Seorang pria melintasi layar elektronik pergerakan saham di Jakarta, Selasa (7/4/2020). | Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
21 Oct 2020, 08:46 WIB

Jurus Menkeu Lawan Dampak Covid-19

Pemerintah diminta berhati-hati menerbitkan surat utang bertenor panjang.

 

JAKARTA -- Kementerian Keuangan menerbitkan tiga seri surat utang negara berdenominasi dolar AS atau global bond senilai total 4,3 miliar dolar AS. Salah satu obligasi negara itu ditawarkan dengan tenor 50 tahun atau menjadi yang pertama kali diterbitkan Pemerintah Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penerbitan global bond dengan tenor panjang juga menyesuaikan dengan kondisi pasar. “Dengan demikian, kita bisa mendapatkan yield cukup baik,” ujar Sri dalam telekonferensi bersama wartawan, Selasa (7/4).

 

Terkait

Obligasi dengan seri RI0470 merupakan bagian dari pembiayaan APBN dan penanganan wabah Covid-19. Berdasarkan data yang disampaikan Sri, surat utang denominasi dolar AS ini diterbitkan dengan nominal 1 miliar dolar AS dengan tingkat imbal hasil atau yield 4,5 persen.

 

Sri menuturkan, penerbitan obligasi dengan tenor panjang juga menjadi strategi pemerintah untuk mengombinasikan surat utang negara (SUN) domestik yang rata-rata bertenor pendek, yaitu sekitar lima tahun. “Sehingga bisa memberikan jatuh tempo yang lebih seimbang antara beban jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujarnya.

photo
Seorang pria melintasi deretan toko yang tutup di Pasar Baru, Jakarta, Rabu (1/4/2020). - (ANTARA FOTO)

 

Selain itu, Sri menambahkan, penerbitan global bond dilakukan dalam rangka menjaga pembiayaan secara aman sekaligus menambah aliran devisa masuk ke Indonesia. Selain tenor 50 tahun, pemerintah juga menerbitkan global bond dengan tenor 10,5 tahun (RI1030) dan 30,5 tahun (RI1050) dengan masing-masing yield 3,9 persen dan 4,25 persen. Nominal yang diterbitkan untuk masing-masing seri sebesar 1,65 miliar dolar AS.

 

Sri menyambut baik pencapaian tersebut. Menurut dia, nilai penerbitan tiga surat utang itu menunjukkan gambaran positif bagi instrumen utang Indonesia di tengah turbulensi pasar keuangan global. “Ini adalah penerbitan terbesar di dalam sejarah penerbitan //USD bonds// oleh pemerintah,” katanya.

 

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai, keputusan pemerintah mengambil tenor panjang dalam penerbitan obligasi global untuk memberikan daya tarik lebih bagi investor. Piter menyebutkan, pemerintah harus memiliki iming-iming besar agar surat utang bisa laku di pasar. "Istilahnya, dijual obral," ujar Piter.

Piter menyebutkan, pemerintah harus berhati-hati dalam menawarkan global bond ke depannya. Menurut dia, dengan adanya kepanikan akibat wabah Covid-19, risiko meningkat dan harus dibayar dengan imbal hasil tinggi serta dilunasi dalam periode sangat panjang.

Piter menilai, pemerintah masih memiliki opsi penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam negeri dengan skema quantitative easing atau dibeli oleh Bank Indonesia (BI). Dengan kebijakan ini, pemerintah Indonesia memiliki risiko lebih rendah karena bisa menawarkan surat utang dalam suku bunga lebih rendah dan tenor lebih pendek.

 

Piter mengakui, Indonesia memang membutuhkan dolar AS untuk memperkuat BI dalam melakukan stabilisasi rupiah. Namun, cadangan devisa Indonesia ditambah dengan pertahanan lini kedua BI saat ini dinilai masih cukup. "Makanya, lebih baik fokus ke pembiayaan dalam negeri dengan mengandalkan quantitative easing dari BI," ujarnya.

 

Sementara untuk menjaga likuiditas dolar AS, Bank Indonesia menjalin kerja sama dengan bank sentral AS the Federal Reserve (Fed) untuk melakukan repo line atau repurchased agreement. Kerja sama yang biasa disebut foreign and international monetary authorities (FIMA) tersebut akan digunakan jika dibutuhkan dalam stabilisasi nilai tukar.

"Kami sudah komunikasi dengan the Fed dan mencapai kesepakatan, the Fed menyediakan repo line yang jumlahnya 60 miliar dolar AS," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

 

Fasilitas itu ditawarkan kepada sejumlah bank sentral di dunia, baik negara maju maupun berkembang. Perry menambahkan, hingga saat ini hanya beberapa negara emerging market yang bekerja sama untuk fasilitas repo line.

Menurut dia, hal ini merupakan salah satu dukungan dan kepercayaan the Fed kepada Indonesia terkait prospek ekonomi. Perry mengatakan, hingga saat ini BI belum berencana menggunakannya, tapi sudah siap jika memerlukan likuiditas dolar AS.

Saat ini nilai tukar terus menguat ke level Rp 16.125 per dolar AS. Perry mengatakan, sejumlah dari cadangan devisa sudah dialokasikan dalam bentuk likuid sehingga memudahkan intervensi dalam stabilisasi rupiah. n


,
×