Petugas mengevakuasi puluhan warga keluar dari Kampung Muhara yang terisolir akibat jembatan putus di Kecamatan Lebak Gedong, Banten, Ahad (5/1/2020). | ANTARA FOTO

X-Kisah

12 Mar 2020, 02:00 WIB

Membangun Jembatan Harapan di Calungbungur

 

Dua bulan lebih warga Desa Calungbungur, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten menggunakan rakit dan perahu karet untuk menyeberang Sungai Ciberang. Anak-anak sekolah, orang yang sakit, dan hendak melahirkan, serta warga desa terpaksa menggunakan rakit dan perahu karet karena jembatan yang biasa mereka lalui rusak.

Jembatan yang dulu mereka gunakan hancur diterjang banjir bandang pada 1 Januari 2020. Setelah sekian lama warga desa menunggu perhatian pemerintah, jembatan tidak kunjung dibangun. Kondisi ini membuat anak-anak sekolah dan orang sakit yang hendak ke Puskesmas harus menaiki rakit. Bila hujan deras, mereka tidak berani menyeberang karena takut ada banjir bandang lagi. 

Dompet Dhuafa (DD) bersama Shopee dan para donatur mewujudkan harapan warga Desa Calungbungur. DD mengerahkan Disaster Management Center (DMC) untuk membangun jembatan gantung sepanjang 120 meter sebagai penghubung antarkampung di desa berpenduduk 3.400 jiwa itu. 

Kepala Desa Calungbungur, Ahyani menyampaikan, jembatan yang sedang dibangun DD adalah akses penting bagi warga desa dan sekitarnya. Masyarakat setiap hari melintasi jembatan ini sebelum roboh diterjang banjir bandang. 

"Anak-anak sekolah melintasi jembatan ini, masyarakat mondar-mandir lewat jembatan ini juga, jadi menunjang perekonomian masyarakat karena masyarakat yang berdagang menggunakan jembatan ini," kata Ahyani kepada Republika di Desa Calungbungur, Rabu (11/3).

Ahyani juga mengungkapkan keprihatinannya karena banyak warganya yang sakit harus pergi ke Puskesmas menggunakan perahu karet. Warga yang sakit dan hendak melahirkan sangat kerepotan jika tidak ada jembatan ini.

Kalau warga yang sakit masih bisa dibawa menggunakan sepeda motor, ia bisa dibawa melalui jalur yang memutar jauh tapi licin. Namun, bila warga yang sakit harus digotong, tak ada jalan lain kecuali lewat jembatan ini. Selama belum ada jembatan, mereka harus dibawa ke Puskesmas dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu karet.

  "Tapi, kalau jembatan yang sedang dibangun Dompet Dhuafa sudah selesai, bisa yang sakit digotong menggunakan gerobak, pakai motor pun bisa lewat jembatan ini tidak terlalu jauh," ujarnya.

Mewakili warga desa, Ahyani menyampaikan harapan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib rakyat. Meski wilayah tempat tinggal mereka terdampak Waduk Karian, dia berharap tetap ada jembatan untuk warga desa melakukan aktivitas sehari-hari.

Tokoh masyarakat Desa Calungbungur, Juli (52 tahun) mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada DD yang telah membantu warga desa. DD telah mengabulkan dan membangun harapan warga.

"Jembatan ini sangat penting, warga kalau mau ke pasar bisa lebih cepat lewat sini, anak-anak sekolah lewat sini, orang yang sakit mau ke rumah sakit juga lewat sini," ujarnya. 

Tim Response and Recovery DMC Dompet Dhuafa, Eka Suandi, bersama timnya sedang membangun jembatan gantung sepanjang 120 meter untuk warga Desa Calungbungur dan sekitarnya. Pada Rabu (11/3), tampak warga sekitar bergotong royong membantu tim DMC Dompet Dhuafa. Mereka bekerja sama mewujudkan harapan warga.

Pembangunan jembatan gantung dimulai sejak 7 Maret 2020. DMC Dompet Dhuafa menargetkan, pembangunan jembatan selesai selama sepekan bila tidak terkendala cuaca. Namun, cuaca di lokasi pembangunan jembatan hampir setiap hari hujan sehingga ada penyesuaian waktu pembangunan jembatan. 

Eka menyampaikan, ada 13 orang tim dari DMC Dompet Dhuafa yang membangun jembatan ini. Pembangunan jembatan ini juga dibantu konsultan dan warga sekitar.

"Tantangan pembangunan jembatan ini adalah karena sungai sangat lebar, sampai 120 meter, tim agak sulit menarik kabel sling yang panjang, cuaca juga menjadi tantangan ketika hujan khawatir ada banjir bandang lagi, jadi setiap hujan kita berhenti kerja.’’  n 


×