Internasional
AS Minta Negara Teluk Biayai Serangan ke Iran
UEA dan Bahrain disebut bersiap menyerang Iran.
WASHINGTON – Gedung Putih terus mencoba menyeret negara-negara Teluk terlibat lebih jauh dalam serangan ke Iran. Belakangan muncul wacana kontroversial: negara-negara Arab diminta ikut menanggung biaya operasi militer tersebut.
Sekretaris Pers Presiden AS Donald Trump, Carolyn Levitt, mengakui bahwa gagasan meminta mitra Arab membiayai operasi militer bukan hal baru di internal pemerintahan. “Itu jelas merupakan ide yang dia miliki,” ujarnya dalam konferensi pers, memberi sinyal bahwa kebijakan tersebut berpotensi segera diwujudkan.
Di tengah pernyataan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa serangan justru lebih dulu dimulai oleh Washington dan Tel Aviv. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke sejumlah target di Iran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil, termasuk serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di bagian selatan negara itu.
Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Biaya perang yang membengkak menjadi latar belakang munculnya wacana pembagian beban tersebut. Berdasarkan Iran War Cost Tracker, dalam 29 hari pertama saja, biaya operasi militer telah melampaui 35 miliar dolar AS.
Bahkan sejumlah laporan memperkirakan total biaya dapat mencapai triliunan dolar dalam jangka panjang. Namun, langkah Washington itu memicu pertanyaan serius dalam lanskap geopolitik: mengapa negara-negara Arab yang tidak menjadi pemicu konflik justru didorong untuk ikut menanggung konsekuensi finansialnya?
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi tekanan dari sekutu tradisionalnya. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, secara terbuka menyampaikan kekecewaan terhadap sikap negara-negara NATO yang enggan mendukung operasi militer tersebut. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa hubungan dengan aliansi itu bisa ditinjau ulang jika akses strategis, seperti penggunaan pangkalan militer, tidak diberikan saat dibutuhkan.
Presiden Trump juga kembali mengecam negara-negara yang menolak ikut berperang melawan Iran. “Semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris, yang menolak terlibat dalam pemenggalan Iran, saya punya saran untuk Anda: Nomor 1, beli dari AS, kami punya banyak; dan Nomor 2, bangun keberanian yang tertunda, pergi ke Selat Hormuz, dan ambil saja,” tulisnya di media sosial.
Sebagai tindak lanjutnya, Trump secara spesifik menyebut Prancis, dengan mengklaim bahwa negara tersebut “SANGAT TIDAK MEMBANTU” karena menolak mengizinkan pesawat bermuatan pasokan terbang di atas wilayah Prancis.
Trump sering mengecam negara-negara Eropa dan para pemimpin mereka atas keengganan mereka untuk berpartisipasi dalam operasi militer di Selat Hormuz.
Sejauh ini, negara-negara Teluk agaknya masih mempertahankan kesatuan dalam menanggapi serangan Iran, meskipun beberapa negara mungkin tergoda untuk keluar dari barisan, kata Sultan Barakat, profesor kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa.
“Saya tidak berpikir mereka mengambil sikap terhadap Iran… dan sejauh ini, mereka telah menunjukkan front persatuan, meskipun menurut saya front persatuan juga rapuh, dalam beberapa hal, terutama UEA dan Bahrain, mengingat tingkat serangan terhadap mereka, dan kedekatan mereka dengan Israel,” kata Barakat kepada Aljazirah.
Sejak dimulainya perang, UEA mencatat jumlah serangan rudal dan drone Iran tertinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Pada 2020, UEA dan Bahrain mencapai kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Keduanya “mungkin tergoda untuk memutuskan hubungan dengan negara-negara Teluk lainnya, namun sejauh ini, sikap mereka bersatu”, kata Barakat, seraya mencatat bahwa negara-negara Teluk telah berulang kali mengatakan bahwa ini bukan perang mereka. Sebaliknya, tambahnya, “hal ini diberlakukan pada mereka sama seperti yang diterapkan pada Iran”.
Pada Selasa, beberapa negara Teluk kembali menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran. Lima ledakan terdengar di Dubai dalam satu jam terakhir. Hal ini terjadi setelah kebakaran terjadi di pelabuhan Dubai, tempat perusahaan minyak milik negara Kuwait mengatakan sebuah kapal tanker minyak berbendera Kuwait terkena serangan. Tidak ada yang terluka.
Bahrain, Arab Saudi dan Qatar semuanya melaporkan mencegat serangan semalam.Sempat terjadi badai hebat di Dubai, tapi kemudian terjadilah ledakan intersepsi yang tidak salah lagi.
Otoritas Manajemen Krisis Darurat Nasional bersama Kementerian Pertahanan mengonfirmasi bahwa pertahanan udara UEA menghadapi ancaman rudal dan drone dari Iran.
Pangkalan udara di selatan pusat kota Dubai serta pelabuhan Jebel Ali dan beberapa fasilitas di sepanjang garis pantai menuju Abu Dhabi, juga menjadi sasaran potensial atau sasaran langsung serangan Iran.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
