Warga antre sembako di gedung Baznas Kabupaten Bogor, Cibinong, Jabar, Senin (20/4). | Prayogi/Republika

Resonansi

21 Apr 2020, 02:05 WIB

Homo Sapiens dan Covid-19

Pilihan itu ada di depan mata kita: bertahan bersama atau menggali kubur bersama!

Oleh AHMAD SYAFII MAARIF

Dalam kamus Illustrated Oxford Dictionary (London: Oxford University Press, 1998, hlm. 390), homo sapiens diartikan sebagai manusia modern. Nama ini berasal dari bahasa Latin yang aslinya bermakna “manusia bijak, manusia arif.” Atribut dan kualitas asli ini pulalah yang belum dilihat oleh A.J. Toynbee (1889-1975) dalam peradaban modern. Dari sumber lain, homo sapiens juga disebutkan sebagai manusia cerdas, sebuah kualitas yang relatif telah dimiliki umat manusia. Bagaimana dengan atribut ‘bijak,’ ‘arif’, isu inilah yang menjadi persoalan dan perdebatan hangat sampai sekarang saat dunia diguncangkan oleh serangan dahsyat Covid-19.

Dalam dialog panjang dengan Prof. Kei Wakaizumi dari Universitas Kyoto Sangyo (Jepang) awal tahun 1970-an, Toynbee mengemukakan penilaiannya: “Kita memilih nama untuk jenis kita bukan sebagai homo faber (manusia teknisi), tetapi homo sapiens (manusia si bijak, si arif). Kita belum berhak menyandang gelar kehormatan diri homo sapiens ini. Kita sebegitu jauh hanyalah sedikit menunjukkan kearifan dalam mengendalikan dan mengatur hubungan kita satu sama lain. Sekiranya kita berhasil bertahan dalam revolusi teknologi sekarang ini, kita mungkin pada akhirnya berhak menyandang gelar homo sapines, dalam hakikat dan dalam nama.” (Lih. A.J. Toynbee, Surviving the Future. New York-London: Oxford University Press, 1973, hlm. 44).

 

Jika kita bertanya kepada Alquran, kita menemukan perkataan al-hikmah (kearifan atau wisdom dalam bahasa Inggris). Dalam surah al-Baqarah (2): 269, kita baca maknanya: “[Dia] memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah dianugerahi kebajikan yang melimpah (khairan katsîran). Dan tidaklah akan ingat, kecuali ulu al-bâb (manusia dengan pemahaman yang dalam).” Kearifan juga adalah ilmu pengetahuan yang sangat mahal harganya yang hanya mungkin diraih oleh orang yang sungguh-sungguh mencarinya melalui pengalaman hidup yang panjang dan berliku. Itulah dia sosok homo sapiens yang dirindukan manusia sepanjang sejarah, sesuatu yang masih nyaris absen dalam modernitas, sebagaimana Toynbee membacanya.  

 
Itulah dia sosok homo sapiens yang dirindukan manusia sepanjang sejarah, sesuatu yang masih nyaris absen dalam modernitas.
 
 

Sebenarnya yang risau dan cemas dengan perkembangan peradaban modern, yaitu ilmu dan teknologi sedang menapaki puncak-puncaknya yang tertinggi, bukan hanya Toynbee. Nama besar seperti Muhammad Iqbal (1877-1938) dengan segala pujiannya terhadap ilmu dan teknologi modern Barat yang minus kearifan itu, kritiknya juga cukup telak: “Peradabanmu akan bunuh diri dengan pedangnya sendiri. Sarang yang dibangun di atas dahan yang rapuh akan selalu goyah.” (Lih. Moizuddin, The World of Iqbal. Lahore: Iqbal Academy, 1982, hlm. 111, berasal dari sajak filosofis Iqbal dalam bahasa Urdu “Bang i-Dara”). Toynbee dan Iqbal datang dari kawasan subkultur yang berbeda, Barat dan Timur, tetapi keduanya dalam perspektifnya masing-masing punya keprihatinan serupa terhadap peradaban modern yang materialistik minus spiritualitas dan kearifan itu.

Sejak awal tahun 2020, dunia kemanusiaan global digempur tanpa ampun oleh Covid-19. Virus yang tidak kasat mata ini menyerang manusia tanpa pilih kasih: raja, ratu, jenderal, menteri, pengusaha, dan rakyat jelata, telah dijadikan sasaran serangannya. Sudah ribuan yang jadi mayat, entah berapa lagi yang akan menyusul. Senjata nuklir tidak mempan menangkisnya. Negara-negara kaya dan besar bertekuk lutut dibuatnya. Tetapi disiplin dalam mengatur jarak, sinar matahari, sabun, dan air mengalir mampu menaklukkan virus ini.

Saya membaca pesan spiritual yang tersirat dari Covid-19 ini: “Sudah saatnya umat manusia membunuh kesombongan egoisme dan kepongahan karena kekayaan, ras, dan senjata nuklir; semuanya lumpuh dan terkapar berhadapan dengan virus ini. Jika umat manusia memang mau menyandang gelar homo sapiens, bukan hanya kecerdasan nalar yang perlu terus dipupuk dan diasah, melainkan juga kultur kearifan, rasa keadilan, dan semangat solidaritas universal kemanusiaan harus mendapat perhatian utama sekarang dan untuk selanjutnya. Kaum beriman, kaum agnostik, dan kaum ateis sama-sama dihadapkan kepada pilihan kritikal untuk kelangsungan hidup di planet bumi yang satu ini. Pilihan itu ada di depan mata kita: bertahan bersama atau menggali kubur bersama!”

 
Sudah saatnya umat manusia membunuh kesombongan egoisme dan kepongahan karena kekayaan, ras, dan senjata nuklir.
 
 

Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di muka bumi harus menata kembali secara jujur bangunan mentalnya yang mungkin selama ini masih terasa rapuh dan koruptif. Sekalipun dalam menghadapi Covid-19 itu semangat solidaritas rakyat kita cukup tinggi, jangan lupa kenyataan getir lain masih sangat jelas, yaitu negara ini belum berhasil mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi yang sudah berlangsung lama.

Covid-19 semestinya menyadarkan elite bangsa ini bahwa sikap berpura-pura dan bertopeng yang sering dipertunjukkan selama ini oleh sebagian kita, harus dinilai sebagai sesuatu yang tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan. Realisasi sila kedua Pancasila: “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dalam kehidupan kolektif bangsa ini adalah bagian dari perjuangan untuk mendorong manusia Indonesia ke posisi homo sapiens: manusia arif dan cerdas! n


×