Gubernur Banten Wahidin Halim (kanan) | ANTARA FOTO

Nusantara

22 Mar 2020, 12:07 WIB

E-Sport Hingga Seleksi Paskibraka Banten Ditunda

Akibat virus korona, suasana sosial di Banten menjadi memperihatinkan.

 

SERANG -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menyebut akan menunda beberapa agenda besar olahraga dan kepemudaan sebagai dampak mewabahnya Covid-19 atau virus korona di wilayahnya. Setelah ditetapkannya status Banten dalam kejadian luar biasa (KLB) virus korona, terhitung ada tiga agenda kepemudaan yang akan ditunda, yakni kompetisi e-sport, seleksi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka), dan Kartini Run.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banten Deden Apriandhi menuturkan, penundaan agenda kepemudaan ini sesuai dengan imbauan pemprov untuk menunda kegiatan yang melibatkan orang banyak. Ia juga mengaku belum bisa memprediksi kapan pastinya acara-acara tersebut akan digelar.

"Terkait Paskibraka, kami dapat data dari kabupaten/kota kita, ternyata banyak yang menunda seleksi dan sampai sekarang baru ada Kota Serang. Pandeglang saja yang sudah selesai, padahal seleksi provinsi tanggal 7 April. Jambore pemuda juga sekitar tanggal 27 Maret yang di dalamnya ada e-sport, lalu ada Kartini Run di acara gerakan masyarakat sehat (Germas) tanggal 5 April," kata Deden Apriandhi, Ahad (22/3).

Atas penundaan ini, Deden mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut dengan berbagai pihak terkait acara tersebut, seperti Indonesia E-Sport Asosiasi (IESPA) dalam kompetisi e-sport. Sementara, agenda Dispora lain disebutnya tidak akan terganggu karena hanya dihadiri oleh peserta yang sedikit.

Beberapa kompetisi atau agenda kecil lain yang hanya melibatkan tidak lebih dari 50 peserta di dalamnya akan terus dijalankan. "Penundaan kan karena acara-acara tersebut pesertanya cukup banyak, seperti jambore pemuda saja akan ada sekitar 1.000 orang," ujar dia.

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim menyebut, akibat virus korona, suasana sosial di Banten menjadi memperihatinkan. Makin tingginya kasus warga yang terjangkit virus ini, ditambah telah padatnya fasilitas kesehatan yang menunjang penanganan virus korona membuat masyarakat khawatir.

"Kita akan melakukan penambahan rumah sakit rujukan karena Rumah Sakit Persahabatan dan Rumah Sakit Sulianti Saroso sudah padat. Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten harus menyiapkan sendiri. Saya akan minta ke Menteri Kesehatan, apakah kita akan melakukan rapid test, masyarakat harus dilayani karena suasana sosial memprihatinkan," kata Wahidin.

Data terbaru dari laman resmi penanganan virus korona milik Pemprov Banten menyebut, saat ini ada 23 orang warga yang positif terjangkit korona. Menurut data tersebut, tiga orang meninggal, satu orang berhasil sembuh, dan 19 orang masih dirawat.

Wahidin juga mengaku telah menginstruksikan Dinas Kesehatan dan Gugus Tugas Covid 19 Pemprov Banten untuk terus melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum.

"Dinas Kesehatan Provinsi Banten akan memperbanyak ruang isolasi, juga menunjuk rumah sakit umum yang bisa dimanfaatkan. Kalau perlu, kantor-kantor yang tidak terpakai kita gunakan sebagai ruang isolasi," kata dia.

Pasien PDP meninggal

Sementara itu, seorang warga Pandeglang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 yang dirujuk ke Rumah Sakit dr Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang, Provinsi Banten, meninggal dunia, Sabtu, pukul 02.00 WIB.

"Kami belum mengetahui laporan kasus kematian itu. Apakah mereka terpapar virus korona atau bukan," kata Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Pandeglang, dr Achmad Sulaeman, Sabtu (21/3).

Penyebab kematian warga Pandeglang sebagai PDP korona virus baru yang dirujuk ke RSDP Serang itu pada Jumat (20/3) karena kondisinya cukup parah. Ia menjelaskan, kematian pasien itu hingga saat ini belum diketahui secara jelas, apakah terkena virus korona atau bukan.

Sebab, dia juga masih menunggu hasil pemeriksaan sampel pasien di laboratorium Jakarta. Pihaknya meminta warga Pandeglang tetap berada di rumah selama masa pencegahan penyebaran virus korona sebagai wujud kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah.

Saat ini, kata dia, jumlah warga Pandeglang yang masuk kategori PDP Covid-19 tercatat dua orang dan berkurang setelah seorang dilaporkan meninggal dunia itu. Sementara, warga berstatus orang dalam pengawasan tercatat 17 orang.

Dia mengatakan, pasien PDP virus korona yang meninggal dunia itu berjenis kelamin laki-laki, berusia 52 tahun, dan sebelumnya mendapatkan perawatan di RSUD Berkah Pandeglang. Pasien kemudian dirujuk ke RSDP Serang pada Jumat (20/3) sekitar pukul 15.40 WIB.

"Kami minta warga dapat meningkatkan kewaspadaan penyebaran Covid-19 itu," ujar dia.


×