Ekonomi
RI Genjot Pemanfaatan Energi Surya
Pengembangan PLTS atap didorong untuk mendukung RUPTL PLN 2025–2034.
JAKARTA — Indonesia mempercepat langkah transisi energi dengan meluncurkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap sebesar 1,3 gigawatt pada Selasa (21/4/2026). Peluncuran ini menandai fase akselerasi energi surya nasional sekaligus menguji kesiapan ekosistem industri dan kebijakan.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI). Capaian tersebut mencerminkan lonjakan signifikan kapasitas PLTS atap yang kini mencapai sekitar 1,3 gigawatt secara nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari agenda besar pengembangan energi surya hingga 100 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan. Program tersebut juga masuk dalam rangkaian Road to IndoSolar 2026 yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan investor untuk mempercepat investasi energi surya.
Pengembangan PLTS atap didorong untuk mendukung RUPTL PLN 2025–2034 sekaligus meningkatkan bauran energi baru terbarukan. Pemerintah juga menargetkan perluasan akses energi bersih melalui pendekatan berbasis desa dan koperasi.
Selain itu, pemanfaatan energi surya dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri melalui biaya energi yang lebih efisien dan rendah emisi. Sektor lain seperti green industry dan pusat data hijau juga mulai bergantung pada ketersediaan energi bersih.
PLTS atap dinilai menjadi solusi paling cepat karena dapat dipasang secara modular dan menjangkau berbagai sektor, mulai dari rumah tangga hingga industri. Dalam lima tahun terakhir, kapasitas PLTS atap melonjak hampir sepuluh kali lipat dari sekitar 146 megawatt menjadi 1,3 gigawatt.
Potensi energi surya nasional jauh lebih besar. Kajian IESR 2025 menunjukkan potensi PLTS darat mencapai 165,9 gigawatt dan PLTS terapung 38,13 gigawatt. Regulasi seperti Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024 turut mempercepat pengembangan ekosistem ini.
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan energi surya kini telah bergeser dari sekadar potensi menjadi kebutuhan strategis. “Capaian ini menunjukkan bahwa energi surya bukan lagi potensi, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis nasional,” kata Mada.
AESI saat ini memiliki sekitar 135 anggota yang mencakup seluruh rantai nilai industri, mulai dari manufaktur hingga pembiayaan. Ekosistem ini dinilai menjadi fondasi penting untuk mempercepat skala pengembangan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi mengatakan target pengembangan PLTS nasional berada pada kisaran 80 hingga 100 gigawatt. Ia menegaskan pengembangan ini tidak hanya soal kapasitas, tetapi juga penciptaan pasar dan lapangan kerja.
“Target ini bukan sekadar angka, tetapi peluang ekonomi. Kami menghitung setidaknya ada 760 ribu pekerjaan baru yang bisa tercipta dari program PLTS ini,” ujar Eniya.
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan PLTS tidak hanya di atap bangunan, tetapi juga pada instalasi ground-mounted, termasuk di koperasi desa dan fasilitas kesehatan.
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto mengatakan PLN terus memperkuat dukungan melalui penyederhanaan layanan. “PLN terus berkomitmen untuk mendukung arah kebijakan nasional, termasuk menjadikan PLTS sebagai bagian utama dalam transisi menuju energi yang lebih bersih,” kata Adi.
PLN juga menghadirkan fitur pengajuan PLTS atap melalui aplikasi PLN Mobile untuk mempercepat proses perizinan dan meningkatkan transparansi layanan.
Ke depan, pengembangan PLTS atap dinilai tidak hanya berperan dalam menekan emisi, tetapi juga membuka lapangan kerja hijau, memperkuat industri dalam negeri, serta meningkatkan ketahanan energi nasional.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
