Internasional
Keruntuhan Lobi Zionis di AS
Lobi AIPAC jadi kelemahan dalam pemilu di AS.
NEW YORK -- Pada Selasa (23/6/2026) malam waktu AS, fenomena itu kain jelas. Dalam perayaan kemenangan dalam pemilihan pendahuluan (primary) kongres di New York City, menjelang akhir pidato kemenangan Darializa Avila Chevalier, massa secara spontan meneriakkan seruan, "Bebaskan, bebaskan Palestina!"
Sulit membayangkan sosok kandidat yang lebih anti-Israel daripada Avila Chevalier, yang baru saja menumbangkan pejawat pro-Israel. Ia tidak menyebut Israel secara langsung dalam pidatonya, namun pendukungnya paham apa yang mereka perjuangkan.
Mereka meneriakkan hal itu karena isu tersebut penting bagi mereka sendiri. Mereka memilihnya karena sikap tersebut.
Serangkaian kemenangan dalam pemilihan pendahuluan (primary) yang diraih oleh kandidat yang kritis terhadap agresi Israel di Gaza—telah menyoroti pergeseran yang kian nyata di dalam Partai Demokrat, Ini terjadi khususnya di Kota New York, tempat dukungan terhadap Israel selama ini dianggap sebagai suatu keharusan politis.
Menurut laporan Politico, para kandidat yang secara terbuka mengkritik tindakan Israel di Gaza dan menantang pengaruh kelompok lobi pro-Israel berhasil memenangkan sejumlah pemilihan pendahuluan kongres yang menjadi sorotan pada Selasa, dengan mengalahkan lawan-lawan yang berafiliasi dengan elite partai.
Hasil tersebut, sebagaimana dicatat oleh Politico, merupakan perkembangan signifikan di "kota dengan populasi Yahudi terbesar di Amerika" dan dapat membawa dampak yang melampaui wilayah New York saat Partai Demokrat bersiap menghadapi pemilihan umum di masa mendatang.
Kandidat-kandidat yang memenangkan pemilihan pendahuluan di New York akan berlaga dalam pemilu legistlatif pada akhir tahun nanti. Artinya, kekuatan pro-Palestina berpotensi bertambah secara signifikan di tingkat nasional.
Selama ini, seperti ditulis John Mearsheimer dan Stephen Walt dalam buku The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy, politik luar negeri AS selama ini sangat dipengaruhi lobi Israel terhadap politikus AS. American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) salah satu lembaga lobi paling berpengaruh menggelontorkan dana raksasa untuk menjamin kandidat pro-Israel menduduki posisi politik penting di AS.
Salah satu kemenangan pemilihan pendahuluan paling menonjol diraih oleh Brad Lander, mantan pejabat pengawas keuangan (comptroller) Kota New York, yang mengalahkan anggota Kongres Dan Goldman dalam persaingan yang semakin berfokus pada perbedaan pandangan mengenai Israel dan Gaza.
Politico melaporkan bahwa Lander, yang mendefinisikan dirinya sebagai seorang "Zionis liberal," melontarkan kritik tajam terhadap Goldman karena menolak mendukung rancangan undang-undang yang bertujuan menghentikan penjualan senjata ke Israel serta enggan menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida.
Sementara itu, seorang sosialis demokratis bernama Darializa Avila Chevalier berhasil mengalahkan anggota Kongres senior Adriano Espaillat setelah berulang kali mengkritiknya karena menerima sumbangan dana dari AIPAC.
Sosialis demokratis lainnya, Claire Valdez, tampak akan memenangkan pemilihan untuk menggantikan anggota DPR Nydia Velázquez yang akan pensiun; kemenangan ini diraih setelah ia mengkritik lawannya terkait keterlambatan dalam mengakui genosida di Gaza serta menyoroti adanya kaitan dengan pendanaan politik yang didukung oleh AIPAC.
Politico menilai hasil-hasil tersebut sebagai bukti bahwa kritik terhadap Israel tidak lagi merugikan secara politis dalam banyak pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, bahkan mungkin justru memberikan keuntungan elektoral yang semakin besar.
"Dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, pihak-pihak yang menentang perang di Gaza memiliki keuntungan politik yang sangat besar untuk tahun 2026," ujar Jon Paul Lupo, seorang ahli strategi Partai Demokrat kawakan, kepada media tersebut.
Kemenangan-kemenangan tersebut juga dipandang sebagai tantangan bagi kepemimpinan tradisional partai, khususnya Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer dan Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries, yang keduanya selama ini konsisten mendukung Israel.
Ahli strategi senior Partai Demokrat, Basil Smikle, mengatakan bahwa hasil tersebut mengisyaratkan adanya transformasi yang lebih mendalam di dalam partai.
"Ini menandakan pergeseran kebijakan yang substansial terkait Israel," ujar Smikle kepada Politico, seraya menambahkan: "Ini adalah persoalan yang harus dihadapi oleh Chuck Schumer dan Hakeem Jeffries, tidak hanya di New York, tetapi juga di tingkat nasional."
Smikle berpendapat bahwa para pemimpin partai semakin menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan antara konstituen Demokrat dari kalangan lebih tua—yang secara tradisional mendukung Israel—dengan pemilih serta aktivis muda yang pandangannya telah dibentuk oleh perang di Gaza.
"Mereka harus mencari cara untuk mempertahankan koalisi dari kalangan lebih tua—yang mencakup banyak pemimpin dan pemilih Yahudi yang sangat mendukung Israel—sembari mencari jalan untuk bekerja sama dengan generasi muda dan pejabat terpilih yang lebih muda yang tidak memiliki ikatan tersebut," ujarnya.
Tema yang berulang sepanjang kampanye adalah penentangan terhadap AIPAC dan pengeluaran politik yang terkait dengannya.
Politico melaporkan bahwa kandidat progresif berulang kali menggunakan hubungan keuangan dengan AIPAC sebagai garis serangan terhadap lawan.
Pada perayaan kemenangan Valdez di Brooklyn, para pendukung dilaporkan meneriakkan "persetan dengan AIPAC," sementara pendukung Avila Chevalier meneriakkan "bebaskan, bebaskan Palestina."
Berpidato di hadapan para pendukungnya setelah kemenangannya, Lander mengkritik AIPAC dan peran para donor politik besar dalam politik Demokrat.
Ia juga menyampaikan salah satu kritik paling tajam terhadap kebijakan Demokrat terhadap Israel yang pernah disampaikan oleh seorang pejabat terpilih utama di New York.
“Partai kita perlu mengakui bahwa strategi ‘peluk Bibi’ Joe Biden adalah kesalahan besar,” kata Lander, merujuk pada dukungan mantan Presiden Joe Biden kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama perang Gaza.
“Saya percaya itu membuat kita terlibat dalam genosida,” tambahnya.
Lander melanjutkan: “Bom yang kita bayar telah menewaskan lebih dari tujuh puluh ribu warga Palestina — sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Tank yang kita bayar telah membuat satu juta orang kehilangan tempat tinggal. Bantuan kemanusiaan masih belum sampai.”
Hasil tersebut juga menyoroti ketegangan yang terus berlanjut di dalam Partai Demokrat terkait kritik terhadap Israel dan tuduhan antisemitisme.
Setelah mengakui kekalahannya, Goldman berpendapat bahwa isu Israel-Palestina telah memainkan "peran yang sangat besar" dalam kampanye tersebut.
Ia menuduh Lander menggunakan "narasi antisemit yang berbahaya" dan memperingatkan agar tidak menggunakan retorika yang dapat menjauhkan pemilih Yahudi.
"Kaum Yahudi telah memberikan begitu banyak kontribusi bagi negara ini," ujar Goldman.
"Sebagaimana sejarah telah mengajarkan kita, narasi dan stereotip antisemit—yang beberapa di antaranya saya dengar sendiri selama kampanye ini—pada akhirnya akan merusak demokrasi kita jika kita semua tidak turun tangan dan angkat bicara."
Di saat yang sama, Lander menegaskan bahwa kritik terhadap Israel tidak boleh mengabaikan upaya memerangi antisemitisme.
Menurutnya, kaum progresif "harus menjadi pihak yang menentang hal ini, bukan justru memalingkan muka."
Politico melaporkan bahwa para ahli strategi Partai Demokrat yang pro-Israel memandang hasil pemilihan di New York ini sebagai tanda peringatan bagi kandidat dan organisasi yang selama ini mengandalkan dukungan kuat terhadap Israel dalam politik Partai Demokrat.
"Sayangnya, sosialisme demokratis dan kubu Demokrat yang anti-Israel akan memiliki posisi yang lebih kuat dari sebelumnya," ujar ahli strategi Partai Demokrat, Alex Hoffman, kepada media tersebut. Ia menambahkan bahwa "bagi kelompok-kelompok pro-Israel, strategi yang ada benar-benar perlu ditinjau ulang."
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
