Internasional
Timur Tengah Dibayangi Perang Besar
Pereknomian dunia bakal tergoncang jika perang kembali terjadi.
TEHERAN – Iran kembali mewanti-wanti kondisi bahaya jika Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan. Sementara negara-negara Teluk tengah mencari jalan untuk gencatan senjata permanen antara AS dan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah memperingatkan bahwa “petualangan militer” apapun oleh Israel di kawasan Teluk dapat menimbulkan “dampak yang menghancurkan” terhadap pasar energi global.
Araghchi menyampaikan peringatan tersebut seraya menyoroti partisipasi Iran dalam forum negara pengekspor gas di Moskow, di mana ia menyatakan bahwa Teheran telah memajukan “diplomasi energi”-nya.
Abbas Araghchi menyebut pertemuan baru-baru ini antara pejabat militer Iran, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki di Teheran sebagai “peluang berharga” untuk memajukan dialog mengenai perdamaian dan keamanan regional.
Dalam pernyataan yang dibagikan melalui akun Telegram-nya, Araghchi mengatakan bahwa terdapat peluang untuk menjalin “kerja sama yang langgeng”, namun negara-negara tersebut perlu menyepakati prinsip-prinsip dasar, membangun kepercayaan, serta menunjukkan sikap saling menghormati terhadap kedaulatan nasional masing-masing.
Ia menambahkan, keamanan yang berkelanjutan harus diciptakan oleh negara-negara di kawasan tersebut, tanpa campur tangan militer asing.
Sedangkan Amerika Serikat dilaporkan telah memberitahukan kepada beberapa negara Teluk Persia untuk bersiap menghadapi sebuah "kampanye militer yang intens dan pendek," terhadap Iran setelah pemilu sela pada 3 November 2026. Demikian seperti dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) mengutip beberapa sumber di Washington, dilansir Anadolu, Rabu (28/10/2026)
Pesan itu dikirimkan Washington melalui jalur diplomatik dan militer, menjadi pertanda bahwa AS dan Israel tengah mempersiapkan sebuah operasi perang baru untuk melemahkan Iran dan memaksa kembali ke meja negosiasi.
Militer AS dilaporkan menggeser sebuah sistem rudal Patriot dari Texas ke kawasan Timur Tengah dan memindahkan pasukan dari pangkalan-pangkalan yang rentan dari serangan balasan Iran. Pasukan AS, menurut WSJ, juga sedang mengisi ulang munisi dan mempersiapkan jet tempur dan bomber untuk serangan terbaru.
Sebuah kapal induk dan kapal perang pendukungnya beserta unit ekspedisi Marinir juga segera bergabung dengan 20 kapal perang yang sudah berada di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan final, namun cenderung kepada sebuah "serangan besar pascapemilu" yang bisa menargetkan infrastruktur Iran dan situs-situs nuklir.
Gedung Putih menolak berkomentar terkait "rencana militer sensitif yang mungkin atau tidak mungkin terjadi."
"Presiden Trump tetap pada opsi-opsi yang tersedia dan memastikan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," demikian keterangan Gedung Putih.
Para wartawan bertanya kepada presiden AS apakah ia berencana melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu minggu depan.
“Saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda, tetapi segala sesuatu mungkin terjadi,” ujar Trump. Mengenai perang melawan Iran, ia mengatakan bahwa hal itu “hanya soal kapan saya ingin mengakhirinya”.
Saat berkampanye di Lubbock, Texas pada Selasa (27/10/2026), Trump mengatakan bahwa, "Anda akan melihat Iran dalam beberapa pekan, kalau anda tidak keberatan."
"Kami menghancurkan kapabilitas pengayaan nuklir Iran lewat Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury dan mengalahkan mereka secara militer, finansial, dan lainnya. Dan itu akan berakhir dengan segera," ujarnya.
"Itu (konflik Iran) bisa berakhir kapapun saya mau itu berakhir," Trump menambahkan.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa dia tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela. Diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari yang memicu serangan balasan lewat rudal dan drone ke kawasan Timur Tengah dan ditutupnya Selat Hormuz.
Sebuah nota kesepahaman gencatan senjata diteken pada Juni demi meretas jalan perdamaian, namun kemudian kolaps akibat ketidaksetujuan kedua belah pihak khususnya soal navigasi maritim di Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Mesir telah mengeluarkan pernyataan menyusul panggilan telepon antara menteri luar negerinya dan timpalannya dari Arab Saudi pada hari Selasa. Badr Abdelatty dan Faisal bin Farhan Al Saud membahas “upaya untuk menahan” krisis yang terjadi di Timur Tengah saat ini dengan fokus pada pencegahan eskalasi, kata pernyataan itu.
Kedua negara juga berjanji untuk “melanjutkan koordinasi yang erat”. Parlemen Mesir memberi wewenang kepada Presiden Abdel Fattah el-Sisi pada hari Senin untuk mengambil “semua tindakan yang diperlukan” untuk membantu Arab Saudi mempertahankan diri, ketika pertempuran antara kerajaan tersebut dan kelompok Houthi di Yaman semakin meningkat.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
