Sastra
Karakter Dajjal
Puisi-puisi Eeng Nurhaeni
Oleh EENG NURHAENI
Kekacauan terjadi di mana-mana.
Aku membawa istri dan kedua anakku
ketika terdengar ledakan ketiga di gedung sebelah kami.
Segera kami berlari menuju arah lift
berdesakan di lantai 160 Burj Khalifa.
Sesampainya di Dubai World Central,
tampaknya seluruh penerbangan dibatalkan.
Seharian kami menginap di bandara,
sampai kemudian istriku mengenalkan aku
dengan sosok manusia bermata satu,
dengan rambutnya yang ikal dan keriting,
menawarkan pesawat pribadinya untuk penerbangan
ke Bandara Soekarno-Hatta.
Tetapi, seorang anakku melarang kepergian kami,
karena tertulis dengan jelas pada kening pemuda itu
tiga huruf yang menunjukkan dirinya seorang Dajjal.
***
Gundukan Emas
Ribuan pengungsi itu saling bertengkar
dan berebut makanan.
Kulihat dengan mata kepalaku
empat orang tersungkur ke tanah
setelah saling baku hantam.
Ratusan orang berlarian ke tengah Sungai Efrat
untuk berebut bukit emas yang tampak di kejauhan.
Mereka saling pukul dan saling sikut kiri-kanan.
Mereka terengah-engah kehausan,
dan keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka.
Sampai kemudian mereka telah lupa
bahwa yang mereka butuhkan adalah air
untuk menghilangkan rasa haus dan dahaga.
Ya, bagaimana pun, segelas air lebih mahal
untuk mempertahankan hidup,
ketimbang mereka terkapar mati bergelimpangan
meskipun menggenggam setumpuk bulir emas
di telapak tangan mereka.
***
Tipuan Dajjal
Rumah megah di bawah tanah itu
telah dipersiapkan sejak Polan
sejak menjabat sebagai elit politik di negeriku.
Bangunan itu telah menghabiskan 50 milyar
karena desakan dari sang istri
untuk menghindari kemungkinan bahaya gempa,
angin topan, bahkan kiamat diambang pintu.
Di hari Jumat pagi, suara-suara sirine bertalu-talu.
Keluarga Polan segera berlarian
mengungsi menuju bunker megah miliknya.
Hingga keesokannya mereka kembali ke rumahnya
untuk beraktivitas seperti sedia kala.
Pada Minggu pagi, seorang pemuda membawa koper besar
berisi pecahan dollar senilai 100 milyar rupiah.
Rambutnya keriting dan mata kirinya agak jereng.
Ia ingin membeli bunker miliknya,
namun Polan tetap bertahan untuk tidak menjualnya.
Sampai kemudian, bisikan sang istri tak tertahankan,
hingga bunker itu terjual keesokannya
dengan harga 100 milyar rupiah.
Seminggu kemudian, pada saat bunker baru siap dibangun,
sirine-sirine memberi peringatan
akan datangnya radiasi nuklir dan hidrogen,
hingga keluarga Polan tak sempat menyelamatkan diri
menuju bunker megah yang telah dijualnya
kepada Sang Dajjal beberapa waktu lalu.
***
Agenda Allah
Fulan tetap menanam sebatang pohon apel
di kebun miliknya
justru pada saat asap-asap Dukhan
telah memenuhi langit-langit di sekitar desanya.
Tetangga kiri dan kanan melarangnya,
karena toh semua orang akan mati
hanya dalam hitungan jam dan hari saja,
akibat polusi beracun yang beterbangan di angkasa.
Setelah batang pohon itu selesai ditanam,
tepat sekali dugaan mereka,
bahwa semua orang bergelimpangan dan tewas
dikarenakan menghirup radiasi hidrogen
yang merusak saluran pernafasan
dan organ-organ tubuh mereka.
Namun, ketika membuka matanya di alam surga,
orang-orang terbelalak heran
menyaksikan Fulan sedang memetik apel-apel segar
yang sudah masak dan memerah,
sambil berucap pada tetangga kiri dan kanannya:
“Aku menanam pohon apel sebagai ikhtiar dan ibadah,
sementara hasilnya aku serahkan sepenuhnya
pada ketentuan Allah.”
***
Rizki Terbaik
Belum terbukti kualitas keimanan seseorang
jika belum sanggup memikul ujian dan cobaan Tuhan.
Ketika kita kehilangan rasa kasih-sayang,
ketakutan dan kekurangan pangan,
sanggupkah kita tetap teguh pada pendirian
bahwa kita adalah anak-anak Ramadhan
yang takkan takut dengan ancaman kelaparan,
bahkan kita pun adalah anak-anak Muharram
yang dapat hijrah dan hidup di mana pun,
karena tak ada penjaga, pengayom,
dan pemberi rizki terbaik,
kecuali jika kita percaya, yakin, dan hanya bergantung
pada kasih-sayang Allah.
***
Eeng Nurhaeni, Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten, penulis opini keislaman untuk media nasional Republika, Media Indonesia, Kompas dan lain-lain.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
