Relawan (kiri) membagikan masker pelindung wajah untuk mensterilkan daerah kumuh di tengah kekhawatiran penyebaran coronavirus COVID-19, di Sanaa, Yaman, Senin (30/3). Yaman merupakan salah satu negara yang belum terjangkit kasus Corona SARS-CoV-2 yang me | EPA-EFE/YAHYA ARHAB

Internasional

21 Apr 2020, 02:00 WIB

Anak-Anak Timur Tengah Kian Rentan

Covid-19 bisa meningkatkan angka kematian anak di Timur Tengah dan Afrika Utara.

AMMAN -- Unicef mengatakan, anak-anak di Timur Tengah dan Afrika Utara atau Middle East and North Africa (MENA), terutama Yaman, amat membutuhkan bantuan di tengah pandemi virus korona penyebab Covid-19. Lembaga PBB yang mengurusi anak-anak ini mengajukan tambahan anggaran sebesar 92,4 juta dolar AS untuk membantu mereka.

 

Anak-anak di kawasan konflik itu paling membutuhkan bantuan dibandingkan anak-anak di kawasan lain di seluruh dunia. Kepala Unicef kawasan Timur Tengah Ted Chaiban mengatakan, Yaman menjadi negara yang paling dikhawatirkan.

 

Setelah dilanda perang sipil selama lima tahun, kini setengah rumah sakit di negara itu sudah tidak lagi beroperasi. Dua juta anak-anak kekurangan gizi, termasuk 400 ribu di antara anak-anak yang mengalami malnutrisi akut.

 

"Jika Anda tidak mendapat bantuan untuk mereka setiap bulannya, angka kematian di antara anak-anak (yang mengalami malnutrisi parah) bertambah 50 persen," kata Chaiban, Senin (20/4).

 

Sejauh ini Yaman baru mengonfirmasi satu kasus Covid-19. Namun, kemampuan negara itu untuk melakukan pemeriksaan sangat terbatas dan ada kekhawatiran penyebaran virus di Yaman tidak terdeteksi.

 

photo
Seorang anak berjalan di area terdampak banjir bandang di Sanaa, Yaman (14/4). - (EPA-EFE/YAHYA ARHAB)

 

"Sudah sangat penting untuk mengatasi kebutuhan anak-anak di Yaman. Dengan adanya Covid-19, sekarang lapisan kerentanan berlipat-lipat," kata Chaiban. Timur Tengah sudah mengonfirmasi 218 ribu lebih kasus infeksi Covid-19. Sebanyak 8.000 pasien meninggal dunia. Sebagian besar kasus infeksi dan kematian terjadi di Iran.

 

Chaiban mengatakan, tambahan anggaran ini dibutuhkan untuk berbagai program yang diharapkan dapat meredakan dampak pandemi di seluruh penjuru Timur Tengah. Selain program nutrisi dan imunisasi yang sudah rutin dilakukan, Unicef juga membantu membangun pusat isolasi dan meningkatkan ketersediaan air dan sanitasi.

 

Chaiban menambahkan, Unicef juga mengampanyekan pembatasan sosial dan kebersihan. Sesuatu yang sulit dilakukan di permukiman dan kamp pengungsi yang padat penduduk. Sebelum pandemi sudah sekitar 25 juta anak-anak kawasan konflik yang membutuhkan bantuan.

 

Menurut Chaiban, setelah banyak negara menerapkan karantina nasional yang menyebabkan jutaan orang dewasa di Timur Tengah dan Afrika Utara kehilangan pendapatan. Unicef memperkirakan jumlah anak-anak yang jatuh ke jurang kemiskinan bertambah 4 juta orang. 

 

 

Di Palestina, anggota Politbiro Hamas Khalil al-Haya mengatakan kelompoknya siap memaksa Israel menyediakan semua kebutuhan medis untuk menghadapi wabah Covid-19 di Jalur Gaza. Sejumlah opsi dan skenario telah dipersiapkan guna melakukan hal tersebut.  Haya mengungkapkan Hamas akan mengambil tindakan jika Israel tidak menyuplai pasokan medis ke Gaza untuk menangani Covid-19.

 

“Sarana medis yang kita miliki untuk memerangi virus korona tidak cukup dan kita harus menambah stok yang kita miliki,” ujarnya,  dikutip laman Asharq Al-Awsat, Senin (20/4).

 

photo
Seorang pekerja menyelesaikan produk alat pelindung diri (APD) di pabrik di Gaza, pekan lalu. APD tersebut akan diekspor ke wilayah Israel. - (AP)

 

Dia menyebut Israel telah mengirim bantuan medis ke Gaza. Namun hal itu belum cukup untuk menghadapi wabah Covid-19. Jika penyebaran virus semakin luas, Israel adalah pihak yang harus bertanggung jawab.  Sebelumnya sejumlah pejabat Israel tidak memperkenankan pasokan medis dikirim ke Gaza. Mereka menyebut aksi itu baru bisa dilakukan jika Pemerintah Israel telah mencapai kesepakatan dengan Hamas mengenai nasib para tahanannya.

 

Haya mengungkapkan Hamas telah menempatkan semua organisasi amal di tangan pemerintah dan memanfaatkan semua kemampuannya dalam menghadapi wabah. Hamas membeli 30 respirator dan telah dikirim ke pusat kesehatan umum di Gaza.  Sejauh ini Palestina memiliki 431 kasus Covid-19. Sebanyak 307 kasus di Tepi Barat, 111 kasus di Yerusalem Timur, dan 13 kasus di Jalur Gaza. Virus telah menyebabkan tiga warga meninggal.

 

Ancaman

 

Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) mengatakan 74 juta orang di negara-negara Arab berisiko terinfeksi virus korona Covid-19. Hal itu karena mereka tak memiliki akses ke fasilitas cuci tangan dasar. 

 

ESCWA mengungkapkan mencuci tangan dengan sabun dan air merupakan salah satu cara efektif mencegah penularan Covid-19. Mereka memperkirakan kebutuhan air bagi setiap warga Arab akan meningkat antara sembilan hingga 14 liter per hari. Jika dikalkulasi, diperlukan empat sampai lima juta meter kubik air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

 

Ketiadaan akses ke fasilitas cuci tangan dasar diperburuk pasokan air pipa yang tidak memadai di 10 dari 22 negara Arab. ESCWA menyebut hampir 87 juta orang di wilayah Arab juga tidak memiliki akses ke sumber air minum yang lebih baik di rumah-rumah.

 

photo
Warga bersantai di bekas penjara yang hancur di Idlib, Suriah. - (AP)

 

ESCWA mengatakan mereka yang diwajibkan untuk menyediakan air dari sumber publik setiap hari menghadapi risiko infeksi Covid-19 lebih besar. “Diperkirakan 26 juta pengungsi dan orang-orang terlantar internal di wilayah ini juga berisiko lebih tinggi tertular Covid-19 karena kurangnya air, sanitasi dan layanan kebersihan yang memadai,” ungkap ESCWA dalam sebuah pernyataan pada Rabu (15/4), dikutip laman Anadolu Agency. 

 

ESCWA turut menyoroti kondisi di Jalur Gaza. Dia menyebut dari sepuluh rumah tangga di sana, hanya satu yang memiliki ke air bersih. Kehidupan warga semakin sulit karena blokade yang diterapkan Israel. 

 

Saat ini negara-negara Arab masih menghadapi peningkatan kasus Covid-19. Yaman, Suriah, dan Palestina adalah beberapa negara yang dianggap rentan terhadap wabah.

 

Suriah dan Yaman diketahui masih dibekap peperangan. Sementara Palestina berada di bawah pendudukan Israel. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih menyoroti kondisi di Jalur Gaza yang telah diblokade selama 14 tahun. 

 

Direktur WHO untuk Wilayah Palestina Dr Gerald Rockenschaub mengatakan Gaza memiliki fasilitas karantina yang minim. “Kita sudah sangat jelas tentang bagaimana fasilitas karantina seharusnya dan menawarkan fasilitas, layanan, dan dukungan. Tapi ini jelas lebih mudah diucapkan daripada dilakukan di Gaza, di mana ada kekurangan substansial dalam hampir semua hal," ucapnya pada akhir Maret lalu. 

 

Menurut WHO, Gaza hanya memiliki 60 mesin pernapasan dan 45 di antaranya telah digunakan. WHO telah bekerja sama dengan otoritas Israel untuk mengimpor peralatan dan pasokan yang sangat dibutuhkan dari donor internasional. n

 


×