Presiden AS Donald Trump bertemu Pangeran Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden sementara Suriah Ahmad al-Sharaa, di Riyadh, Arab Saudi, Rabu, 14 Mei 2025. | Bandar Aljaloud/Istana Kerajaan Saudi

Internasional

Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Risaukan Kawasan

Saudi dibolehkan memperkaya uranium.

RIYADH – Amerika Serikat dan Arab Saudi telah mencapai kesepakatan penting yang berpotensi kembali mengguncang kawasan. Kedua negara diumumkan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump, telah menyepakati kesepakatan kerja sama nuklir.

Dalam kesepakatan itu, Saudi akan diizinkan memperkaya uranium. Departemen Energi AS pada Rabu menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai langkah yang "bersejarah", seraya menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan AS akan menyediakan teknologi nuklir bagi kerajaan tersebut.

Kesepakatan tersebut mencakup perjanjian berdasarkan Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom tahun 1954—yang dikenal sebagai "perjanjian 123"—serta "perjanjian pengamanan bilateral yang menyertainya," demikian pernyataan departemen tersebut. "Perjanjian-perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara untuk memperkuat hubungan komersial AS-Arab Saudi, serta mewujudkan kemakmuran di dalam negeri dan keamanan bagi sekutu-sekutu kita di luar negeri," ujar Menteri Energi Chris Wright dalam sebuah pernyataan. 

"Yakinlah, perjanjian-perjanjian ini menjunjung tinggi standar tertinggi keselamatan nuklir dan non-proliferasi, sembari mengandalkan teknologi nuklir dan ilmuwan terbaik dunia yang dirancang langsung di Amerika Serikat." 

Sejumlah laporan media AS mengindikasikan bahwa kesepakatan ini akan memungkinkan Arab Saudi melakukan pengayaan uranium di dalam negeri, alih-alih mengimpor bahan bakar nuklir dari AS. Pernyataan Departemen Energi tidak merinci perihal pengayaan tersebut. 

Jika laporan-laporan itu terbukti benar, kesepakatan ini kemungkinan besar akan menghadapi penentangan di Washington.

photo
Situs Nuklir Dimona Israel - (Science Photo Library)

Pernyataan tersebut menyebut kesepakatan itu sebagai "kemitraan bernilai miliaran dolar AD yang akan berlangsung selama beberapa dekade" dan menyatakan bahwa kesepakatan itu kini akan diajukan ke Kongres untuk ditinjau. 

Trump, bersama dengan Israel, melancarkan upaya untuk menekan Iran pada bulan Februari guna mencegah negara tersebut melakukan pengayaan uranium dan memperoleh senjata nuklir—tujuan yang dibantah oleh Teheran.

Amerika Serikat dan Israel juga membom fasilitas nuklir Iran tahun lalu.

Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) tidak melarang pengayaan uranium—sebuah proses untuk memisahkan dan mengumpulkan varian atau isotop atom uranium yang paling radioaktif. Namun, uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi dapat digunakan untuk memproduksi senjata nuklir. 

Israel adalah satu-satunya negara di kawasan tersebut yang diyakini memiliki persenjataan nuklir. 

Pemerintahan Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Arab Saudi akan menciptakan lapangan kerja di AS, "memperkuat standar non-proliferasi global", serta memperkokoh kemitraan strategis dengan Riyadh. 

Pengumuman ini muncul di tengah terus memanasnya konflik antara AS-Israel dan Iran. Selama masa permusuhan tersebut, Iran telah meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar pangkalan-pangkalan tempat pasukan AS ditempatkan di kawasan itu, serta sejumlah fasilitas energi di wilayah Teluk.

Pihak Israel dibuat khawatir dengan kesepakatan tersebut. Mantan perdana menteri Israel, Naftali Bennett menilai hal itu dapat memicu perlombaan nuklir regional.

"Kesepakatan nuklir yang sedang dirancang bersama Arab Saudi—yang dilakukan tanpa melibatkan Israel—merupakan kegagalan strategis serius yang membahayakan keamanan kita," ujar Bennett, yang berupaya menggulingkan Netanyahu dalam pemilihan umum tanggal 27 Oktober.

"Pengayaan nuklir di wilayah Arab Saudi dapat memicu perlombaan nuklir regional dan hilangnya kendali yang berbahaya."

Menteri Luar Negeri AS telah memberikan komentar mengenai kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi yang baru saja diumumkan. "Bahkan setelah pengumuman resmi dibuat, kesepakatan itu harus melalui proses pemberitahuan kepada Kongres.

"Kemudian kita bisa membahasnya lebih mendalam, namun yang jelas, AS senantiasa berupaya menjalin perjanjian kerja sama dengan negara-negara sekutu."

Ia menyebut Arab Saudi sebagai "sekutu strategis" Washington. "Ketika negara-negara memutuskan untuk menjalankan program nuklir sipil yang damai, kami lebih memilih mereka melakukannya bersama kami dibandingkan dengan negara lain."

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat