Nasional
Mahasiswa tak Hanya Bawa Buku, Tapi Juga Beban Mental
Survei juga menunjukkan masih terbatasnya mahasiswa yang mencari bantuan profesional.
DEPOK — Kecemasan menjadi masalah kesehatan mental paling dominan di kalangan mahasiswa, bahkan hampir separuh mahasiswa tercatat mengalami kecemasan berat hingga sangat berat. Kondisi ini menunjukkan kesehatan mental mahasiswa telah menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian sistemik dari kampus, keluarga, dan masyarakat.
Konselor Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP Universitas Indonesia Annisah mengatakan, berdasarkan survei 2024 dan 2025 menggunakan skala DASS-21, lebih dari 47 persen mahasiswa pada 2024 mengalami kecemasan berat dan sangat berat, sedangkan pada 2025 angkanya sekitar 44 persen.
Hasil survei ini dipaparkan dalam rangkaian kegiatan Out Loud Republika, talkshow dan healing experience yang bertajuk "Grow Through What You Go Through" yang diselenggarakan Republika dan BKM FISIP UI.
Acara ini juga didukung oleh Samsung Galaxy S2 Series, Bank Mandiri, Siloam Heart Hospital, Paragon Corp, Dompet Dhuafa, dan Darya-Varia Laboratoria
Annisah menambahkan pada 2025 sebanyak 1,7 persen mengalami kecemasan berat jauh lebih rendah dari tahun 2024 yang sebanyak 317 orang.
“2024 itu mencapai lebih dari 47 persen yang tingkatannya berat dan sangat berat. Sementara kalau di tahun 2025, cemas yang berat dan sangat berat ada sekitar 44 persen. Di depresi yang berat maupun yang sangat berat pada tahun 2024 itu ada sekitar 190 orang atau 24 persen,” kata Annisah, Kamis (26/2/2026).
Survei tersebut juga menunjukkan masih terbatasnya mahasiswa yang mencari bantuan profesional. Pada 2025, dari 230 mahasiswa yang mengalami kecemasan, hanya 76 orang atau 33 persen yang mengakses layanan konseling. “Ini memang berdasarkan survei dan belum menggambarkan sepenuhnya kondisi riil, tapi setidaknya memberi gambaran permukaan,” kata Annisah.
View this post on Instagram
Annisah mengatakan, kecemasan mahasiswa dipicu berbagai faktor, mulai dari tuntutan akademik, relasi sosial, persoalan keluarga, hingga kekhawatiran masa depan. Tugas kuliah menjadi stresor terbesar yang disebut oleh 65,8 persen responden, disusul persoalan keuangan keluarga sebesar 31,7 persen, serta kesulitan mengelola emosi sebesar 66,1 persen.
Menurut Annisah, persoalan kesehatan mental sering kali sudah muncul sebelum mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Skrining mahasiswa baru UI pada 2024 menunjukkan sekitar 10 persen mahasiswa mengalami kecemasan berat dan 14 persen sangat berat. “Artinya mahasiswa datang tidak hanya membawa buku dan laptop, tapi juga membawa beban,” kata Annisah.
Annisah menambahkan, meningkatnya ide bunuh diri yang disampaikan mahasiswa dalam sesi konseling menjadi indikator serius. Namun Annisah menilai meningkatnya kesadaran mahasiswa untuk mencari bantuan merupakan perkembangan positif.
Pemimpin Redaksi Republika.co.id Andi Muhyiddin mengatakan, kesehatan mental mahasiswa kini telah bergeser dari isu pinggiran menjadi persoalan mendesak. “Isu kesehatan mental yang dulu dianggap tabu sekarang justru menjadi kebutuhan mendesak. Media tidak cukup hanya memberitakan tragedi setelah terjadi. Media harus ikut menciptakan ruang aman sebelum semuanya terlambat,” kata Andi.
Andi mengatakan, mahasiswa menghadapi tekanan berlapis, mulai dari tuntutan akademik, harapan keluarga, hingga pengaruh media sosial. Bahkan data BKM FISIP UI menunjukkan satu dari tiga mahasiswa pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri. “Kasus ini bukan hanya tentang seorang Aulia. Ini tentang sistem, tentang budaya tekanan, dan tentang kesehatan mental yang sering dianggap tidak penting,” kata Andi.
Pengalaman tekanan mental juga dialami Febri Susanto, lulusan FISIP UI angkatan 2021. Febri mengatakan, tekanan akademik dan organisasi membuatnya mengalami gangguan tidur hingga hanya tidur satu jam per hari. “Baru aku sadar ketika melihat pola diriku sendiri. Aku hanya tidur satu jam untuk beraktivitas selama 24 jam. Ketika mencoba tidur lebih lama, justru muncul mimpi buruk,” kata Febri.
Febri mengatakan, bantuan konseling kampus menjadi titik balik pemulihannya. “Ketika konseling, saya tidak melihat beliau sebagai dosen, tetapi sebagai konselor. Beliau bisa menempatkan diri secara profesional,” kata Febri.
Musisi Danilla Riyadi mengatakan, menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari kesadaran diri melalui aktivitas sederhana. “Meditasi itu bisa dengan apa pun. Dan karena aku memang suka banget sama makan, jadi aku menjadikan momen makan itu sebagai meditasi aku,” kata Danilla.
Danilla mengatakan, fokus pada aktivitas sederhana membantu mengurangi kecemasan dan overthinking. “Kalau kita udah fokus sama sekitar, harusnya fokus sama diri sendiri juga bisa. Jadi kita tahu badan kita maunya apa, butuhnya apa,” kata Danilla.
Kampus menyediakan berbagai layanan untuk membantu mahasiswa, termasuk konseling, rujukan ke psikolog dan psikiater, serta pendampingan bersama keluarga. Annisah menilai keterlibatan keluarga dapat mempercepat proses pemulihan mahasiswa.
Annisah menegaskan, kesehatan mental mahasiswa harus menjadi perhatian bersama karena mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan. “Sesuai tagline hari ini, tetaplah bertumbuh. Grow through what you go through. Apa pun kondisinya, mari tetap bertumbuh dan memberi manfaat,” kata Annisah.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
