Warga Iran berjalan melewati papan reklame anti-Trump di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 23 September 2026. | EPA/ABEDIN TAHERKENAREH

Internasional

AS-Iran Saling Ancam di Majelis Umum PBB

Kedua negara kembali melakukan perundingan.

NEW YORK – Saat berbicara pada hari pertama Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) hari Selasa, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan "memusnahkan" Iran. Beberapa jam kemudian, ia mengatakan kepada para wartawan bahwa para pejabat AS telah mengadakan pertemuan yang "sangat baik" dengan para pemimpin Iran.

Militer Iran tidak tinggal diam. Sembari menepis pernyataan Trump, Staf Umum Angkatan Bersenjata—badan militer tertinggi Iran—memperingatkan bahwa pihaknya siap membalas dengan serangan yang jauh lebih dahsyat dan menghancurkan dibandingkan sebelumnya.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei—meskipun tidak secara langsung menanggapi Trump—menggunakan bahasa yang bernada konfrontatif serupa dalam pesan yang menandai dimulainya tahun ajaran di Iran; ia menggambarkan perpaduan antara ilmu pengetahuan, iman, dan moralitas sebagai "pedang tajam" yang mampu memotong tangan para agresor.

Di tengah retorika tersebut, kedua belah pihak mengadakan pertemuan tatap muka pertama mereka setelah sekian bulan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB (UNGA). Pertemuan ini menghidupkan kembali jalur diplomatik yang sempat hampir runtuh akibat pelanggaran berulang terhadap nota kesepahaman (MoU) bulan Juni—yang kemudian berakhir masa berlakunya bulan lalu—di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan.

Perang tersebut telah memicu lonjakan harga bahan bakar di AS—sebuah isu utama menjelang pemilihan umum sela pada bulan November—sementara sanksi dari Washington terus menekan perekonomian Iran. Sementara Teheran menuntut pencabutan langkah-langkah ekonomi serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, Washington menuntut agar Iran mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz—jalur vital bagi lalu lintas minyak dunia—serta menghentikan program nuklirnya.

Trump mengatakan para utusannya—Steve Witkoff dan Jared Kushner—bertemu dengan pejabat Iran selama sekitar tiga jam di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB (UNGA). Ia menyebut pertemuan itu "sangat baik", sembari mengakui bahwa perwakilan Iran yang hadir "bukan dari tingkat tertinggi".

photo
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dalam Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Markas Besar PBB di New York, New York, AS, 22 September 2026. - (EPA/MICK TSIKAS)

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut serta dalam pertemuan tersebut, dengan mediator yang menjadi penghubung antara tim AS dan Iran. Witkoff kemudian menyatakan bahwa diskusi telah rampung dan berharap hasilnya akan terbukti "konstruktif serta menjanjikan".

Pertemuan ini diyakini sebagai diskusi tatap muka pertama antara pejabat kedua negara sejak Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan pejabat senior Iran di Swiss pada bulan Juni.

Trump mengatakan pertemuan lanjutan diperkirakan akan terjadi "dalam waktu dekat", seraya menambahkan keyakinannya bahwa terdapat "momentum yang kuat" menuju tercapainya kesepakatan.

Trump memanfaatkan pidatonya di PBB untuk memberikan pilihan kepada Iran: peluang untuk bernegosiasi sekaligus ancaman kehancuran lebih lanjut.

"Saya harus mengambil keputusan besar," ujar Trump. Ia mempertanyakan apakah suatu kesepakatan akan memungkinkan Iran untuk "membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat", atau apakah ia harus "membinasakan Republik Islam itu dan melakukannya dengan cepat".

"Apakah saya harus mencampakkan mereka ke neraka tanpa peluang untuk selamat?" tambahnya.

photo
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dalam Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Markas Besar PBB di New York, New York, AS, 22 September 2026. - (EPA/MICK TSIKAS)

Delegasi Iran meninggalkan ruangan tak lama setelah Trump mulai memaparkan serangan militer yang berlangsung secara sporadis selama hampir tujuh bulan terhadap Iran; hanya satu orang yang tetap duduk di tempatnya.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Mehr, Staf Umum Iran menuduh presiden AS menggunakan forum PBB untuk membenarkan "agresi".

"Kata-kata semacam itu menunjukkan jalan buntu strategis Amerika dalam agresinya terhadap bangsa Iran," demikian bunyi pernyataan tersebut, yang menggambarkan ancaman berulang Trump bukan sebagai "tanda kekuatan, melainkan tanda keputusasaan strategis mereka".

Pernyataan itu juga memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap melancarkan serangan terhadap AS dan Israel yang akan "lebih menghancurkan dan sulit diprediksi" dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

Khamenei juga menggunakan bahasa yang bernada konfrontatif, meskipun pernyataannya bukan merupakan tanggapan langsung terhadap pidato Trump di PBB. Dalam pesan yang menandai dimulainya tahun ajaran baru, ia menyebut ilmu pengetahuan, iman, dan moralitas sebagai senjata untuk melawan AS dan Israel.

photo
Seorang warga Iran memegang poster pemimpin tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, Iran, 11 Maret 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

"Kekuatan yang berakar pada ilmu pengetahuan serta dibarengi dengan ketakwaan dan moralitas berfungsi sebagai perisai baja dan pedang tajam yang mampu memutus tangan para agresor dari kemanusiaan," ujar Khamenei—merujuk pada apa yang ia sebut sebagai "pemerintah AS yang kriminal" dan Israel—seperti dilaporkan oleh Press TV.

Sementara itu, sebelum bertolak dari Teheran pada hari Selasa, Presiden Masoud Pezeshkian juga melontarkan pernyataan bernada menantang; ia menuduh AS melakukan "segala upaya untuk menutup setiap jalan yang mungkin" guna memaksa Iran dan rakyatnya menyerah, setelah gagal mencapai tujuan tersebut melalui jalur militer.

Pezeshkian menyatakan bahwa Iran akan memanfaatkan pertemuan PBB untuk menyoroti "kejahatan yang telah dilakukan terhadap" rakyat Iran serta ketidakpercayaan yang timbul akibat perang.

Menurut Andreas Krieg, seorang profesor madya di King’s College London, retorika bermusuhan antara Washington dan Teheran tidak serta-merta dianggap bertentangan dengan upaya diplomasi yang sedang berlangsung.

Sebaliknya, Krieg berpendapat bahwa ancaman terbuka dan bahasa yang keras merupakan bagian dari pertarungan yang lebih luas untuk membentuk persepsi publik—baik di dalam maupun luar negeri—terkait kesepakatan apa pun yang kelak tercapai.

"Retorika keras tersebut bukanlah hal yang bertentangan dengan diplomasi. Itu adalah bagian dari strategi negosiasi," ujar Krieg kepada Aljazirah. Bagi Trump, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Iran kembali ke meja perundingan karena tekanan AS, bukan karena adanya pelunakan sikap dari pihak Washington.

Di sisi lain, para pemimpin Iran perlu membangun narasi yang hampir bertolak belakang—yakni bahwa Teheran berhasil menahan tekanan AS, mempertahankan posisi tawar yang memadai, dan pada akhirnya memaksa Washington untuk bernegosiasi. "Ini telah menjadi perang narasi yang sama besarnya dengan perang kekuatan materiil," kata Krieg.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat