Beberapa koran pagi dan koran sore yang terbit di China. | Stevy Maradona/Republika

Internasional

Koran Sore Asal Guangzhou ini Melejit Jadi Konglomerasi

Media cetak masih menggeliat di negeri Tirai Bambu.

Oleh STEVY MARADONA

Jurnalis Republika, Stevy Maradona, mendapat undangan melawat ke China pada awal Agustus lalu. Ia mengunjungi beberapa kantor media lokal, mulai dari koran sore sampai media online di Kota Guangzhou, Shanghai, dan Chengdu. Rombongan pewarta Indonesia yang diajak oleh organisasi South China Association for International Friendly Contact ini bertukar informasi mengenai tren media di China dan Indonesia dengan jurnalis lokal. Tentu ada yang berbeda seperti model bisnis media kedua negara. Tapi ada pula persamaannya, seperti bagaimana generasi muda saat ini mengakses informasi, platform apa yang mereka gunakan, hingga isu-isu apa yang jadi pilihan sehari-hari. Berikut laporannya:

"Bagaimana sih bisnis media di China ini?" 

"Masih ada koran gak sih?"

"Yang baca berita beneran cuman orang tua aja?"

"Generasi muda China bukannya udah deket banget sama online news bentuk video?"

"Itu ada yang langganan berita versi online nya atau koran online gak ya?"

Ini beberapa pertanyaan yang berputar-putar di benak saya saat menerima undangan untuk melawat ke China bertemu dengan beberapa media lokal. Kami tiba di China awal Agustus kemarin. Dalam jadwal panitia, saya dan beberapa jurnalis Indonesia dipertemukan dengan Yangcheng Evening News (Guangzhou), Xinmin Evening News (Shanghai), National Business Daily dan Hello Chengdu (Chengdu). 

Kami dibawa ke kantor masing-masing media. Menariknya kantor media di China, paling tidak dari yang kami datangi, memiliki ruang pamer atau satu lorong khusus yang berisi sejarah masing-masing media. Seperti museum mini. Isinya koran pertama mereka, koran lama yang edisi spesial, tokoh-tokoh pers mereka yang berpengaruh, sampai pada mesin cetak tua dan plat cetak koran. Ini tentu saja masuk kategori 'artefak' karena sudah ditinggalkan oleh produksi media modern. Tapi bisa dimaklumi Harian petang Yangcheng dan Xinmin adalah dua harian sore yang cukup tua dan berpengaruh di kotanya masing-masing. 

Di Yangcheng Evening News, lorong sejarah mereka ditambah dengan perkembangan koran di China. Mereka memajang sejumlah koran tua yang pernah terbit. Salah satu yang tertua terbit di abad ke-19. Bentuknya agak kecil, lebih menyerupai selembaran buku gambar anak. "Ini salah satu koran tertua, menariknya ini bukan untuk warga kami. Ini koran untuk warga asing yang saat itu ada di China yang mau mengetahui perkembangan di sini dan di negara lain," begitu kata pemandu tur singkat itu.

Yangcheng sendiri terbit pada 1 Oktober 1957. Tapi sebelum itu, sudah ada puluhan koran lokal yang terbit di seantero negeri yang dulu dijuluki tirai bambu itu. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan menarik soal tingkat literasi warga China pada saat itu, tingkat ekonomi warga yang mampu membeli atau berlangganan koran, dan tingkat pendidikan warganya yang berkorelasi dengan kemampuan menulis berita maupun artikel.

Saat ini Yangcheng Evening News adalah salah satu koran sore terbesar di Provinsi Guangdong. Oplahnya mencapai satu juta eksemplar per hari! Koran sore ini terkenal karena fokus pada liputan di kawasan Linnan yang memiliki kekayaan budaya amat besar untuk bagian selatan China. Dia memiliki aplikasi 'Pai News' yang jadi jembatan antara pembaca Yangcheng di dalam negeri maupun di luar negeri.

Pada 1998, Yangcheng membentuk grup bisnis. Tidak hanya fokus pada koran sore ataupun penerbitan media, tapi merambah bisnis ke sektor lainnya, seperti bisnis perdagangan, bisnis kreatif, bisnis gim online, manajemen investasi, hingga ke bisnis hiburan, pameran, dan kesenian.

"Yangcheng Evening News Group adalah salah satu konglomerasi media pertama dan terbesar di China yang beroperasi di bawah Komite Partai Komunis China Provinsi Guangdong. Menurut China's 500 Most Valuable Brands pada 2024 Yangcheng Gruop memiliki valuasi mencapai 9,8 miliar dolar AS!" demikian menurut booklet khusus International Communication Center of Yangcheng Evening News yang dibagikan ke kami. 

"Perusahaan kami fokus tidak hanya pada produksi konten yang berkualitas tapi juga diverisifkasi bisnis melalui integrasi strategis dua platform yakni Yangcheng Evening News dan Yangcheng Creative Industrial park," demikian keterangan lanjutannya.

Inilah rupanya salah satu langkah strategis Yangcheng Group, yakni transformasi dari sekadar koran petang yang penting menjadi satu platform budaya multidimensi. Ini diturunkan menjadi kepemilikan atas zona bisnis dan sektor industri yang strategis di Guangzhou. Jadi, pendapatan utama bisnis nya memang bukan dari biaya langganan apalagi dari iklan koran. Tapi sudah jadi bagian dari bisnis yang lebih besar lagi. 

Ya, benar. Yangcheng Eveninng News adalah pemilik dari satu kawasan bisnis terpadu yang paling bergengsi di kota itu. Sedikitnya ada 300 penyewa gedung di kawasan bisnis ini. Di dalam kawasan seluas 171 ribu meter persegi itulah, Yangcheng Evening News sedang membangun kantor pusatnya yang baru: Pencakar langit modern setinggi 32 lantai bernama Lingnan Digital Creative Building. Saat kami tibadi kantor lama, yang berada di belakang gedung baru, terasa sekali nuansa pesatnya bisnis grup ini.

Hu Quan, wakil pemimpin redaksi Yangcheng Evening News menyambut rombongan jurnalis Indonesia. Ia seorang pria yang tinggi besar. Terbata-bata berbahasa Inggris. Ia dengan bangga memperlihatkan kami calon kantor barunya itu. "Mudah-mudahan Oktober sudah bisa pindah ke atas situ," kata Hu. Koran sorenya akan menempati beberapa lantai . Sisa lantai disewakan ke perusahaan lain yang satu grup.

Bisa dipastikan, Yangcheng tidak perlu khawatir dengan morat-maritnya bisnis model media massa pada saat ini di negara lain, termasuk Indonesia, karena ia ditopang oleh lini bisnis lainnya yang lebih menguntungkan. Model bisnisnya menempatkan Yangcheng sebetulnya lebih pada perusahaan pengelola kawasan bisnis yang memiliki lini penerbitan, ketimbang sebaliknya. Hanya memang tidak dijelaskan bagaimana Yangcheng bisa beranak pinak dari satu koran sore, menjadi grup konglomerasi bisnis kreatif. 

Hu mengatakan, pihaknya fokus pada dua tema utama: Pertama adalah kekayaan kebudayaan dan kehidupan sosial kawasan Linnan, mencakup Guangdong - Hong Kong- dan Makau. Kedua terus mengabarkan pesatnya pertumbuhan kawasan bisnis tersebut agar investor tertarik menanamkan modalnya. "Konten kami juga untuk para pembaca di Asia Tenggara terutama Indonesia," kata Hu. Sejak 2024, grup ini sudah tiga kali menggelar acara kunjungan untuk negara-negara ASEAN, guna mempererat komunikasi.

Jiang Zheng, anggota dewan redaksi sekaligus direktur Komunikasi Eksternal Yangcheng Evening News menambahkan pihaknya kini tengah mengembangkan PEARL International Communication Center sebagai platform terintegrasi skala nasional untuk urusan komunikasi global sekaligus perhelatan budaya di berbagai tempat. Ini kerap digunakan oleh perusahaan media lain, maupun pemerintah daerah. Jiang mengatakan konten-konten dalam platform mereka ini mampu menggapai 210 juta pemirsa lokal maupun internasional.

Kepada redaksi Yongcheng Evenening News, saya mengatakan bahwa pembaca Republika Online maupun media sosialnya amat menggemari berita-berita dari daratan China. Dan sekarang tema beritanya lebih variatif, tidak sekadar isu budaya Muslim China, tapi juga ekonomi, industri hilirisasi, mobil listrik, industri pertahanan, dan geopolitik.

Pembaca Republika Online, saya sampaikan, adalah mayoritas komunitas muslim dengan sudut pandang yang khas pada isu-isu tertentu seperti Palestina, Amerika Serikat, Keislaman, budaya muslim di negara lain. Saya juga mengajak Yangcheng Evening untuk berkolaborasi konten dengan Republika Online.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat