Warga melakukan shalat jenazah untuk ibu hamil dan dua anaknya yang syahid akibat serangan Israel di utara Gaza pada Sabtu (25/4/2026). | X/Quds News Network

Nasional

Akhir Pekan Mematikan di Gaza

Israel membunuh sedikitnya 20 orang di Gaza sejak akhir pekan lalu.

GAZA – Seorang perempuan di Gaza syahid menyusul serangan-serangan Israel yang kian brutal di tengah klaim berjalannya gencatan senjata. Sedikitnya 20 warga Gaza dibunuh Israel sejak akhir pekan lalu.

Pada Ahad, WAFA melaporkan seorang wanita Palestina ditembak dan dibunuh oleh pasukan pendudukan Israel di selatan Khan Younis di Jalur Gaza selatan.Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa Huda Juma Ramadan Al-Attar (40 tahun), ditembak dan dibunuh oleh pasukan Israel di area rumah jagal Turki di selatan kota.

Dengan pembunuhannya, jumlah warga Palestina yang terbunuh sejak Ahad pagi meningkat menjadi tiga orang, menyusul serangan pesawat tak berawak sebelumnya yang menargetkan sekelompok warga sipil di dekat Bundaran Kuwait di lingkungan Al-Zaytoun, tenggara Kota Gaza, menewaskan dua anggota keluarga Al-Ashqar.

Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan pada Sabtu, 25 April, bahwa 17 warga Palestina syahid termasuk 13 orang dalam 24 jam terakhir. Sementara 32 lainnya terluka dalam 48 jam sebelumnya ketika serangan Israel terus berlanjut di Jalur Gaza, Quds News Network melaporkan.

Di Kompleks Medis Nasser, sumber-sumber medis mengkonfirmasi bahwa lima warga Palestina syahid pada Jumat setelah serangan pesawat tak berawak Israel menargetkan kendaraan polisi di daerah Mawasi di Khan Younis, yang digambarkan oleh pemerintah setempat sebagai penargetan baru terhadap struktur sipil dan keamanan.

photo
Warga bersiap menguburkan jenazah ibu hamil dan dua anaknya yang syahid akibat serangan Israel di utara Gaza pada Sabtu (25/4/2026). - (X/Quds News Network)

Di Gaza utara, dua anggota keluarga Al-Tanani, seorang ibu dan anaknya, syahid ketika artileri Israel menembaki rumah mereka di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan. Beberapa orang lainnya terluka dan diangkut untuk mendapatkan perawatan ketika penembakan terus berlanjut di daerah sekitar rumah sakit.

Warga pada hari Sabtu menguburkan seorang wanita hamil anak kembar dan dua anaknya yang syahid dalam serangan itu. Khalid Al-Tanani, dari Beit Lahiya, mengenang serangan yang menewaskan istri dan dua dari empat anaknya di Jalur Gaza utara itu.

"Dengan serangan pertama, Alhamdulillah kami semua selamat dan saling berseru. Kemudian mereka menembakkan peluru kedua, ketiga, dan keempat satu demi satu. Suara mereka terdiam. Saya masuk ke dalam dan menemukan istri saya, Islam Al-Tanani, syahid, dan putra saya, Hamzah, dan Naya dalam pelukan ibunya. Saya menemukan mereka syahid." Anak-anak tersebut berusia 4 dan 13 tahun.

Saudara kembar Hamzah yang berusia 13 tahun selamat, bersama dengan anak lainnya dari pasangan tersebut. Al-Tanani mengatakan mereka baru saja mulai membicarakan tentang pengumpulan perlengkapan bayi dan pakaian untuk si kembar.

Dalam laporan statistik hariannya, kementerian mengatakan sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalanan, karena tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka karena pemboman yang terus berlanjut dan kondisi lapangan yang berbahaya.

Kementerian memperingatkan bahwa hal ini berarti jumlah korban jiwa sebenarnya kemungkinan lebih tinggi daripada yang dilaporkan saat ini.

Kementerian tersebut menambahkan bahwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober 2025, setidaknya 809 warga Palestina telah terbunuh dan 2.267 orang terluka, serta 761 orang dilaporkan telah pulih, yang mencerminkan apa yang digambarkan sebagai pelanggaran mematikan terhadap perjanjian yang terus berlanjut.

Jumlah korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 kini meningkat menjadi 72.585 orang tewas dan 172.370 orang luka-luka. Hal ini menunjukkan besarnya skala kehancuran dan tekanan berkepanjangan pada sistem kesehatan Gaza yang sudah hancur.

Sementara itu, di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza, dua warga Palestina tewas dan lainnya terluka parah setelah serangan udara menargetkan patroli polisi di dekat persimpangan Bahloul.

Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan dua petugas polisi, yang diidentifikasi sebagai Kapten Imran Omar Al-Lad'a dan Letnan Ahmed Ibrahim Al-Qassas, dan menyebabkan dua lainnya terluka parah.

photo
Serangan udara Israel menghantam Kamp Ansar untuk pengungsi Palestina, di barat Kota Gaza, 11 Maret 2026. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Angka-angka terbaru ini muncul ketika kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk, dengan kekurangan pasokan medis, terganggunya operasi penyelamatan, dan ribuan orang masih hilang di bawah reruntuhan di Jalur Gaza.

Pada saat yang sama, data yang dilaporkan oleh Financial Times menunjukkan bahwa pengiriman makanan dan barang-barang penting ke Gaza telah turun jauh di bawah tingkat yang digariskan dalam perjanjian gencatan senjata.

Menurut data kemanusiaan yang dikutip dalam laporan tersebut, rata-rata hanya 60 truk bantuan yang dikoordinasikan oleh PBB memasuki Gaza setiap hari antara dimulainya perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari dan gencatan senjata pada tanggal 8 April. Hal ini menandai penurunan tajam dari rata-rata sebelum perang pada bulan Februari yang berjumlah 95 truk per hari.

Berdasarkan ketentuan kerangka gencatan senjata bulan Oktober, Israel diperkirakan akan mengizinkan 4.200 truk bantuan per minggu masuk ke Gaza. Namun, pengiriman turun menjadi di bawah 1.500 truk selama periode dua minggu sebelum gencatan senjata Iran, menurut data dari Pusat Koordinasi Sipil-Militer yang dipimpin AS.

Meskipun volume bantuan meningkat menjadi sekitar 3.100 truk dalam seminggu setelah gencatan senjata, jumlah tersebut masih jauh di bawah target yang disepakati.

photo
Pengungsi Palestina berebut makanan berbuka puasa yang didistribusikan oleh dapur amal selama bulan suci Ramadhan, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 26 Februari 2026. - (EPA/HAITHAM IMAD)

Memburuknya situasi bantuan berdampak langsung pada 2,1 juta penduduk Gaza, yang sebagian besar masih mengungsi dan bergantung pada bantuan eksternal.

Sebagian besar wilayah Jalur Gaza masih berupa reruntuhan setelah berbulan-bulan pemboman Israel, dengan penduduk yang tinggal di tenda-tenda atau bangunan yang rusak.

Para pejabat juga memperingatkan adanya risiko kesehatan sekunder, termasuk penyebaran penyakit akibat limpahan air limbah dan sampah yang tidak dikumpulkan, yang diperburuk dengan tertundanya persetujuan masuknya bahan-bahan sanitasi penting.

Sementara itu, upaya rekonstruksi masih terhenti, dengan penilaian bersama oleh lembaga-lembaga internasional memperkirakan bahwa Gaza akan membutuhkan sekitar 71 miliar dolar AS untuk membangun kembali.

Meskipun ada perjanjian gencatan senjata resmi, serangan yang terus berlanjut dan pembatasan akses kemanusiaan menunjukkan bahwa kondisi di lapangan masih sangat tidak stabil.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat