Ilustrasi wisuda | Freepik

Iqtishodia

Generasi Emas dan Peran Strategis Pendidikan Ekonomi Syariah

Pendidikan ekonomi syariah memberikan kerangka etis yang perlu dipegang oleh generasi emas.

OLEH Mukhamad Najib (Guru Besar IPB University & Wakil Sekjen IAEI)

 

Pada 2045, Indonesia merayakan satu abad kemerdekaannya—momen historis yang sering disebut Indonesia Emas. Pada saat itu, diproyeksikan Indonesia menjadi negara yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Menuju Indonesia Emas, dibutuhkan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sehingga pendapatan per kapita setara negara maju (30 ribu dolar AS) bisa tercapai. Dalam hal ini, kualitas manusia yang menggerakkan ekonomi menjadi faktor determinan kesuksesan.

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang sukses keluar dari middle income trap selalu bersandar pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karenanya, Indonesia Emas hanya bisa dilahirkan oleh generasi emas yang memiliki intelektualitas unggul, moralitas, dan integritas yang kokoh. Dalam konteks Indonesia, pendidikan ekonomi syariah dapat menjadi sarana strategis untuk melahirkan generasi emas penggerak ekonomi nasional.

Harus diakui bahwa kriminalitas ekonomi, korupsi, dan penyalahgunaan jabatan masih menjadi tantangan Indonesia hari ini. Pendidikan ekonomi syariah menawarkan pendekatan yang menempatkan nilai moral sebagai fondasi aktivitas ekonomi. Prinsip-prinsip seperti keadilan, transparansi, keberlanjutan, serta larangan eksploitasi menjadi kompas moral bahwa ekonomi bukan hanya soal rasionalitas profit, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Pendidikan ekonomi syariah memberikan kerangka etis yang perlu dipegang oleh generasi emas. Konsep seperti maslahah, adl, dan ihsan mengajarkan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan rakyat dan keadilan distributif. Mahasiswa bukan hanya dituntut memahami teori ekonomi, tetapi juga belajar bagaimana menjadi pelaku ekonomi yang jujur, amanah, dan berpihak pada kepentingan publik.

Pendidikan Ekonomi Syariah

Saat ini, terdapat 900 perguruan tinggi di Indonesia yang menawarkan sekitar 2.400 program studi berkaitan dengan ekonomi dan keuangan syariah. Terdapat sekitar 1,3 juta mahasiswa aktif berkuliah di program studi terkait ekonomi dan keuangan syariah, termasuk hukum ekonomi syariah, bisnis, dan manajemen syariah. Meski potensinya besar secara kuantitas, pendidikan ekonomi syariah di Indonesia belum sepenuhnya optimal. Saat ini, baru sekitar 17 persen program studi terakreditasi unggul, sisanya masih berjuang meningkatkan kualitas.

Terdapat beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Pertama, kurikulum di banyak program studi masih cenderung teoretis dan kurang terintegrasi dengan perkembangan industri halal maupun keuangan syariah global. Banyak mahasiswa belajar teori muamalah, tetapi kurang dibekali keterampilan praktis seperti analisis risiko syariah, fintech syariah, keuangan sosial Islam, maupun audit syariah.

Kedua, terbatasnya pengajar yang memahami ekonomi syariah secara multidisiplin. Ekonomi syariah bukan sekadar ekonomi Islam; ia berada pada irisan ilmu ekonomi modern, hukum Islam, manajemen, dan bahkan teknologi digital. Keterbatasan pengajar berpotensi menyebabkan proses pembelajaran tidak mampu menjawab kebutuhan pasar.

Ketiga, literasi masyarakat mengenai ekonomi syariah masih rendah. Ekonomi syariah dipahami hanya sebatas larangan riba, padahal jauh lebih luas dari itu. Pengembangan industri halal, wakaf produktif, hingga inovasi pembiayaan sosial yang dapat menjadi solusi pengentasan kemiskinan merupakan bagian dari ekonomi syariah yang perlu dipelajari. Rendahnya literasi ini membuat lulusan pendidikan ekonomi syariah belum sepenuhnya terserap di berbagai sektor strategis.

Keempat, belum mapannya ekosistem pendukung seperti laboratorium keuangan syariah dan riset yang berakibat pada terhambatnya inovasi ekonomi syariah. Padahal, menghadapi era 2045, Indonesia perlu menjadi rujukan global dalam studi ekonomi syariah, bukan hanya menjadi konsumen gagasan dari negara lain. Berbagai penelitian dalam upaya memperkuat ekosistem inovasi ekonomi syariah perlu dilakukan.

Peluang Strategis

Kebangkitan ekonomi syariah harus menjadi kekuatan dalam mempercepat terwujudnya Indonesia Emas. Beberapa situasi strategis melahirkan peluang yang perlu dimanfaatkan. Pertama, industri halal dunia terus tumbuh dengan nilai triliunan dolar, mencakup makanan, kosmetik, pariwisata, logistik, hingga farmasi. Indonesia dapat menjadi pemain utama jika memiliki SDM yang paham ekonomi syariah secara komprehensif.

Kedua, perkembangan teknologi digital membuka ruang bagi inovasi keuangan syariah melalui Islamic fintech, blockchain untuk zakat/wakaf, hingga smart contract untuk transaksi halal. Pendidikan ekonomi syariah yang adaptif dapat melahirkan generasi yang mampu memimpin inovasi tersebut. Ketiga, pemerintah mulai memperkuat kebijakan pengembangan ekonomi syariah melalui berbagai lembaga. Ini menjadi momentum untuk memperluas kemitraan antara dunia pendidikan dan industri.

Untuk memastikan kontribusi optimal pendidikan ekonomi syariah bagi Indonesia Emas 2045, ada tiga langkah penting yang perlu dilakukan. Pertama, meningkatkan relevansi pendidikan ekonomi syariah dengan memperbaiki kurikulum agar dapat menjawab tantangan masa depan. Mata kuliah seperti Islamic finance analytics, manajemen industri halal, serta ekonomi digital syariah harus diperkuat.

Kedua, meningkatkan kompetensi dosen melalui pelatihan, sertifikasi internasional, dan kolaborasi riset. Dosen ekonomi syariah harus mampu menguasai disiplin ilmu modern dan metode pengajaran yang transformatif. Ilmu ekonomi syariah yang diajarkan harus menginspirasi mahasiswa untuk melakukan transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas. Ketiga, memperkokoh ekosistem industri–kampus melalui magang, riset bersama, dan inkubasi bisnis halal. Mahasiswa ekonomi syariah perlu terjun langsung ke lapangan untuk memahami dinamika industri.

Mencapai Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang menyiapkan generasi unggul, baik secara moral maupun intelektual. Pendidikan ekonomi syariah memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan kompetensi tersebut. Jika dikelola secara serius, ia tidak hanya akan memperkuat industri halal dan keuangan syariah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional yang adil, berkelanjutan, dan berkeadaban.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat