Sastra
Menyunggi Langit di Kepala Ibu
Oleh RIDWAN FEBRIAN
Dua dekade telah kulewati tanpa banyak mengeluh. Meski waktu telah melesat jauh dari hari kejadian itu, aku masih setia menjaga surgaku. Sebab, bertahan hidup adalah kewajiban bagi siapa pun. Sebagai seorang teruna, sejak semula takdir telah menggarisku menjadi seorang penjaga—insan berdarah pelindung.
Aku menginsafi ada yang patut dijaga, ada pula yang kerap dibiarkan tetap ajek, kendati dunia luar kian gaduh salin rupa. Bagiku, hidup adalah Akalsari—tak tahu dermaga mana pundak ini hendak kulabuhkan. Namun bagi Ibu, hidup adalah sebuah sore yang kekal; ia tak pernah tahu bahwa dirinya tengah terombang-ambing di laut lepas, tanpa bulan sebagai penanda malam.
Saban hari, percakapan kami hanya terantuk di poros yang sama.
“Sudah ada kabar dari ayahmu tah?” tanya Ibu, matanya mengamati layar ponsel yang retak di tepian.
“Belum, Bu,” jawabku pendek, mencoba menjaga nada suaraku agar tetap datar.
“Tak biasanya jam segini ia belum mengabari,” gumamnya lagi.
“Belum sempat mungkin, Bu,” sahutku pelan. Sebuah kalimat yang sengaja kusematkan sekadar untuk merayu duka, agar rasa berwalang hati tak lekas tampak di wajahnya.
Setelah itu laras suaranya langgeng. Tak ada curiga ataupun gusar, hanya sebentuk iman yang kukuh bahwa tiap keterlambatan pasti punya musabab yang masuk akal. Aku tak pernah sanggup menjawab lebih dari itu. Aku memilih berpaling, berlagak sibuk menyapu halaman yang sebenarnya sudah resik.
Ibu akan menghela napas pelan, lalu kembali duduk di kursi ayun ruang tengah, melamunkan gawai berantena panjang yang sudah tak laik guna. Benda itu mengeram di singgasananya—bak sebongkah sauh yang menahan rumah kami agar tak hanyut dibawa arus zaman. Layarnya lamur, aksaranya memudar, dan antenanya sedikit menceng. Baginya, itu bukan sekadar benda purba, melainkan ambang; satu-satunya pintu yang mematri hari ini dengan hari kepulangan Ayah.
Aku pernah merayu agar ponsel itu diganti baru. Kataku, suaranya lebih jelas, sinyal pun lebih kuat. Ibu hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Yang ini saja,” katanya. “Ayahmu acap kali bersenda gurau melalui sini,” seraya menunjuk ke arah benda purba itu.
Aku tahu, di balik alasan itu, ada gagap teknologi yang menyergapnya. Ibu hanya karib dengan papan tombol yang menyembul; jemari tuanya tak akan sanggup mengeja rindu di atas hamparan layar sentuh yang asing bagi jari-jemarinya.
Kadang sebelum benar-benar duduk, Ibu menyeru dengan suara yang digantungkan.
“Isikan Ibu napas ponsel ini, Nak,” titahnya.
“Yang kemarin sudah habis, Bu?”
“Lekaslah pergi, Ibu ingin kirim tiga pesan. Orang cakap, bila sudah jam segini, nanti bonusnya melimpah bisa bicara semau-mau sampai tengah malam. Ibu hendak sapa-sapaan dengan Ayahmu.”
Ketiadaan kuasa membuatku tak mampu menolak titah itu. Aku segera beranjak, mengayunkan kaki menuju kios kecil di ujung gang; tempat penjualnya sudah khatam dengan wajah dan kebutuhanku. Ia tak bertanya lagi, sebab ia tahu, pulsa itu bukan untuk menjalin kabar, melainkan untuk menunda kehilangan yang kian berkarat.
Begitu aku menjejak rumah, Ibu masih betah berkanjang di tempatnya. Ponsel itu sudah dipeluk jari-jemarinya. Caranya menggenggam tak pernah berubah: dua tangan erat, seolah benda itu bisa menggelinjang.
Ia memencet papan tombol satu per satu, menyipitkan netra yang mulai senja, pelan dan khidmat. Ponsel itu didekatkannya ke wajah, hingga pendar layar monokromnya menerangi kerut-kerut di dahinya. Bibirnya menceracau, mengeja satu demi satu aksara yang muncul di sana. Pesan pertama ia layangkan sebagai pengetuk pintu, yang kedua menjadi penanda agar jalan pulang tak keliru, dan yang ketiga dikirimnya dengan saksama sebagai pengunci—supaya suara Ayah betah berlama-lama menetap di sana.
Ibu selalu tahu waktu dan tanggal. Hari menjelang kepulangan Ayah, katanya, adalah hari paling giat. Ingatannya tentang hari itu adalah sebentuk prasasti yang enggan lumutan. Ia lebih fasih mengeja waktu daripada aku yang kerap tersesat di rimba almanak sendiri. Sejak pagi buta ia sudah bersiap ke pasar. Mencatat belanjaan di kertas kecil: ikan asin, sayur asem, sambal terasi—masakan lezat kesenangan Ayah.
“Jangan lupa beras yang pulen,” katanya, seolah Ayah akan mengeluh bila nasi terlalu pera.
Ia melangkah pelan menjinjing tas anyaman bambu yang pegangannya sudah mengilat oleh keringat dan waktu, menuju pasar pagi. Saban berjumpa tetangga, ia bertutur sapa dengan senyum yang paling semringah.
Belum sempat peluh di dahinya kering, Ibu sudah beranjak menguasai dapur. Panci-panci dikeluarkan. Tungku dinyalakan. Bau masakan memenuhi rumah kecil kami, bercampur suara dentang-denting sodet beradu dengan kuali.
“Jangan mengacau, Nak,” katanya. “Ayahmu tak suka bila dapur seperti kapal pecah.”
Aku merujuk diam di sudut meja, membiarkan Ibu merajai kesibukannya sendiri. Dari sana, hanya terdengar suara desas-desis, dentang-denting kuali, dan terkadang ia bersenandung lirih, “Aduh mak enaknya nonton dua-duan, kayak nyonya dan tuan di gedongan...”
Sore selalu menjadi muara bagi segala sunyi di rumah kami. Di jam-jam itulah Ibu akan mandi, lalu berdandan takzim; ia mengenakan celana cutbray dan kemeja bermotif mencolok dengan ujung bawah yang dipilin dan diikat simpul—gaya retro kebanggaan saat ia muda.
Di depan cermin, ia menepuk-nepuk pipi dengan bedak tabur. Tangannya cekatan memulas gincu merah bata, lalu mengecap bibir hingga rona merahnya merata. Ia meraih sisir kayu, merapikan rambut ikal bergelombangnya yang masih menyimpan sisa-sisa kemegahan masa lalu.
Namun, gerakan sisir itu mendadak luluh. Di sela giginya, menyangkut helai-helai memutih yang gugur. Ibu menatap helaian itu dengan tatapan heran, sebelum lekas menepisnya ke lantai dan bersikukuh menata kembali rambutnya.
Satu-dua kali ia berdiri, mematut di depan cermin sambil mengelus pinggang kemejanya. Ia meraba jahitan kain yang dirasanya kian mencekik dan tak lagi seluwes dulu, seolah-olah kemeja itu telah menyusut diam-diam. Ia mendengus pelan, namun lekas acuh tak acuh dan kembali mempersolek diri.
Tuntas dengan segala rupa riasan itu, ia pun melabuhkan duduk di teras dengan senyum merekah—bak seorang perawan yang sedang menunggu debar janji temu. Seolah bersiap kalau-kalau setelah menyantap masakan yang ia siapkan siang tadi, Ayah akan langsung mengajaknya melancong atau menengok bioskop. Ponsel berantena itu sudah didekapnya erat-erat, tak dibiarkan lepas barang sejenak.
“Ayahmu kenapa belum berkabar, Nak?”
“Tak tahu aku, Bu.”
“Apa mungkin sinyal hilang lagi? Tolong tarikkan antenanya.”
Aku mengalah. Kuambil ponsel itu, lalu kutarik antena yang sebenarnya sudah buntu. Aku berdiri, mengacungkan ponsel itu tinggi-tinggi ke langit-langit, memutar tubuh perlahan bak sedang melakukan upacara pemanggilan hujan, lalu mengembalikannya ke pangkuan Ibu. Aku melakukannya lagi, merayu duka untuk yang kesekian kalinya, hanya agar Ibu kembali tenang.
Tiap-tiap waktu matanya dilempar ke ujung gang, sementara jari-jemarinya tak henti meremas. Saban suara motor terdengar, ia menegakkan badan. Pun langkah kaki orang melintas membuatnya menarik napas panjang. Namun, setelah aku menarik antena ponsel itu dan mengembalikan ke genggamannya, wajahnya kian berangsur melunak. Untuk beberapa saat, kerutan gundah gulana pada wajah itu memudar, seolah-olah besi antena yang kutarik tadi benar-benar telah menggugah kembali harapannya yang sempat tertunda.
Ritual itu menjelma putaran roda yang macet; berulang saban hari, berkarat tiap tahun. Di luar sana, cecar tanya kapan hendak bersanding di pelaminan hanya kubiarkan mampir serupa deru angin. Siapa yang sudi, siapa yang hendak mau? Dunia seakan berputar di hari yang sama. Hidupku bukan lagi milikku sendiri. Sepanjang napas, aku hanyalah seorang peronda palang pintu waktu—meyakinkan agar satu tanggal keramat itu tak pernah berkisar dari kepala Ibu.
Andai waktu bisa kupintal mundur, aku ingin menyusup ke dalam subuh saat Ibu masih ranum. Ingin kubisikkan padanya agar jangan lekas menyerahkan leher pada jerat nasib yang bernama pernikahan—kendati itu berarti aku harus raib dari silsilah bumi ini. Atau bilamana aku diizinkan menghadap Sang Khalik tepat sebelum ruh Ibu ditiupkan, aku ingin bersimpuh paling lama; memohon agar ia kelak dipertemukan dengan lelaki yang cintanya adalah sauh—tak akan membiarkannya hanyut ditinggal karam dalam kesunyian. Apakah Sang Penguasa langit dan bumi akan mengindahkan?
Pikiran itu berkelindan, lalu sirna sebelum sempat kulisankan. Aku kembali ke peranku: insan yang menjaga, bukan mengubah.
Aku duduk bersisihan dengannya hatta langit melarutkan jingga yang perih, seolah cakrawala pun enggan berlama-lama menyaksikan pengharapan kami yang sia-belaka. Ibu bersandar di bahuku, air mata dambaan luruh di sudut bibirnya.
“Kita tunggu di dalam saja, Bu,” kataku.
“Nanti,” jawabnya. “Tunggulah sepuluh menit lagi. Biasanya ayahmu menelepon sebelum magrib.”
Kubiarkan sepuluh menit itu luruh, mengulang kesia-siaan yang sama seperti hari-hari lalu. Di ruang tengah tergantung almanak lama. Kertasnya menguning. Angkanya jelas: tahun 2006. Bulan dan tanggal yang sama, tak pernah berganti.
Luka itu masih segar, seolah baru kemarin sore terjadi. Suara Ayah terdengar jauh di ujung telepon, samar dan asing. Tak ada basa-basi; ia hanya mengabarkan tak akan pulang, bahwa ada perempuan lain, dan semua itu disebutnya sebagai keputusan terbaik. Ibu tidak meraung. Ia hanya diam, sementara ponsel di tangannya meluncur jatuh begitu saja.
Sejak detik itu, dunianya terhenti. Ia terjebak di sore yang sama—sebuah waktu saat ia masih punya tumpuan untuk menanti, sebelum kenyataan benar-benar melumatnya. Baginya, setiap masa adalah hari kepulangan yang tertunda.
“Sudah ada kabar dari ayahmu tah?” tanyanya pelan.
Aku hampir mendedahkan tahun sebenarnya. Ada yang kelu dan mendesak di pangkal tenggorokan, namun kalimat itu tak pernah terlontar dari bibirku. Aku hanya menggeleng, lalu menarik antena itu ke atas, setinggi yang aku bisa—seolah-olah dengan besi tipis itu, aku bisa menyunggi langit yang runtuh di kepala Ibu.
Tak ada yang datang disambut, tak ada yang mengucap salam, bahkan hilal kabar pun tak tampak. Matahari telah purnatugas, undur diri ke balik cakrawala dan menyerahkan jagat pada pekat yang tak memihak. Meninggalkan kami, manusia-manusia kerasan merawat ketiadaan.
Ridwan, saat ini berdomisili di Kota Bogor. Ia merupakan mahasiswa program studi Ilmu Hukum di Universitas Terbuka yang aktif menulis cerpen, esai, serta opini. Pengarang buku fiksi dan nonfiksi ini boleh disapa melalui akun Instagram-nya di @ridwan_veritas.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
