Petugas medis memeriksa tumpukan kantong plastik sampah yang diduga berisi limbah medis di kawasan Palumbonsari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (13/2). | Muhamad Ibnu Chazar/ANTARA FOTO

X-Kisah

Ancaman Ribuan Ton Limbah Medis Korona

Setiap pasien bisa menyumbang 14,3 kg limbah medis per hari saat wabah korona.

Sejak temuan pertama kasus infeksi virus korona tipe baru atau Covid-19 pada awal Maret 2020, pasien Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Hingga kini, belum ada tanda-tanda yang mengarah pada tren penurunan. Bahkan, yang terjadi justru sebaliknya. Tren peningkatan masih terlihat dalam beberapa hari terakhir.

Per Selasa (21/4), setidaknya sebanyak 7.135 warga telah terjangkit virus yang menyerang saluran pernapasan ini. Seiring dengan bertambahnya jumlah kasus, kegiatan pemeriksaan pasien juga makin banyak. Limbah medis pun otomatis bertambah banyak. Kekhawatiran pun muncul berkenaan dengan pengelolaannya.

Menurut penelitian ahli virus dari National Institutes of Health Amerika Serikat dan Rocky Mountain Laboratorius Montana, Covid-19 dapat bertahan dalam droplet hingga tiga jam setelah terlepas ke udara. Hasil penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine itu juga menunjukkan virus korona bisa bertahan di permukaan kardus selama 24 jam dan bertahan dua sampai tiga hari di permukaan plastik dan stainless steel.

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesia Environmental Scientis Association/IESA) Dr Lina Tri Mugi Astuti memperingatkan risiko terkait penambahan limbah infeksius seperti limbah medis dari penanganan pasien Covid-19. Studi kasus di Cina, negara pertama yang mengalami wabah Covid-19, memperlihatkan virus korona menyebabkan penambahan limbah medis dari 4.902,8 ton per hari menjadi 6.066 ton per hari.

Lina mengatakan, hal yang sama bisa terjadi di Indonesia. “Kita bisa bayangkan bagaimana di Indonesia,” kata Lina. Berdasarkan perhitungan jumlah pasien terinfeksi dan limbah medis di Cina, menurut dia, setiap pasien bisa menyumbang 14,3 kg limbah per hari saat wabah. Meski limbah medis bukan sepenuhnya dari pasien, melainkan juga dari tenaga medis yang menangani pasien, angka itu bisa menjadi gambaran kasar potensi limbah medis selama wabah.

photo
Anggota staf medis mengenakan pelindung menumpuk ember plastik yang mengandung limbah medis di Dongsan Medical Center di Daegu, Korea Selatan, Selasa, (14/4). - (YONHAP)

Peningkatan volume limbah medis sudah terjadi di RSPI Sulianti Suroso Jakarta, rumah sakit rujukan nasional untuk penanganan Covid-19. Pada Januari 2020, rumah sakit itu mengolah 2.750 kg limbah medis dan APD menggunakan insinerator. Pada Maret 2020, saat rumah sakit mulai menangani pasien Covid-19, limbah medis yang masuk ke insinerator meningkat tajam menjadi sekitar 4.500 kg.

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) menegaskan, pembuangan limbah medis dari rumah sakit, termasuk APD dan masker wajah untuk menangani Covid-19, harus memenuhi prosedur tetap (protap). Jika aturan dilanggar, itu menjadi bunuh diri untuk RS karena sanksi menanti.

“APD kan hanya boleh dipakai sekian kali kemudian harus dimusnahkan. Artinya, memang ada potensi berbahaya. Dan itu buka hanya berlaku untuk Covid-19, termasuk limbah medis yang lain. Karena kalau bahan seperti radioaktif harus diolah karena sudah ada protapnya,” kata anggota Kompartemen Jaminan Kesehatan Persi, Odang Muhtar.

Dia mengatakan, regulasi yang mengatur mengenai limbah medis sudah jelas, mulai dari menyimpan sementara, menjemput, hingga membuangnya. Karena itu, pihak rumah sakit harus memastikan orang yang membawa limbah medis itu memiliki kewenangan.

Odang mengatakan, hanya ada tujuh perusahaan yang memiliki izin khusus membawa limbah medis itu. Dia meminta limbah medis harus diperlakukan menurut ketentuan yang berlaku karena jika tidak diolah dengan benar penyebaran virus bisa meluas. Karena itu, ia meminta hal ini benar-benar diterapkan. “Jangan main-main. Sebenarnya kalau memenuhi regulasi tidak perlu khawatir, hanya waspada, yaitu dengan mematuhi regulasi yang ada,” ujar dia.

Manager Kampanye Energi dan Perkotaan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung menilai, rumah sakit sebaiknya memanfaatkan autoklaf untuk mengatasi limbah medis dari pasien atau tenaga medis Covid-19. Dia mengatakan, saat ini kebanyakan rumah sakit masih membuang limbah medis dengan membakarnya.

Secara umum, ia menilai, pengelolaan limbah medis di rumah sakit sudah baik. Namun, perlu dipikirkan agar tidak terlalu banyak membakar limbah yang muncul, apalagi dengan meningkatnya pasien positif Covid-19. Semua limbah yang terkontaminasi sebaiknya digunakan alat autoklaf dulu sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali. Alat-alat tertentu bisa digunakan kembali setelah diautoklaf.

“Selama ini (autoklaf) dipakai untuk membersihkan peralatan. Biasanya alat-alat medis ataupun lab dibersihkan pakai autoklaf. Daripada dibakar, yang terkontaminasi diautoklaf dulu baru nanti bisa dibuang atau dimanfaatkan lagi,” kata Sawung. n

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat