Tukang ojek pertanian mengantarkan pupuk organik melalui jalan tanah ke ladang di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (31/7/2023). | Republika/Wihdan Hidayat

Iqtishodia

Nilai Tukar Rupiah dan Tantangan Ketahanan Pangan Indonesia

Nilai tukar bertransmisi langsung terhadap harga komoditas impor di Indonesia.

OLEH Sri Retno Wahyu Nugraheni (Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB), Dewi Setyawati (Peneliti ITAPS, FEM IPB)

 


Kondisi ekonomi Indonesia saat ini dihadapkan pada tren penguatan dolar AS terhadap rupiah. Depresiasi nilai tukar rupiah sering dipandang sebagai persoalan makroekonomi yang hanya berkaitan dengan perdagangan internasional dan stabilitas keuangan. Padahal, bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor sejumlah komoditas pangan strategis dan input produksi pertanian, fluktuasi nilai tukar memiliki implikasi langsung terhadap harga pangan domestik.

Ketika rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS, biaya impor pangan seperti kedelai, gandum, dan jagung maupun biaya bahan baku pertanian seperti pupuk turut mengalami peningkatan.

Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya ditransmisikan ke harga pangan yang dibayar konsumen. Tidak dapat dipungkiri bahwa stabilitas nilai tukar bukan hanya sekadar isu moneter, melainkan juga bagian penting dari strategi menjaga ketahanan pangan nasional.

Berbagai studi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara perubahan nilai tukar dan harga pangan. Nilai tukar bertransmisi langsung terhadap harga komoditas impor di Indonesia, tidak terkecuali impor pangan utama yang tidak dapat dihasilkan di Indonesia.

Depresiasi rupiah seperti yang terjadi saat ini cenderung meningkatkan biaya barang impor, termasuk makanan. Hubungan ini signifikan karena Indonesia mengimpor sebagian besar komoditas pangan, sehingga nilai tukar menjadi faktor penting dalam stabilitas harga pangan domestik (Rassi et al., 2025).

Depresiasi nilai tukar dapat menjadi sumber ketidakstabilan harga pangan di tingkat konsumen. Nilai tukar juga dapat bertransmisi melalui biaya produksi pangan dalam negeri, di mana banyak input pertanian seperti bahan baku pupuk mayoritas masih mengandalkan impor. Depresiasi atau pelemahan rupiah dapat menyebabkan perubahan biaya produksi yang pada gilirannya memengaruhi harga bahan makanan yang diproduksi di dalam negeri.

Jika melihat perkembangan harga pupuk dunia yang terus mengalami lonjakan sejak akhir 2020, hal ini perlu menjadi perhatian karena potensi peningkatan biaya impor bahan baku pupuk akan terus meningkat. Kondisi tersebut dapat berimplikasi pada meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk subsidi pupuk serta kenaikan harga pangan domestik.

Jika dilihat lebih lanjut, harga pupuk mengalami peningkatan sebesar 125 persen pada Januari 2021 hingga Januari 2022. Lonjakan tersebut merupakan akibat meningkatnya harga bahan baku nitrogen dan fosfor sebesar 50–80 persen (Nafisah dan Amanta, 2022).

Selain itu, kenaikan harga pupuk juga diakibatkan oleh beberapa faktor, di antaranya disrupsi rantai pasok akibat pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, kebijakan pembatasan ekspor oleh beberapa negara penghasil pupuk, serta bencana alam yang terjadi di pusat-pusat produksi pupuk (Mulyono et al., 2023).

Berbagai faktor eksternal lainnya juga berpotensi meningkatkan harga pangan domestik yang dapat memengaruhi ketahanan pangan Indonesia hingga saat ini.

Kenaikan harga pangan sebagai dampak depresiasi rupiah juga berkontribusi menekan inflasi yang dapat merugikan perekonomian karena mengurangi daya beli konsumen. Hal ini terutama berkaitan dengan bahan makanan yang merupakan komponen penting dalam pengeluaran rumah tangga (Nofitasari et al., 2025).

Seiring meningkatnya inflasi akibat kenaikan harga pangan, daya beli konsumen berkurang. Kondisi ini terutama berlaku bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk membeli makanan. Penurunan daya beli tersebut dapat menyebabkan berkurangnya konsumsi komoditas nonprimer dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Hal ini terjadi karena konsumen mengurangi pembelian barang yang tidak esensial sehingga berpotensi menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi (Taha et al., 2022). Lonjakan harga pangan juga dapat meningkatkan risiko kemiskinan dan kerawanan pangan.

Oleh karena itu, stabilitas harga pangan merupakan salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang tidak hanya menekankan aspek ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan pangan bagi seluruh masyarakat.

Di sisi lain, pelaku usaha maupun industri berbasis olahan pangan juga akan merasakan dampak kenaikan harga bahan baku. Peningkatan biaya operasional mendorong pelaku usaha mencari berbagai alternatif agar tetap memperoleh keuntungan, seperti mengurangi volume produk atau menaikkan harga jual yang pada akhirnya akan berimbas pada konsumen.

Dampak yang paling dikhawatirkan adalah penutupan usaha yang mulai terjadi karena biaya yang dikeluarkan tidak lagi sebanding dengan pendapatan usaha.

Tantangan-tantangan tersebut memberikan gambaran mengenai perlunya strategi penguatan ketahanan pangan Indonesia. Diperlukan sinergi antara kebijakan moneter, perdagangan, dan pembangunan pertanian. Stabilitas nilai tukar perlu dijaga melalui pengelolaan makroekonomi yang prudent. Sementara itu, pemerintah perlu mempercepat peningkatan produktivitas pertanian, diversifikasi pangan lokal, serta pengurangan ketergantungan impor komoditas strategis.

Investasi pada riset pertanian, infrastruktur logistik, dan penguatan cadangan pangan nasional menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketahanan pangan Indonesia tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan pangan, tetapi juga pada kemampuan menjaga stabilitas ekonomi yang menopang keterjangkauan pangan bagi seluruh masyarakat.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat