Presiden RI Prabowo Subianto | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Nasional

Analis: Tiga Alasan Presiden Prabowo Kembali Singgung 'Indonesia Gelap'

Presiden Prabowo kembali menyinggung narasi 'Indonesia Gelap' dan 'Kabur Aja Dulu.'

Pakar ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menilai, setidaknya ada tiga kemungkinan alasan utama di balik sikap Presiden Prabowo Subianto yang kembali menyinggung narasi “Indonesia Gelap” dan “Kabur Aja Dulu” dalam pidatonya. Menurutnya, pengulangan isu tersebut bukan sekadar kebiasaan retoris, melainkan bagian dari strategi komunikasi politik yang terencana.

Sebelumnya, Kepala Negara saat berpidato di Kabupaten Cilacap, Jawa Barat, pada Rabu (29/4/2026) menyampaikan pandangannya mengenai seruan #IndonesiaGelap dan #KaburAjaDulu. Kedua tanda pagar (hashtag) itu sempat ramai atau viral di jagat media sosial Indonesia pada Februari 2025.

Boni Hargens mengatakan, dalam pidato di Cilacap, Jabar, baru-baru ini Presiden Prabowo menampik narasi Indonesia Gelap. Sebaliknya, menurut Prabowo, “Indonesia itu terang" seraya menyebut negara ini aman di tengah gejolak global.

Boni menjelaskan, alasan pertama Presiden Prabowo mengulang narasi tersebut adalah untuk menegaskan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Narasi “terang” sengaja dibangun sebagai counter-narasi yang konsisten untuk melawan persepsi pesimistis di ruang publik.

"(Alasan) kedua, sebagai upaya aktif Presiden membantah pandangan negatif yang dianggap tidak berdasar dan tidak mencerminkan realitas objektif kondisi Indonesia saat ini," ujar Boni Hargens pada Kamis (30/4/2026).

Sementara, alasan ketiga berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas negara. Menurut Boni, pengulangan narasi tersebut juga bisa dimaknai sebagai respons terhadap kritik yang dianggap berpotensi mendiskreditkan pemerintah atau memicu kegaduhan sosial.

Lebih jauh, ia melihat ada dimensi psikologis di balik retorika tersebut. Di tengah tekanan ekonomi Indonesia kini, termasuk nilai tukar rupiah yang melemah, pesan stabilitas yang disampaikan secara berulang berfungsi sebagai “jangkar psikologis” untuk menenangkan publik.

“Kondisi ekonomi global memang sedang tidak mudah. Dalam situasi seperti ini, komunikasi politik yang menekankan stabilitas menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat,” kata Boni.

Dalam analisisnya, Boni menilai konsistensi pesan yang disampaikan Presiden menunjukkan pendekatan komunikasi yang terstruktur. Selain sebagai bentuk bantahan terhadap kritik, pengulangan narasi juga menjadi bagian dari upaya membangun persepsi publik bahwa kondisi nasional tetap terkendali di tengah tekanan global.

Sebagaimana diketahui, narasi “Indonesia Gelap” dan “Kabur Aja Dulu” sempat ramai di media sosial sejak awal 2025. Isu itu muncul bersamaan dengan polemik kebijakan pemerintah, termasuk desakan pembatalan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran serta penolakan pembentukan Danantara.

Saat itu, Presiden juga merespons dengan optimisme tinggi terhadap masa depan ekonomi nasional, bahkan menyebut Indonesia berpotensi melampaui negara maju seperti Jerman dan Jepang.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

"Terus kita dibikin apalagi Indonesia gelap, matanya buram Indonesia gelap, Indonesia terang. Ada yang mau kabur, ada yang mau kabur, kabur aja, kabur aja kau ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan. Mau kabur ke mana?" kata Prabowo saat berpidato dalam Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Kabupaten Cilacap, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).

Adapun Prabowo menegaskan, program hilirisasi adalah jalan bagi kebangkitan bangsa Indonesia untuk menjadi negara makmur yang mandiri secara energi dan ekonomi. Tanpa hilirisasi maka Indonesia tidak bisa menjadi negara maju.

"Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur. Kita tidak mau sekadar jual bahan baku, kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia," ujar Prabowo saat berpidato dalam grounbreaking proyek senilai Rp 116 triliun itu.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Investigasi Tabrakan Kereta Dilakukan Menyeluruh

Presiden menekankan pentingnya peningkatan keselamatan transportasi.

SELENGKAPNYA

Prabowo Perintahkan Benahi Perlintasan Sebidang KA

Prabowo menginstruksikan pembenahan 1.800 perlintasan sebidang.

SELENGKAPNYA

Kepastian Regulasi Jadi Kunci Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi

Kepastian hukum memberi ruang bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk bergerak lebih percaya diri.

SELENGKAPNYA