Petugas Puskesmas Pasar Minggu melakukan fogging di Jalan Jati Padang Utara, Pasar Minggu, Sabtu (14/3). | Republika/Thoudy Badai

X-Kisah

17 Mar 2020, 02:00 WIB

Ketika Sampah Jadi Penyebab KLB DBD

Tangisan seorang balita laki-laki berusia tiga tahun bernama Yohannes pecah di Klinik Geriatri Terpadu RSUD TC Hillers Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini digunakan untuk menampung para pasien demam berdarah dengue (DBD). Satu botol infus digantung di samping tempat tidurnya. Jarum infus juga sudah dipasang oleh perawat di rumah sakit itu di tangan mungil Yohannes.

“Dia menangis sejak semalam dan hanya dijaga oleh bapak dan tantenya sampai pagi ini,” kata perawat jaga, Mariana, di Kabupaten Sikka, NTT, beberapa waktu lalu. Yohannes adalah pasien DBD yang baru dipindahkan ke ruangan itu pada pukul 05.00 WITA dari ruangan unit gawat darurat (UGD) di RS tersebut setelah ada pasien yang dipindahkan ke bangsal anak di Ruangan Melati.

Anton ayah dari Yohannes mengaku bahwa kondisi Yohannes ketika dibawa ke RSUD TC Hillers memang sangat drop. Di ruangan Klinik Geriatri Terpadu sendiri terdapat kurang lebih 12 tempat tidur. Seluruh tempat tidur itu penuh terisi oleh pasien demam berdarah yang dirujuk dari 25 puskesmas dan dua RS rawat inap di kabupaten itu.

Direktur Utama RSUD TC Hillers Marietha Weni mengatakan, secara umum satu-satunya RS milik pemda di daerah itu tak mampu menampung seluruh pasien rujukan dari 25 puskesmas dan dua rumah sakit rawat inap di kabupaten itu. Kapasitas tempat tidur secara umum hanya mencapai 202 unit saja. Sedangkan, pasien DBD dari hari ke hari makin bertambah walaupun dalam beberapa hari terakhir sudah mulai mengalami penurunan.

“Kami pun terpaksa membuka ruangan baru. Salah satunya Klinik Geriatri Terpadu yang seharusnya bukan merupakan bangsal untuk tempat merawat pasien. Sebab yang dirawat itu tidak hanya pasien DBD, tetapi ada juga pasien dengan sakit yang lain,” ujar Marietha.

Emliana, seorang dokter yang bertugas di ruangan UGD, menceritakan bahwa pada awal-awal tahun ini jumlah pasien yang dirujuk ke RSUD itu memang sangat banyak, bahkan para perawat sulit menempatkan pasien. “Ada beberapa pasien yang terpaksa kita terima di UGD, tetapi harus berbagi tempat tidur. Satu tempat tidur dua orang, sambil menunggu dipindahkan,” ujar dia.

Namun, kondisi itu perlahan-lahan makin berkurang sebab sudah banyak yang bisa ditangani oleh puskesmas dan RS rawat inap serta adanya pemutusan mata rantai nyamuk Aedes Aegypty.

Terlambat penanganan

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, Kabupaten Sikka menjadi penyumbang jumlah kasus DBD nomor satu di Indonesia dengan angka kematian mencapai 14 orang. Total kasus DBD hingga Ahad (15/3) malam mencapai angka 1.332 kasus.

Marietha mengatakan, kebanyakan pasien DBD yang meninggal adalah balita usia lima bulan hingga anak-anak yang berusia 15 tahun. “Kebanyakan yang dirujuk ke sini (RSUD) adalah pasien yang sudah masuk dalam shock syndrome dengan adanya banyak pendarahan sehingga terlambat untuk tertolong,” ujar dia.

Bahkan, seorang pasien berusia tujuh tahun yang meninggal pada 9 Maret lalu ketika ditangani sudah dalam kondisi gusi berdarah dan buang air besar berdarah. Pasien itu merupakan pasien rujukan dari RS Rawat Inap Santo Gabriell Kewapante.

Oleh karena itu, dia menganjurkan, apabila ada anak kecil yang panas harus segera dibawa ke puskesmas untuk diperiksa. Kalau perlu, lanjut dia, dirujuk untuk periksa laboratorium darah. Beberapa orang tua yang anaknya berhasil melewati masa kritis mengaku sangat bersyukur karena tak terlambat membawa anak mereka untuk dirawat di RS, walaupun harus khawatir dengan kondisi anak mereka yang kondisinya makin lemah.

photo
Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin (kanan) berbincang dengan seorang ibu yang anaknya dirawat akibat terserang demam berdarah dengue (DBD) di bangsal anak RSUD Tc Hillers di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (14/3/2020). - (Kornelis Kaha/ANTARA FOTO)

Sampah

Kasus DBD di Kabupaten Sikka adalah kasus DBD terparah sepanjang secara kejadian luar biasa DBD di daerah ini. Kejadian luar biasa (KLB) DBD di Kabupaten Sikka sebenarnya sudah pernah terjadi pada 2010, 2013, 2016 dan terakhir adalah 2020 ini.

Pada 2016, dalam setahun jumlah kasus KLB DBD yang terjadi di daerah itu mencapai kurang lebih 620 kasus dengan korban yang meninggal mencapai 13 orang. Namun, pada 2020 ini dalam tiga bulan terakhir kasus DBD di kabupaten itu sudah mencapai 1.332 kasus dengan jumlah kematian mencapai 14 orang.

Penyebab utama dari masalah DBD di kabupaten itu lebih pada lingkungan yang tak bersih. Misalnya, drainase yang buruk di Kabupaten Sikka, salah satunya di Kota Maumere itu sendiri. 

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo mengakui hal tersebut. Menurut dia, sampah dan drainase adalah penyebab utama dari kasus DBD yang makin meningkat di kabupaten itu. Dia tak mau menyalahkan siapa-siapa. Sebab yang salah adalah pemerintah dan masyarakat di kabupaten itu sendiri.

“Kasus ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Kita akan perbaiki semuanya mulai sekarang,” katanya. Diogo mengatakan, beberapa anggaran yang tak urgen akan dipindahkan untuk pembangunan drainase agar lebih baik lagi sehingga pada tahun yang akan datang kasus DBD tak terjadi lagi di kabupaten itu.

“Kami juga saat ini merekrut dan melantik 100 tenaga kerja sukarela (TKS) untuk membersihkan sampah-sampah, yang selama ini menjadi sarang nyamuk DBD itu,” ujar dia. Ia berharap agar kejadian itu menjadi pembelajaran berharga bagi masyarakat di kabupaten itu sehingga tak terjadi lagi pada tahun-tahun berikutnya. n


×