Sastra
Misteri Hilangnya Patung Presiden Soeharto
Cerpen Indah Noviariesta
Oleh INDAH NOVIARIESTA
Pak Tohir adalah anggota Badan Intelijen Nasional (BIN) yang sedang sibuk mengurusi kasus terorisme dan radikalisme. Seorang teman lamanya, Bang Jali datang ke kantornya yang berada di Jakarta Pusat. Pak Tohir yang sedang duduk termenung, tampaknya merasa gembira menyambut kedatangan Bang Jali.
“Tumben pagi-pagi begini sempat datang ke kantor?” ujar Pak Tohir. Bang Jali justru menanggapinya dengan muka murung dan masam.
“Begini, apakah Pak Tohir ada waktu untuk membantu saya menangani suatu kasus?” katanya dengan suara agak terbata.
“Tenang dulu, Kawan,” balas Pak Tohir. “Duduk dulu, lalu jelaskan secara detail, kasus apa yang mesti saya bantu.”
Ia diberi air mineral gelasan dengan sedotannya, lalu mempersilakan minum. Sejenak Bang Jali mendesah sambil mengendalikan diri, “Jadi begini,” ia berdehem sambil menggeser duduknya. “Sejak kemarin saya merasa khawatir ketika sedang berada di ruang museum. Bapak tahu sendiri kan, dalam tiga tahun terakhir ini saya menjabat Kepala Museum Lubang Buaya, dan segala hal yang berkaitan dengan museum tentu menjadi tanggung jawab saya.”
Pak Tohir mengangguk sambil mencermati setiap kata dari keluhan Bang Jali.
“Jadi begini, belum lama ini, saya menerima seorang karyawan baru yang kelihatannya rajin dan tekun. Pemuda ini saya tempatkan sebagai petugas keamanan museum...”
“Lalu?” potong Pak Tohir. “Apa hubungannya kekhawatiran Bang Jali dengan karyawan baru yang ditempatkan sebagai petugas keamanan?”
Laki-laki itu menelan air liurnya dan berusaha menenangkan diri. “Akhir-akhir ini, Museum Lubang Buaya membutuhkan petugas keamanan baru, karena petugas-petugas yang lama sudah tidak betah. Suatu hari, datanglah seorang pemuda tinggi, agak kurus, dan bicaranya sopan dan pelan. Dia melamar di kantor kami, lalu saya posisikan sebagai petugas keamanan.”
Bang Jali terdiam sejenak, mendehem dan menelan liurnya sekali lagi, kemudian lanjutnya, “Awalnya dia melamar sebagai pemandu wisata, tetapi Bapak tentu paham, seorang pemandu dan penerima tamu harus bersikap lentur dan supel, juga komunikatif. Tetapi, pemuda ini pendiam dan bicaranya pelan sekali. Selain itu, matanya agak belo dan tajam, juga dia mengaku gemar membaca buku-buku sejarah tentang G30S di tahun 1965. Karena itu, apa salahnya saya posisikan dia sebagai petugas keamanan...”
“Apakah tidak ada pelamar lain yang pantas ditempatkan sebagai penjaga museum?”
“Sama sekali tidak ada, Pak Tohir. Bahkan dalam tiga bulan terakhir, dua orang petugas keamanan menyatakan dirinya keluar.”
“Barangkali, supaya tidak menimbulkan kesan angker, Museum Lubang Buaya itu perlu dilengkapi dengan taman atau tempat bermain untuk anak-anak TK.”
Bang Jali terdiam dan merasa tersinggung, lalu katanya ketus, “Apakah yang dimaksud Pak Tohir, museum itu hanya pantas dikunjungi anak-anak TK, begitu?”
“Bukan begitu maksud saya,” balasnya sambil tersenyum. “Jadi, supaya tidak ada kesan menyeramkan, barangkali perlu dilengkapi dengan aksesoris museum yang agak mencerahkan.”
“Oo, begitu.”
“Lalu, ada kasus apa dengan karyawan baru itu, dan apa yang bisa saya bantu?”
“Setelah seminggu dia bekerja dan menjaga museum, tiba-tiba pemuda itu menghilang entah ke mana... dan dua hari setelah pemuda itu tidak masuk, tanpa kabar apapun, tiba-tiba patung mantan Presiden Soeharto di museum kami ikut menghilang.”
Pak Tohir mengangkat kepalanya, dengan alis memicing dia bertanya lagi, “Bagaimana dengan alamatnya, atau nomor ponselnya?”
“Nomor ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali,” katanya setengah frustasi. “Dia mencatat alamat di rumah lamanya di Pasar Jatinegara, dan rumah itu sekarang dikontrakkan... bagaimana, apakah Pak Tohir bisa membantu saya menangani masalah kecil ini?”
Pak Tohir kontan menatapnya. “Ah! Bukan begitu Bang Jali, saya kira tidak ada kasus yang bisa dianggap kecil. Apalagi menyangkut hilangnya patung seorang mantan presiden. Maksud saya, semua kasus pastilah penting dan pantas untuk diselesaikan.”
Seminggu kemudian, seusai menangani kasus terorisme, Pak Tohir mengunjungi Museum Lubang Buaya, dan langsung disambut sang kepala museum dengan antusias.
Bangunannya cukup luas dan megah. Suasana di tiap-tiap ruangan amat buram dan remang. Dia agak sangsi, apa yang diincar pemuda itu seandainya dia pelaku pencurian patung sang mantan presiden Orde Baru. Apa pula yang menarik dari patung perunggu yang tak berharga itu?
Keesokannya, Pak Tohir minta nomor ponsel Bang Majid, seorang kepala petugas keamanan yang masih bekerja di museum. Tak berapa lama, ia pun mengontak nomor Bang Majid, dan siang harinya Bang Majid kontan menghadap Pak Tohir di kantornya. “Ada apa saya diminta hadir ke sini, dan siapa Bapak ini?”
Dengan tenang Pak Tohir mempersilakan duduk. Ia menjamu tamunya dengan hormat seperti layaknya seorang raja. “Maafkan saya kalau merepotkan Bapak. Saya hanya ingin menanyakan sesuatu, barangkali Bapak bisa membantu saya untuk menyelesaikan persoalan ini.”
“Apa itu, Pak?” katanya dengan ketus dan mata mengerling.
Pak Tohir menimbang bahwa pria ini agak temperamen dan keras kepala. Karena itu, ia pun memutuskan langsung ke topik pemasalahan, “Bapak kenal dengan Sodik kan?”
Ia berpikir sejenak. “Oh dia,” ucapnya ketika sadar. “Ya, kenal tapi sepintas saja, setelah beberapa hari dia kerja di museum...”
“Bisakah Bapak jelaskan tentang pemuda itu, menurut pengetahuan Bapak.”
Bang Majid agar gusar, menggeser duduknya sedikit, dan katanya, “Kelihatannya dia itu pendiam sekali. Bicaranya cuma sedikit. Waktu hari pertama bekerja dia tidak bicara sama sekali. Lalu, waktu saya tanyakan dari mana, dan pernah sekolah di mana, dia hanya ngomong seperlunya saja.”
“Lalu, apa lagi yang Bapak ketahui tentang dia?”
“Ah, saya jengkel sekali, Pak. Ngapain juga orang kaya begitu bekerja sebagai petugas keamanan? Saya mencoba membikin sedikit kelakar, tapi dia enggak nyambung sama sekali. Dia hanya membuka-buka halaman buku yang sedang dibacanya...”
“Coba Bapak jelaskan, buku apa yang sedang dia baca?”
“Kalau enggak salah... saya cuma lihat sepintas di covernya seperti wajah Presiden Soeharto, dan sepertinya buku itu dikarang oleh Nugroho... Noto... Siswoyo...”
“Nugroho Notosusanto.”
“Ah, sepertinya begitu... dan buku itu dia ambil dari salah satu etalase museum, dibuka-buka halamannya, tapi entah dibaca atau tidak, saya kurang tahu....”
“Lalu, mengenai patung yang hilang, apakah ada kaitannya dengan buku yang sedang dibaca pemuda itu?”
“Ah, iya! Saya lupa!!” Bang Majid menepuk jidatnya sendiri sambil menengadah. “Patung Presiden Soeharto itu dipinjam para seniman patung seminggu lalu. Seharusnya saya memberi tahu kepala museum sejak beberapa hari lalu... tapi, ya sudahlah, sepertinya besok pagi patung itu akan segera dikembalikan...”
“Untuk apa mereka meminjam patung itu?” pancing Pak Tohir lagi.
“Pada surat pinjaman yang mereka bawa, sepertinya buat acara perkumpulan seniman senior di Taman Ismail Marzuki...”
“Hmm, menarik sekali,” kata Pak Tohir.
“Apanya yang menarik, Pak?” tanya Bang Majid heran.
Pak Tohir menyudahi pertemuan dan kembali meminta pesuruhnya agar mengantar Bang Majid sampai pintu gerbang.
Ia menghempaskan punggungnya di tempat duduk, memikirkan sang pemuda yang memang tidak sepantasnya diperlakukan sebagai tertuduh atas hilangnya patung tersebut. Keesokannya, ia memanggil Bang Jali, hingga kepala museum itu pun datang bersama istrinya yang gendut.
“Bagaimana Pak Tohir, sudah ada perkembangan?” tanya Bang Jali.
“Saya sudah menyimpulkan beberapa jawaban. Tampaknya kasus yang sedang saya tangani ini, hanya masalah ketidakpahaman...”
“Maksud Bapak?”
“Ini hanya masalah kurangnya komunikasi di antara kalian. Si pelaku yang kita cari, sepertinya sudah tidak mau lagi kerja di Museum Lubang Buaya...”
“Lho, kenapa? Apakah gaji yang saya tawarkan belum cukup buat dia?”
“Bukan masalah gaji. Tapi, dari informasi yang saya kumpulkan, pemuda itu orangnya tertutup, pendiam, dan susah diajak bicara...”
“Lalu, soal patung Presiden Soeharto yang hilang?” perempuan gendut itu menyambar sengit.
“Masalah patung tidak ada sangkut pautnya dengan hilangnya pemuda itu. Sebab, hari ini patung itu akan segera dikembalikan oleh peminjamnya. Tapi baiklah, supaya semuanya jelas, besok pagi sekitar jam 9.00 kita menuju kediaman pemuda itu, yang jaraknya sekitar limabelas kilometer dari pusat kota.”
Keesokan paginya, Pak Tohir sudah disibukkan dengan keberangkatan ke suatu tempat yang jauh bersama Bang Jali. Mereka mengendarai mobil menyusuri jalanan yang rusak menuju pelosok kampung yang sulit terjamah oleh sinyal ponsel. Setelah menanyakan alamat pemuda itu pada beberapa orang yang berpapasan di belokan jalan yang berliku, akhirnya rumah di dusun terpencil itu pun diketemukan.
“Sodik? Apakah benar ini Ahmad Sodik?”
Pemuda kurus dan jangkung itu merasa kikuk dan terkejut, seperti tertangkap basah. Lalu, malam harinya, semuanya berkumpul di kantor Pak Tohir. Ahmad Sodik berada di tengah para hadirin. Pak Tohir, Bang Majid, Bang Jali, dan istrinya memandang dengan canggung pemuda yang ada di hadapannya.
“Jadi, Ahmad Sodik, apakah sudah siap memberi keterangan di sini?” pinta Pak Tohir.
Pemuda kurus itu mengucapkan salam dengan suara serak dan terbata. “Bapak-bapak,” katanya, “tadi, seperti yang disampaikan oleh Bapak yang memakai jas hitam itu... bahwa saya diminta memberi keterangan kepada Bang Jali khususnya, yang pernah mempekerjakan saya di musuem... terus terang, saya bukan bermaksud membuat bapak-bapak merasa kerepotan, sampai mencari-cari alamat saya di kampung pedalaman... jadi, saya mohon maaf, khususnya kepada Bang Jali, bahwa saya tidak berniat untuk kabur dari pekerjaan di museum itu....”
Bang Jali menganggukkan kepalanya sambil menatap penuh iba kepada pemuda kurus tersebut.
“Dan sekali lagi, saya mohon maaf jika saya tidak mau melanjutkan untuk bekerja di museum Bapak.”
“Kenapa?” tanya Bang Jali. “Apakah hanya karena adanya novel Merobohkan Museum Lubang Buaya yang ditulis orang Banten itu?”
“Sama sekali bukan itu penyebabnya, Pak.”
“Lalu apa? Apakah saya perlu menaikkan gaji yang pernah saya tawarkan?”
“Maaf, Pak, ini juga bukan soal gaji.” kata Sodik lagi. “Saya hanya merasa tidak pantas kerja di tempat itu, lalu memutuskan pergi begitu saja, karena takut saya kena marah oleh Bapak...”
“Walah, welah....”
Pak Tohir menatap Bang Jali, dan menenangkannya agar bersikap sabar.
“Oke baiklah, jadi sudah jelas semuanya, bahwa ini hanya soal kesalahpahaman,” kata Pak Tohir. “Sepertinya Sodik ini, tipikal pemuda yang agak labil dan kurang percaya diri. Itu jelas sudah disebutkan tadi, bahwa dia takut dan merasa tidak pantas bekerja di museum itu, lalu pergi begitu saja, tanpa sempat pamit atau permisi... Bang Majid juga pernah memberi tahu saya, bahwa Sodik ini orangnya pemalu, tertutup, dan hanya mau ngomong seperlunya saja. Selain itu, bagi kita sudah cukup jelas penyebabnya, bahwa Sodik ini rupanya hanya seorang anak tunggal yang menemani ibunya yang sedang sakit-sakitan di kampung, sementara rumahnya yang di kota dikontrakkan dalam tahun-tahun terakhir ini.”
Pak Tohir menatap hadirin dengan seksama, menghela nafasnya, kemudian mengakhiri pembicaraan, “Untung ada Bang Majid yang pernah memberi informasi pada saya mengenai alamat Sodik yang sekarang ditempati bersama ibunya di kampung. Saya kira, kalau bukan karena Bang Majid, misteri ini akan sulit dipecahkan.”
***
Indah Noviariesta adalah aktivis organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), pemenang lomba cerpen Cagar Budaya Nasional, juga peraih nominasi penulisan cerpen terbaik yang diselenggarakan Litera (2021).
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
