Internasional
Seteru Iran-Saudi Masuki Babak Baru
Saudi bersama AS serang kelompok yang didukung Iran di Irak.
RIYADH – Eskalasi di Timur Tengah memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya Saudi melancarkan serangan langsung terhadap kelompok yang didukung Iran.,
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya, bekerja sama dengan Komando Pusat AS (CENTCOM), telah melancarkan serangan terhadap sasaran milisi yang didukung Iran di Irak. Serangan ini disebut sebagai balasan serangan pesawat nirawak (drone) terhadap fasilitas perminyakan Saudi.
Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak menyatakan bahwa serangan AS-Arab Saudi telah menewaskan sedikitnya 20 anggotanya dan melukai 32 orang lainnya dalam serangkaian serangan di tujuh provinsi. PMF menyebutkan bahwa jumlah korban tersebut masih bersifat sementara dan dapat bertambah seiring dengan dilakukannya penilaian di lapangan.
Serangan-serangan itu menghantam posisi PMF di provinsi Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala, demikian pernyataan kelompok payung yang diakui negara dan sebagian besar terdiri dari milisi Syiah tersebut.
Serangan itu juga menyebabkan kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi pada bangunan, kendaraan, dan peralatan militer.
Juru bicara Militer Saudi Turki al-Maliki merujuk pada dua pernyataan sebelumnya—yang dikeluarkan pada Senin dan Selasa. Saat itu kementerian menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara telah mencegat pesawat nirawak yang menyasar fasilitas perminyakan di wilayah Timur dan Riyadh; serangan tersebut disebut diluncurkan dari wilayah Irak oleh milisi yang didukung Iran.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan "hak dasar untuk membela diri" serta hukum internasional sesuai Pasal 51 Piagam PBB, operasi gabungan telah dilancarkan terhadap "sasaran milik milisi tersebut yang berada di wilayah Republik Irak dan terkait dengan serangan terhadap fasilitas perminyakan di Kerajaan tersebut".
Kementerian menyatakan bahwa Arab Saudi "tidak menginginkan eskalasi," namun memperingatkan bahwa pihaknya "akan merespons setiap agresi yang ditujukan kepadanya".
CENTCOM mengiyakan pihaknya melancarkan serangan presisi bersama pasukan Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok yang "bersekutu dengan Iran" di Irak, yang diduga telah menyerang pasukan AS dan infrastruktur energi Arab Saudi atas perintah IRGC.
“Jet tempur AS dan Arab Saudi menghantam sejumlah lokasi logistik dan persenjataan teroris di wilayah timur Irak sebagai tanggapan tegas terhadap lebih dari 30 serangan pesawat nirawak (drone) yang diarahkan oleh IRGC dalam kurun waktu 72 jam terakhir," demikian pernyataan CENTCOM.
Pihaknya menyebut serangan-serangan IRGC tersebut "tidak beralasan" dan "gagal mencapai sasaran".
CENTCOM menambahkan bahwa antara bulan Februari dan April, kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran di Irak telah berupaya melancarkan lebih dari 600 serangan terhadap warga negara dan fasilitas AS. Mereka memperingatkan bahwa IRGC dan kelompok proksinya "harus menghentikan serangan-serangan ini guna menghindari respons militer lebih lanjut dari AS".
Arab Saudi menyatakan pada Selasa malam bahwa sistem pertahanan udaranya telah mencegat dan menjatuhkan beberapa pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari wilayah Irak oleh milisi yang didukung Iran.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Kementerian Pertahanan, Turki al-Maliki mengatakan bahwa drone-drone tersebut berupaya menyasar fasilitas minyak di Provinsi Timur Kerajaan tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini, ikuti saluran Google News kami secara daring atau melalui aplikasi.
Arab Saudi memiliki hak sah untuk membela diri serta melindungi kemampuan nasionalnya, dan berhak untuk memberikan tanggapan "pada waktu dan tempat yang tepat," ujar al-Maliki.
Kementerian Luar Negeri Kerajaan tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras milisi yang didukung Iran atas serangan berulang mereka terhadap target-target sektor energi di Arab Saudi.
Serangan ini terjadi menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri Irak ke Arab Saudi pekan ini, serta sehari setelah serangan drone serupa menyasar wilayah yang sama—sebuah insiden yang mendorong Riyadh mendesak Baghdad agar mencegah wilayah Irak dijadikan sebagai titik peluncuran serangan.
Pada Senin, PM Ali al-Zaidi memerintahkan penyelidikan terkait serangan drone pertama tersebut dan berjanji akan mengambil tindakan hukum terhadap siapa pun yang terbukti bertanggung jawab.
Kantor al-Zaidi menyatakan bahwa Irak sedang memeriksa bukti dan informasi yang diberikan oleh Arab Saudi, serta akan menindak secara hukum siapa pun yang terbukti terlibat dalam serangan tersebut sesuai dengan hasil penyelidikan.
Seorang pejabat militer yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, bahwa Teheran dengan tegas membantah adanya "kaitan apa pun dengan proyektil yang ditembakkan dari negara lain ke arah sasaran" di Arab Saudi.
"Mengaitkan tindakan apa pun yang menargetkan kepentingan AS di kawasan ini dengan Republik Islam Iran merupakan kesalahan perhitungan besar dan mencerminkan kurangnya pemahaman mengenai situasi di kawasan tersebut," ujar pejabat itu, sebagaimana dilaporkan IRIB.
Pernyataan ini disampaikan setelah Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan adanya serangan pesawat nirawak baru yang menyasar fasilitas minyaknya di Provinsi Timur, serta menuding milisi yang berafiliasi dengan Iran di Irak sebagai pihak yang melancarkan serangan tersebut.
Sedangkan menurut sejumlah laporan, Saudi Aramco telah menghentikan operasional kilang minyak Jazan setelah serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) oleh kelompok Houthi merusak fasilitas-fasilitas utama di lokasi tersebut. Serangan Houthi itu diklaim sebagai balasan atas aksi Saudi membantu pemerintah status quo Yaman menyerang Bandara Internasional Sanaa awal Juli ini.
Kilang yang mengolah 400.000 barel minyak mentah per hari itu mengalami kerusakan pada kompleks Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) dan area tangki penyimpanan. Berdasarkan catatan dari perusahaan konsultan IIR, perbaikan diperkirakan akan rampung dan operasional akan kembali berjalan pada 15 Agustus.
Kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco merupakan salah satu kompleks kilang terbaru dan paling canggih yang dimiliki perusahaan tersebut.
Terletak di pesisir Laut Merah Arab Saudi di Provinsi Jazan, dekat perbatasan Yaman, fasilitas ini dibangun sebagai bagian dari proyek Jazan Economic City yang lebih luas guna mendorong pembangunan industri di wilayah barat daya kerajaan tersebut.
Kilang ini memproduksi bensin dengan kandungan sulfur sangat rendah, solar, bahan bakar jet, benzena, dan sulfur untuk pasar domestik maupun ekspor. Operasi komersial dimulai pada awal tahun 2020-an setelah melalui masa konstruksi selama beberapa tahun.
Kilang ini terintegrasi dengan sebuah terminal besar di Laut Merah, yang memungkinkan produk hasil olahan dikirim langsung ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Mengingat lokasinya yang berjarak sekitar 70 kilometer dari perbatasan Yaman, kompleks Jazan kerap dipandang sebagai salah satu aset energi Arab Saudi yang paling rentan, terutama pada masa-masa meningkatnya ketegangan dengan gerakan Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
