Tim medis mengevakuasi warga diduga terserang Korona di Chengdeu Korea Selatan | AP

Internasional

Kim Byung-rok , Gelar Sang Malaikat, dan Wabah Korona

Begitu banyak warga Korsel yang kehilangan mata pencaharian akibat pandemi virus korona.

 

Pada usia 23 tahun, Kim Byung-rok (60 tahun) berhasil bertahan melawan penyakit tuberkulosis. Namun, warga Korea Selatan (Korsel) ini harus kehilangan sebelah paru-parunya. Untungnya, satu paru-parunya yang tersisa itu dalam kondisi sehat. Namun, banyak udara tak bersih yang ia hirup. Maklum saja, ia bekerja sebagai tukang sepatu yang mengharuskannya memoles dan memperbaiki sepatu.

Kim kemudian membeli sebidang lahan di pegunungan pada 2014. Ia ingin rehat dan memulai hidup sebagai petani. Dengan begitu, ia akan bisa menghirup udara segar lagi demi paru-parunya. Namun, kini Kim ingin menyumbangkan sebagian besar hartanya itu kepada pemerintah desa tempat ia tinggal.

Begitu banyak warga Korsel yang kehilangan mata pencaharian akibat pandemi virus korona. Kalaupun usaha mereka masih bertahan, pemasukan mereka berkurang. Wabah virus ini memang menjadi hantaman keras bagi negaranya. Hal ini membuat Kim berpikir, lahannya akan bisa menjadi sumbangan yang akan berguna bagi banyak orang.

"Saya sudah melewati masa kecil yang berat dan setiap saat selalu mendapat pertolongan dari orang lain. Saya selalu berpikir bahwa suatu hari saya harus menjadi orang yang bisa menolong orang lain," kata Kim di tokonya di Seoul, Korsel. Kuku-kukunya yang kotor seakan menjadi saksi tentang pekerjaannya sehari-hari.

"Bukankah bagus jika saya bisa memberikan kekuatan dan keberanian kepada orang lain?" ujar Kim.

Perbuatan Kim ternyata mendapat tanggapan luas. Kisah Kim dan donasinya yang dimuat secara daring di media telah menyedot lebih dari 2.100 komentar, bahkan lebih saat tulisan ini dibuat. Ada warganet yang menyebut Kim "sang malaikat". Ada pula yang menyebut tukang sepatu ini "orang yang layak mendapat tempat di surga".

Tiga lahan Kim berlokasi di Paju, dekat perbatasan Korea Utara (Korut). Luas lahan itu sekitar 33 ribu meter persegi. Kim akan menyumbangkan sebagian besar lahan itu. Menurut aparat pemerintah daerah setempat, nilai lahan yang disumbangkan Kim senilai antara 500 juta dan 700 juta won. Mungkin dalam rupiah nilainya antara Rp 6,7 miliar dan Rp 9,5 miliar.

Ada beberapa hal teknis yang harus diurusnya, termasuk pajak. Kini pemerintah daerah sedang berupaya agar Kim tidak diwajibkan membayar pajak hibah. Namun, Kim berpendapat lain.

"Jika saya memang harus membayarnya, saya tidak apa-apa," kata Kim.

Kim adalah penganut agama yang taat. Hidup yang pernah dijalaninya tidaklah mudah. Ayahnya meninggal saat Kim berusia enam tahun. Ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang kerap memukuli dan menyiksa Kim. Kim kabur dari rumah dan mulai bekerja sebagai penyemir sepatu ketika ia berusia 10 tahun. Hidup terpisah dari keluarga, membuat Kim sempat tersesat. Ia kecanduan minum dan merokok. Saat itulah penyakit tuberkulosis menyerangnya.

Saat Kim sembuh, ia pun menemukan keyakinan dan mulai aktif dalam kegiatan sosial. Selama 25 tahun terakhir, entah sudah berapa ribu pasang sepatu ia perbaiki lalu ia sumbangkan kepada mereka yang membutuhkannya. Ia juga kadang mengadakan cukur gratis untuk warga berusia lanjut yang sudah menderita pikun atau sakit-sakitan.

Kini Kim bekerja bersama istrinya. Penghasilannya sekitar 2 juta hingga 3 juta won per bulan. Angka itu sebetulnya lebih kecil dari penghasilan rata-rata warga Korsel yang mencapai 4,8 juta won.

Kim dan keluarga hidup di apartemen kecil berkamar dua. Kim dan istrinya masih tinggal bersama tiga putra mereka, dua di antaranya sudah dewasa. Salah satu putra Kim yang berusia 26 tahun harus hidup dengan down syndrom. Kim mengaku, hal yang paling menyakitkan hatinya adalah reaksi sejumlah tetangga dan temannya atas rencananya menyumbangkan lahan.

"Mereka mengatakan seperti, 'Hei, apa-apaan ini.... Urus anak-anak kalian dulu'," ujar Kim. "Namun, anak-anak saya tidak pernah kelaparan dan kami hidup bahagia. Saya puas dengan kehidupan saya dan saya tidak bisa mengabaikan orang-orang yang malang dan membutuhkan," katanya.

Berita buruk tentang virus korona terus mengalir. Namun, jangan lupa bahwa berita kebaikan dan pengorbanan mulia pun terus mengalir.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat