Petugas Asuransi melakukan pelayanan kepada custumer di Graha Takaful, Jakarta, Kamis (13/7). Republika/Rakhmawaty La | Dokrep/Rakhmawaty La'lang

X-Kisah

17 Mar 2020, 02:00 WIB

Rencanakan Proteksi dan Investasi

 

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menyampaikan, produk unitlink masih mendominasi. Meski AASI belum menelaah komposisinya, produk proteksi yang disertai manfaat investasi itu diakui lebih populer.

Perencana Keuangan Syariah, Luqyan Tamanni, menyampaikan, instrumen proteksi dan investasi ada baiknya dipisahkan dalam perencanaan keuangan. "Lebih baik terpisah, yaitu proteksi dengan asuransi jiwa atau tradisional dan investasi langsung dengan reksadana," kata Luqyan kepada Republika, akhir pekan ini.

Sebenarnya, kata Luqyan, memilih unitlink  atau asuransi tradisional ditentukan dari kebutuhan nasabah akan produk keuangan dan sisi praktisnya. Maksudnya, jika memang butuh produk investasi plus proteksi, unitlink  memang tepat.

Namun, jika dilihat dari segi manfaat proteksi dan return investasi yang optimal, unitlink  dinilai kurang tepat. Luqyan mengatakan, untuk urgensinya, ia menyarankan asuransi kesehatan lebih mendesak. Bisa melalui BPJS Kesehatan yang wajib saja atau tambahan.

"Apalagi, biaya perawatan kesahatan semakin tinggi," kata dosen di Institut Tazkia ini.

Menurutnya, lebih populernya unitlink  di industri asuransi karena agen asuransi lebih agresif dari 'agen' investasi, seperti reksadana atau saham. Edukasi dan pemahaman menjadi penting untuk seseorang memilih produk keuangan.

Selama ini, masyarakat masih ragu untuk masuk langsung ke reksadana atau saham. Ada rasa takut atau trauma nilainya turun. Masyarakat umumnya masih belum terbiasa berinvestasi yang bisa untung dan rugi. Padahal, nilai portofolio unitlink  di investasinya juga bisa turun.

"Selain itu, unitlink  biasanya main di deposito, sementara reksadana bervariasi, ada di saham, pasar uang, sukuk, dan deposito," kata Luqyan.

Ketua Umum AASI, Ahmad Sya'roni menyampaikan, memang trennya di akhir-akhir ini, unitlink  jadi andalan. Di asuransi syariah, unitlink  punya unsur investasi, proteksi, plus return/hasil investasi.

Untuk kondisi tertentu, investasi syariah memberikan imbal hasil yang lebih baik. "Umumnya, instrumen syariah berikan kepastian imbal hasil yang lebih jelas," kata Sya'roni di sela-sela paparan kinerja industri asuransi syariah di Jakarta, pekan lalu.

Produk unitlink menawarkan proteksi sekaligus investasi. Tingkat suku bunga yang menurun membawa kecenderungan masyarakat untuk beralih ke investasi. Imbal hasil di deposito menurun sehingga masyarakat masuk ke dunia investasi pasar modal.

Faktor literasi dan publikasi yang disampaikan, lanjut Sya'roni, juga berpengaruh besar. Promosi yang masif akan berakibat pada peningkatan portofolio produk. "Kalau kita lihat dari yang ada, satu produk itu dengan promosi yang lebih gencar maka kita bisa melihat kontribusinya cukup signifikan," kata dia.

Terlebih, jaringan distribusi produk juga lebih banyak di agen. Secara umum, kanal disribusi terbesar di asuransi jiwa adalah agen dan banccassurance. Ini berlaku juga di syariah, agen mencapai 60 persen dan sisanya melalui bank. n


×