Foto udara PLTU Tanjung Power Indonesia di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, Rabu (13/3/2019). | ANTARA FOTO

Ekonomi

Penyimpanan Karbon, Bisnis Baru dengan Potensi Besar

Saat ini, Indonesia sudah memiliki 15 proyek CCS yang sedang dikembangkan.

 

JAKARTA -- Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam hal penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS). Kondisi ini memberikan keuntungan bagi Indonesia karena menjadi peluang bisnis yang baru.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi penyimpanan karbon pada bekas reservoir di lapangan migas yang ada di Indonesia diperkirakan mencapai 577 giga ton.  

Direktur Eksekutif Indonesia CCS Center, Belladonna Troxylon Maulianda, mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadikan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan proyek CCS dan menjadikannya sebagai peluang bisnis yang baru di masa mendatang. Faktor pertama, menurut dia, adalah regulasi. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ESG Now (@esg.now)

Ia menjelaskan Pemerintah Indonesia saat ini sangat agresif dalam menerbitkan berbagai regulasi untuk mendukung percepatan implementasi CCS. Apalagi, Indonesia memiliki potensi yang sama dengan Australia. Saat ini, Indonesia sudah memiliki 15 proyek CCS yang sedang dikembangkan. 

“Hal tersebut membuat Indonesia memiliki peluang bisnis yang lebih besar dan dapat menjadi leader CCS hub di kawasan regional,” katanya, Kamis (28/3/2024).

Belladona menyampaikan bahwa teknologi CCS bukanlah hal yang baru bagi perusahaan minyak dan gas. Teknologi tersebut sudah diterapkan oleh para perusahaan migas sejak 40 tahun yang lalu. "Teknologinya sudah mature sebenarnya. Saat ini, kita sedang menunggu cost-nya turun dan memang sekarang sudah mulai menurun," ujar Belladona.

Ia menambahkan, Indonesia dinilai sebagai negara yang paling siap untuk mengimplemantasikan CCS dibandingkan negara di kawasan Asia lainnya. “Indonesia dinilai paling cepat dalam perkembangan CCS dibandingkan negara lain, selain memiliki potensi, dukungan dari pemerintah melalui regulasi juga diharapkan dapat mempercepat implementasi CCS,” ujar dia.

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM Noor Arifin Muhammad mengatakan, posisi Pemerintah Indonesia sudah sangat jelas dalam mendukung penerapan CCS untuk menghadirkan energi yang lebih bersih dan sekaligus mengurangi emisi karbon.  Hal ini ditunjukkan dengan insentif yang diberikan kepada para pelaku usaha yang bersedia menerapkan teknologi CCS.

"Pak Menteri ESDM sudah menetapkan keputusan bahwa biaya CCS dapat masuk dalam cost recover," katanya.

Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) sebelumnya mengungkapkan, Indonesia membuka peluang investasi dalam industri CCS.

“Berdasarkan studi Lemigas mencapai sekitar 600 gigaton , kita bayangkan saja untuk emisi Indonesia per tahun tidak sampai 1 juta gigaton. Berarti kita bisa menyimpan banyak sekali karbon, makanya kita membuka peluang CCS crossborder (lintas batas negara),” ujar Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan dan Maritim dan Energi Kemenko Marves Jodi Mahardi.

photo
Lanskap pemukiman nelayan dengan latar belakang PLTU di Kawasan Muara Tawar Segarajaya, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/8/2023). - (Republika/Thoudy Badai)

Jodi mengungkapkan, sudah ada dua wilayah yang berpotensi dikembangkan untuk mendongkrak industri ini, yakni CCS hub Sunda Asri di Sumatra Selatan dan Cilegon, Banten yang merupakan kerja sama dengan PT Pertamina dengan perusahaan gas dan minyak Exxonmobil.

Proyek lain yang berpotensi dikembangkan yakni Tangguh LNG yang merupakan Carbon Capture Utilization Storage (CCUS) oleh BP Global.

Ia mengatakan, peluang investasi lintas batas negara akan diutamakan dari negara-negara yang telah memiliki kebijakan penghargaan dan hukuman (reward and punishment) dalam penerapan pajak karbon, seperti Malaysia, Singapura, Jepang dan Korea Selatan.

“Mereka mencari peluang untuk melakukan crossborder. Tentunya kita akan menerapkan standard keamanan tertinggi seperti Pertamina, Exxon, dan BP kan sudah melakukan CCS puluhan tahun. Tentunya mereka punya standar keamanan paling tinggi,” ujarnya.

Jodi mengakui, beberapa waktu yang lalu pihaknya melakukan penandatanganan kerja sama dengan Exxon untuk melakukan investasi sektor petrokimia (advanced petrochemical) untuk memproduksi advanced plastic.

Dalam proses produksinya, perusahaan tersebut tengah mencari lokasi strategis yang berdekatan dengan CCS di kawasan Sunda-Asri.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat