Direktur INSISTS Hamid Fahmy Zarkasyi. Dalam tulisannya kali ini, dia mengupas tentang virus Korona | Yasin Habibi/ Republika
16 Apr 2020, 03:56 WIB

Ayat-Ayat Korona 

Virus Korona adalah ayat mutasyabihat. Ada pesan-pesan dari alam ghaib untuk semua manusia.

 

Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi

 

Ketika gunung berapi dan juga gletser Eyjafjallajokull di Islandia meletus tahun 2010, semua penerbangan dari dan ke Eropa lumpuh. Tidak ada yang bisa mengatasi masalah ini.  Koran The Guardian di London menulis berita teras “This is the work of God”. Nadanya seperti menyalahkan Tuhan, tapi tidak dijelaskan bagaimana Tuhan membuat letusan itu. 

Terkait

Lebih dahsyat dari itu, peristiwa pandemik internasional Korona Virus Desease 19 (Covid-19), bahkan melumpuhkan kehidupan dunia. Tidak satupun negara yang selamat dari ancamannya. Virus ini seperti penguasa dunia, tapi belum terdengar kalimat “This is the work of God”. 

Analisis sementara ada yang mengaitkan virus korona dengan MERS dan SARS, dan dipercaya berasal dari kelelawar. Sebab virus SARS CoV-2 mirip dengan dua virus korona yang menyerupai SARS dari kelelawar. Para peneliti di South China Agricultural University mencurigai pangolin atau trenggiling sebagai inang perantara virus tersebut. Peneliti lain curiga pada ular sebab kode protein ular sama dengan virus corona. Tapi bagaimana virus ini berpindah dari populasi hewan ke manusia ternyata masih misteri. 

Penelitian dalam jurnal Nature Medicine, memastikan bahwa virus ini bukanlah dari laboratorium atau ciptaan manusia.  Sebab virus SARS CoV-2 bermutasi secara alami untuk mengikat sel manusia. Ini tentu bukan rekayasa genetika. Benarkah virus korona berkaitan dengan perang dagang AS-China dengan senjata biologi masih misteri. Tapi mengapa tidak satupun yang menyatakan “This is the work of God”? 

Anehnya ada tokoh cendekiawan Muslim yang berani memastikan “Ini bukan azab Tuhan”. Yang lebih ekstrim lagi ada cendekiawan Muslim justru menghadirkan karya Yuval Noah Harari yang terbit 10 tahun lalu. Dalam bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind Harari berasumsi bahwa manusia menciptakan konsep Tuhan ketika menghadapi masalah yang rumit dan dahsyat.  Artinya, Tuhan itu “dianggap” tidak ada, tapi diadakan oleh khayalan manusia. Ini persis teori Nietzsche sang nihilist dan pembunuh Tuhan itu. 

Seorang komentator menganggap Harari sedang mengkhayal. Buku ini katanya hanyalah “novelization of human history”. William, komentator lainnya menganggap buku ini sebagai penjelasan dangkal tentang sejarah manusia (superficial gloss on human history) dan kurang sumber. ''Bagaimana ia tahu psikologi manusia 70.000 tahun,'' tukasnya. 

Jika Anda tanya Harari tentang virus korona jawabnya tentu “bukan dari Tuhan”. Tapi dipastikan dia tidak tahu jawaban dari misteri-misteri di atas. Dia tidak tahu mengapa korona “mengamuk” di Wuhan terus “menyerang” Italia, Spanyol, Iran, Amerika, Indonesia dan sebagainya. Mengapa penyebarannya begitu selektif? Mengapa memilih negara-negara itu bukan negara lain? Mengapa menyasar menteri dan bukan jamaah masjid. Dia tidak tahu.

Misteri itu adalah tanda-tanda alam yang ambigu. Dalam Alquran disebut ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat mutasyabihat memerlukan ta’wil dan untuk men-ta’wil perlu manusia yang cerdas mata-hatinya dan dalam ilmunya (rasikhun fil-‘ilmi) atau manusia pemilik lubb yang disebut ulul Albab (QS 3:7). Ulul Albab melihat tanda-tanda alam (ayat-ayat kauniyyah) secara empiris, rasional dan spiritual sekaligus. Ia paham bahwa pertanda menunjukkan sesuatu di luar dirinya. Tanda-tanda dalam bentuk mata rantai sebab akibat itu menunjukkan adanya sesuatu di luar dirinya, yaitu Sebab dari Segala Sebab (musabbib al-asbab) yaitu Tuhan.  

Virus korona adalah ayat mutasyabihat. Ada pesan-pesan dari alam ghaib untuk semua manusia.  Di antaranya untuk penguasa yang zalim, orang kaya yang sombong, orang miskin yang pemarah, yang kufur pada Tuhan, untuk para teknokrat yang pongah, para saintis dan filosof yang arogan dan sebagainya. 

Yang bisa menangkap pesan-pesan itu hanyalah yang beriman, yang selalu mengingat (yadzkuru) Allah dan kemudian terus menerus berfikir secara saintifik (yatafakkaru) akan kejadiannya (QS 3:190).  Jika seseorang memahami tanda-tanda alam dengan cara demikian maka ia pasti menemukan “hikmah” di balik pandemik ayat-ayat virus Korona itu (QS 2:26). Dia itulah Ulul Albab, orang baik yang banyak memperoleh kebaikan. 


×