Sastra
Suara Angin
Puisi Elsita Apriliani
Oleh ELSITA APRILLIANI
Suara Angin
Angin, makhluk paling awal di tepi langit,
mengangkat debu dari bahu-bahu dunia,
meniup mata batu, merapikan tulang-tulang rumput,
menegakkan tiang-tiang senyap dan atap ingatan,
udara menggelembung, serbuk cahaya berputar,
dan bumi yang telanjang membuka pori-porinya
untuk meneguk dingin dari daun-daun dan asalnya.
Oh bisikan yang tajam!
Oh tipu daya yang lembut!
Oh perkelahian yang penuh sentuhan!
Kini suara itu tersisa sebagai desir kusut,
datang dari celah-celah dengan pasir,
dengan karat, sisa bara, bau hujan lama,
asap, paku-paku bergetar, sumpah serapah kota,
hingga kesabarannya
angin
menyusun lorong-lorong dan jeda-jeda,
napas-napas panjang dan lipatan awan,
dan dari gesekan dan putaran dan cahaya pucat,
dari beban-beban musim silam dan dari biji pinus,
muncullah hari itu lebih ringan dari sebelumnya,
melepaskan diri dari genggaman pegunungan
untuk meluncur lagi di atas lautnya,
untuk mencari debu, plastik, garam, asap,
untuk melukai dirinya sendiri,
berputar-putar di antara kabel dan pepohonan.
Di jalan itulah, dengan kebaruannya,
angin melompat ke dalam waktu
untuk kemudian mendapati saat
di mana yang terpenting
adalah terus bergerak,
meski tak ada yang benar-benar mendengarkan
***
Bisikan Syahdu
Aku merawat suaraku sendiri,
dari serpih sunyi kususun rumus-rumusnya:
kutautkan napasku pada malam yang menetes
dan aku masih bisa bertahan.
Benar adanya, kekuatan yang kupelihara
membelah ingatan-ingatan,
dan tanpa aku sadari tumbuhlah
di sela tembok-tembok
retakan-retakan, perpisahan-perpisahan
yang tak menemukan ujung.
Maka aku berjalan ke tepi senyap.
Aku menyaksikan perahu-perahu dilepas,
menyentuh airnya perlahan, seperti doa yang takut pecah:
bergetar menyerupai gema Yang Maha Ada,
papan-papannya pucat,
berbau asin dan cahaya.
Dan bila ia tak kembali,
perahu itu tak kembali,
setiap nama larut dalam diamnya sendiri
sementara aku pulang kepada sunyi
dengan tangan kosong seterang luka.
Harapanku terbaring di dalam perahu-perahu itu.
Aku tak memiliki pilihan lain
selain mendengarkan bisikan itu
dan tetap hidup
***
Di Antara Pohon dan Burung
Aku ingin menjadi jeda bagimu:
di sela daun yang tak saling menyapa
seakan kau berdiri, tapi tak bernama
dan aku hanya desir yang tak kau genggam
Kau mendengarku dari celah angin
namun maknaku gugur sebelum tiba
seperti pandangmu yang berangkat jauh
dan pulang tanpa jejak
Ada sesuatu yang mengatup bibirmu
seperti ranting memeluk cahaya
dan jiwaku memenuhi ruang yang kau tinggalkan
hingga aku tak tahu, mana aku dan mana sepi
Engkau menjelma dari batang-batang sunyi
mengisi napasku tanpa suara
kau seperti bayang dalam ingatan burung
dan seperti kata yang tak selesai diucap
Aku ingin menjadi jeda bagimu:
ketika jarak tumbuh di antara kita
dan suara burung terdengar seperti rindu
yang lupa arah pulang
Kau mendengarku dari jauh,
namun aku hanya gema di balik kulit pohon
biarkan aku datang kepadamu
menjadi diam di sela kesendirianmu
Biarkan aku berbicara tanpa bunyi
dengan bahasa yang tak memerlukan mulut
terang seperti pagi yang sederhana
rapuh seperti sarang yang hampir runtuh
Engkau seperti senja
menyimpan cahaya dan kehilangan
dan sunyimu adalah burung terakhir
yang terbang kecil, lalu lenyap
Aku ingin menjadi jeda bagimu:
di antara pohon dan burung
ketika jarak terasa seperti akhir
dan segalanya hampir menyerah
Lalu satu tatap, satu helaan napas
cukup untuk membatalkan kehancuran
dan aku bahagia
bahagia karena hening
ternyata masih mengingat kita
***
Keheningan Malam
Kuingat kau sebagai bayang di ambang malam terdalam
Dengan mantel gelap dan napas yang disimpan sunyi
Di matamu bulan retak meneteskan cahaya dingin
Dan jam-jam luruh ke dasar palung perasaanku
Tanganku menyusur seperti akar mencari tanah
Dalam hening, dinding malam memeluk namamu, pelan
Kilau lampu jauh membakar rinduku yang lapar
Anggun angin utara, terjalin rapat di dadaku
Seperti matamu berlayar, malam menjauh ke utara:
Atap-atap bisu, desir langkah, hati menyerupai pulang
Menjadi arah, ke mana doa yang letih bernaung
Dan ciumanku jatuh, hangat bagai bara tersisa
Langit dari jendela. Jalan dari gang sempit:
Kenanganmu lahir dari debu cahaya, embun, dan kaca gelap
Melewati matamu, menjauh kembali, malam-malam terjaga
Sunyi berhambur, menetap lama di jiwamu
***
Bisikan Langit
Pada satu petang, di dadaku, kau turun sebagai cahaya
Aku menjelma rindu karena jatuhnya sinarmu yang perlahan
Engkau kupeluk sebagai rahasia, perempuan bermata doa
Di langkah hidupmu, harapanku enggan menjadi abu
Api kecil di dadaku belajar menyebut namamu
Hujanku yang getir, reda dan jernih di telapak tanganmu
Segala kidung sunyi malamku kupaku untukmu
Oh, betapa satu keyakinan terus berdenyut: kau tinggal di sisiku
Kau milikku bisikku pada langit yang membuka diri
Langit mengirimkan gema, lirih, menggigilkan waktu
Penjelajah dalam nadiku, engkaulah pencuri yang lembut
Sebab malam masih mengira hatimu tempat pulang
Kau tersangkut di jala bisikan nafasku, kasih
Dan jala itu melebar, menyentuh batas-batas bintang
Jiwaku terlahir di senyap matamu yang bening
Di bening matamu itu, semesta mulai percaya.
Elsita Apriliani lahir di Sukabumi pada tahun 1997. Ia sempat menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi (STIKESMI), Jurusan Kebidanan. Saat ini, ia aktif bekerja di dunia medis serta terlibat dalam komunitas Suku Sastra Laut Kidul.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
