian antara gambar struktur, arsitektur, landscape, MEEP guna meminimalisasi adanya kesalahan pelaksanaan pekerjaan dalam kegiatan pembangunan sehingga hasil akhir konstruksi bisa sesuai dengan yang direncanakan sejak awal.

Selain penerapan BIM, lanjut Jusuf, proyek ini juga menerapkan performX dalam pelaksanaannya. PerformX merupakan metode yang diadaptasi dari 4DX atau the four disciplines of execution yang berisi target pekerjaan pada setiap pekan yang diperinci berdasarkan target progres per pekan, jenis pekerjan, petugas, dan volume target pekerjaan. 

 

Mencegah korona

Selain pembangunan infrastruktur, PT Hutama Karya juga berkomitmen untuk mencegah penyebaran korona yang menjadi perhatian masyarakat dunia. Pihaknya menyiagakan 14 ambulans di sepanjang Jalan Tol Trans-Sumatra dari ruas Bakauheni-Terbanggi Besar dan Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung.

"Jarak masing-masing 25 kilometer akan di tempatkan satu ambulans. Ini semua untuk penanganan keselamatan kesehatan dan penanganan COVID-19," kata Kepala Cabang Tol Hutama Karya Ruas Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, Yoni Satyo Wisnuwardhono, di Lampung Tengah, beberapa waktu lalu.

Dengan fasilitas tersebut, pengendara akan merasa nyaman dan aman. Bila merasa sakit saat berkendara mereka dapat menghubungi nomor telepon yang ada di papan informasi. Petugas akan merespons dan menyambangi pengendara untuk memberikan bantuan kesehatan.

Selain itu, ini juga bentuk pelayanan prima yang diberikan oleh perusahaan kepada pengguna Jalan Tol Trans-Sumatra."Pelayanan ambulans yang disediakan oleh perusahaan ini semata-mata hanya untuk pelayanan kepada pengguna jalan tol yang diberikan secara cuma-cuma alias gratis," katanya.

Yoni mengharapkan para pengguna jalan tol bisa memanfaatkan fasilitas pelayanan yang ada di jalan tol dan bisa menghubungi nomor call center yang ada tertera di papan informasi atau di kendaraan operasional yang sering melintas di jalan tol.

 

Profil

Pada mulanya HK merupakan perusahaan swasta Hindia Belanda bernama Hollandsche Beton Maatschappij yang dinasionalisasi pada 1961. Dasarnya adalah Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 61/1961 Tanggal 29 Maret 1961 dengan nama PN. HUTAMA KARYA.

Tahun 1960 merupakan tonggak transformasi dari perusahaan swasta menjadi  nasional. Sejak fase transformasi, perusahaan ini telah menghasilkan karya konstruksi yang bernilai sejarah dan monumental seperti Gedung DPR/MPR RI, Monumen Patung Pancoran.  Menandai dimulainya  teknologi beton pra tekan  di Indonesia, HK telah mengenalkan sistem prategang BBRV dari Swiss. Perusahaan ini membentuk divisi khusus prategang. Pada dekade ini Hutama Karya berubah status menjadi PT Hutama Karya (Persero).

Mengantisipasi tantangan bisnis konstruksi yang semakin berkembang dan kompetitif PT. Hutama Karya telah melakukan terobosan dengan diversifikasi usaha dengan mendirikan Unit Bisnis HakaPole yaitu Pabrik Tiang Penerangan Jalan Umum berbagai type dari baja bersegi delapan (Oktagonal) dan melakukan ekspansi usaha di luar negeri serta awal inovasi teknologi dengan ditemukannya LPBH-80 ‘SOSROBAHU’ (Landasan Putar Bebas Hambatan) oleh Tjokorda Raka Sukawati.

Sejalan dengan pengembangan inovasi yang terus menerus dan mengikuti kemajuan teknologi konstruksi yang berkembang pesat, PT. Hutama Karya telah mampu menghasilkan produk dengan teknologi tinggi berupa: Jembatan Bentang Panjang (Suspension Cable Bridge, Balanced Cantilever Bridge, Arch Steel Bridge, Cable Stayed).  PT. Hutama Karya telah memenuhi standar internasional dalam hal kualitas, keselamatan kerja dan lingkungan dengan didapatkannya sertifikasi ISO 9002:1994, OHSAS 18001:1999.  Era millennia dimana dinamika ekonomi semakin pesat,

PT Hutama Karya telah mengembangkan usaha untuk sektor-sektor swasta dengan pembangunan: high rise building seperti Bakrie Tower dan Apartemen. Kemudian infrastruktur semisal sejumlah Jalan bebas hambatan di banyak daerah. Seiring dengan perkembangan tersebut, kualitas dan mutu tetap menjadi perhatian. Hal ini terbukti dengan didapatkannya ISO 9001:2008, ISO 14001:2004 dan OHSAS 18001:2007.

Berbagai penghargaan diraih perusahaan plat merah ini sebagai apresiasi atas berbagai capaian yang diraih.


×